47. Terbongkar

444 45 1
                                    

➶ Sampainya di istana Sanji langsung disuruh menghadap ayahandanya, sepanjang perjalanan di dalam istana para pelayan nampak melihat Sanji dengan beragam ekspresi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

➶ Sampainya di istana Sanji langsung disuruh menghadap ayahandanya, sepanjang perjalanan di dalam istana para pelayan nampak melihat Sanji dengan beragam ekspresi.

"Anda langsung diminta untuk masuk ke kamar Raja judge, pangeran." Sahut Coby.

"Baiklah."

Sanji pun mencoba menarik nafas panjang ketika tepat berada didepan pintu kamar ayahanda nya.

Dan ketika ia masuk, terasa amat dingin di dalam, lampu kamar dimatikan dan sosok yang tertidur di atas ranjang.

"Ayahanda?" panggil Sanji.

Sosok tersebut bangun, selimutnya di sibak dan membalikkan badan nya menghadap Sanji.

Sanji lantas terkejut ketika melihat bukan sosok ayahanda nya melainkan Ichiji, dengan senyum tipisnya menghadap Sanji tanpa rasa bersalah.

"Sanji, lama tak bertemu ya." Itu kata pertama yang keluar dan sukses buat Sanji merengutkan alisnya.

"Kenapa kau yang disini? dimana ayahanda?"

"Duduklah kesini dahulu Sanji." Ichiji menepuk bagian kosong ranjang sebelahnya.

Sanji hanya menurut, ia perlahan naik di atas ranjang dan menunggu Icihiji mulai menjelaskan.

"Sebenarnya ayahanda sudah lama tiada Sanji." Ucapan tersebut soktak buat Sanji terkejut.

"Apa maksutnya ini?"

"Racun yang diberikan oleh Dewa Hephaestus tak bisa ditahan lagi oleh tubuh ayahanda, hanya beberapa anggota pelayan yang tau mengenai hal ini."

"Aku juga tak menyebarkan berita kematian ini kepada rakyat."

"Ya ini semua memang rancana yang dibuat Dewa Ares, aku hanya menjalankannya."

"Sudah kuduga."

"Oh jadi begitu." Sanji sedikit merasa sedih, karena banyak sekali yang harus ia katakan pada ayahandanya, ia juga belum meminta maaf.

"Maaf karena telah membohongimu Sanji."

"Tidak, bukan salahmu, aku yang seharusnya meminta maaf karena membunuh ibunda Ratu, ibumu."

"Sudahlah, itu sudah terjadi tak perlu lagi dipermasalahkan." Ichiji memegang tangan Sanji seolah menguatkan.

"Lantas kau menyamar menjadi ayahanda?"

"Begitulah."

"Bagaimana caranya?"

"Kekuatan Dewa Ares, kau ingin melihatnya?" Tawar Ichiji.

"Tidak, tak usah." Sanji menunduk menahan air matanya sendiri, tak sangka ia akan sesedih ini di tinggal oleh ayahandanya.

"Aku bisa menangis jika melihatnya disini." Sanji mengusap air matanya dengan punggung tangan.

"Jadi tak perlu."

DEMIGOD °zosan ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang