03. Most Wanted

4.4K 76 0
                                        

Saat Bryan dan teman-temannya berjalan menyusuri koridor fakultas mereka, semua mata tertuju pada mereka. Terlebih lagi para mahasiswi yang sedang curi-curi pandang ke arah mereka.

Hingga tiba-tiba ada seorang gadis datang menghampiri mereka dan memberikan hadiah untu Bryan.

"Kak Bryan, aku punya cookies buat kakak. Aku bikin sendiri loh, semoga Kak Bryan suka ya sama cookies buatan aku." ujar gadis dihadapan Bryan seraya menyerahkan setoples kue kering untuknya.

"Hm, thanks." jawab Bryan kemudian menerima kue kering pemberian gadis itu dan berlalu.

Gadis itu adalah salah satu dari banyaknya mahasiswi yang mengagumi ketampanan Bryan dan teman-temannya.

Bisa dibilang mereka bertiga adalah most wanted boys yang dimiliki oleh fakultas hukum. Makanya tidak heran jika selalu ada saja hadiah-hadiah yang mereka terima.

"Enak juga ya jadi orang ganteng. Tiap hari pasti ada aja yang kasih hadiah." ucap Alaric.

"Yoi, Bro. Berasa jadi seleb gue." timpal Matteo.

"Gue tebak pasti hadiah itu bakal lo kasih ke Grace." ujar Alaric tepat sasaran.

Ya, seperti biasa. Jika Bryan mendapatkan hadiah dari para gadis-gadis itu, maka Bryan akan memberikannya pada Grace.

"Ya kalo nggak gue kasih ke dia terus gue kasih ke siapa?" tanya Bryan.

"Kalo kata gue mending jadian aja deh lo pada." timpal Matteo.

"Apa sih! Dikit-dikit jadian. Nggak jelas banget lo." sahut Bryan.

Sesampainya mereka di kantin, mereka segera memesan makanan dan minuman kemudian mereka mengambil tempat duduk.

Baru beberapa menit mereka duduk, ada ketiga gadis datang menghampiri mereka dan masing-masing dari mereka membawa sebuah bingkisan.

"Hai, Bryan! Hai, Alaric! Hai, Matteo!" sapa gadis tersebut yang bernama Jesselyn Christina Hendrawan.

Dia adalah teman satu angkatan Bryan. Gadis itu sudah menyukai Bryan sejak mereka masih menjadi mahasiswa baru. Jadilah tak heran jika Jessie bertingkah seperti sangat akrab dengan mereka.

"Aku duduk di sini, ya?" tanya Jessie, namun belum sempat di jawab mereka bertiga sudah duduk di bangku yang di tempati Bryan dan ketiga temannya.

"Yaelah ngapain lo tanya kalo gitu!" cibir Matteo.

"Ya kan cuma buat formalitas aja sih." ujar Jessie.

"Lo pada ngapain sih duduk di sini? Udah kaya nggak ada tempat lain aja." timpal Alaric.

Jujur saja, sebenernya mereka bertiga sangat risih bila berdekatan dengan Jessie dan kedua temannya. Mereka terlalu berisik dan mengganggu ketenangan mereka.

"Emang kenapa sih? Kan gue mau deket sama Bryan." ucap Jessie dengan nada manjanya.

Mendengar jawaban Jessie, sontak Alaric dan Matteo menampilkan mimik wajah yang seolah-olah ingin muntah.

"Oh, ya. Aku punya hadiah buat kamu. Ini ada coklat, jam tangan, sama parfum buat kamu. Papa aku baru pulang dari Swiss. Jadi aku titip barang-barang ini ke papa buat hadiah kamu." sambungnya sembari menyerahkan hadiah-hadiah yang dimaksud.

"Lo nggak perlu kasih hadiah-hadiah ini buat gue. Gue nggak butuh." sahut Bryan yang tetap santai melanjutkan makannya.

"Aku yang mau kasih. Semoga kamu suka ya? Jangan lupa dipake." ujar Jessie.

"Hm. Kalo gak lupa." sahut Bryan sekenanya.

"Oh, ya. Aku boleh pulang bareng kamu nggak? Soalnya aku nggak bawa mobil hari ini." pinta Jessie.

"Nggak bisa! Gue bareng Grace."

"Grace lagi, Grace lagi. Apa sih kelebihan Grace? Cantikan juga aku." sahut Jessie tak suka.

Bryan selalu menolaknya untuk pulang bersama, sedangkan ia selalu pulang bersama Grace. Apa bagusnya Grace untuk Bryan. Dia lebih baik dari Grace, bukan?

"Cantik kalo nggak menarik percuma sih, ya." ujar Matteo menimpali.

"Enak aja! Gue menarik. Buktinya banyak cowo yang ngejar gue!" bantah Jessie tak terima.

"Rabun kali tu cowo." gumam Alaric.

"Ngomong apa lo barusan?!" tanya Jessie dengan nada yang agak tinggi.

"Ngomong apa emang? Salah denger kali lo." sahut Alaric santai.

"Bryan temen kamu, tuh." adu Jessie pada Bryan dengan nada yang dibuat sedih.

"Lo bisa nggak, sehari aja jangan ganggu gue?" sahut Bryan dengan sorot tajam matanya.

"Kok kamu gitu sih? Kamu nggak peduli liat aku diejek temen kamu?" ucap Jessie dengan mencebikkan bibir.

"Kenapa gue harus peduli? Gue nggak minta lo duduk di sini. Terus kenapa gue harus peduli sama lo, lo bukan siapa-siapa gue!" ujar Bryan sesaat kemudian meninggalkan Jessie dengan kedua temannya.

"Kasian deh ditinggalin." cibir Matteo kemudian menyusul Bryan dan Alaric yang sudah lebih dulu meninggalkan bangkunya.

"Arghh, sial! Kenapa sih susah banget buat dapetin perhatian Bryan?!" ujar Jessie sembari mengepalkan tangannya.

"Sabar, Jess. Lo mungkin harus coba cara lain biar Bryan tertarik sama lo." ucap Rena menenangkan sahabatnya ini.

"Sabar, sabar. Sampe kapan gue harus sabar?!" sentak Jessie.

"Ya mungkin aja lo perlu cara yang lebih halus dari biasanya. Nggak yang terlalu ngejar dia banget gitu." ujar Natalie menimpali.

"Kalo gue nggak boleh terlalu ngejar dia, terus kapan gue bisa dapetin dia? Pake cara yang terang-terangan aja gue belum bisa dapetin dia, apa lagi pake cara yang halus!" sahut Jessie menggebu-gebu.

"Lo perlu ubah strategi kalo gitu." timpal Rena.

"Maksudnya?"

"Ya mungkin lo bisa coba pake cara yang kalem gitu. Kasih dia perhatian-perhatian kecil, tapi jangan sampe bikin dia risih." papar Rena.

"Emang bisa berhasil?" tanya Jessie.

"Ya coba aja dulu." sahut Natalie.

Jesselyn mengangguk menyetujui saran dari teman-temannya. Dia akan mencoba berbagai cara untuk mendapatkan perhatian Bryan.

Sudah dua tahun lamanya ia menyukai Bryan, namun sampai saat ini tidak ada perkembangan sama sekali.

~••••~

GRACIANNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang