Haii, guyssss...
Apa kabar kalian? Aku harap kalian masih stay nungguin Gracianna update ya guyss.
Terima kasih banyak untuk seluruh pembaca Gracianna yang turut meramaikan lapak ini.
Mohon maaf untuk ketidaksempurnaan tulisan, atau alur cerita yang kurang jelas ini.
Semoga kalian tetap menikmati cerita ini sampai tamat yaa🤗
Sending all of the hug and so much love for u guyss🩵
Happy Reading✨
🎀🎀🎀
Sesampainya di parkiran, Bryan dengan sigap membuka pintu mobil tersebut dan membantu Grace untuk duduk dengan nyaman lalu memasangkan seat belt untuk Grace.
"Are you okay, Grace?" tanya Bryan setelah ia masuk ke dalam mobilnya.
"Gue okay kok." sahut Grace dengan napas yang tersengal-sengal.
"You're lying. Kalo nggak kenapa-kenapa terus kenapa mukanya pucet?" tanya Bryan sembari menempelkan telapak tangannya pada dahi Grace.
"Ah, gue nggak apa-apa, Bryan. Mendingan kita pulang sekarang."
Tidak mungkin juga Grace akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Bryan bahwa ia telah meminum obat perangsang yang tercampur pada minumannya tadi.
Dan apa yang akan Bryan pikirkan kalau ia meminta Bryan untuk menuntaskan hasratnya.
Bryan berpikir cukup keras melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Grace. Karena seingatnya sebelum mereka berangkat menuju night club tersebut Grace terlihat baik-baik saja. Namun sikapnya saat ini menunjukkan hal yang berbeda. Ia rasa ada yang salah dengan tingkah Grace saat ini.
Bryan menghentikan mobilnya saat mereka berada di lampu merah dan menoleh untuk memastikan keadaan Grace.
Keringat membasahi kening Grace dengan kedua tangan gadis itu meremat erat di kedua sisi tubuhnya.
"Grace lo sakit?" tanya Bryan panik seraya menggenggam tangan gadis itu.
"Bryan," lirihnya menatap kedua manik Bryan.
"Gue nggak tahan." ujarnya.
"Lo tahan sebentar ya. Gue bawa lo ke rumah sakit." ucapnya sebelum menancap gas untuk segera sampai ke rumah sakit.
"Jangan! Jangan bawa gue ke rumah sakit. Gue nggak sakit." ujarnya dengan napas tersengal.
"Nggak sakit gimana? Lo pucet banget, Grace."
"Gue nggak sakit, Bryan. Gue cuma nggak sengaja minum obat perangsang." lirih Grace.
"A-apa?" Bryan menoleh setelah menurunkan kecepatan mobilnya.
Dia terkejut bukan main saat Grace mengatakan bahwa gadis itu tak sengaja meminum obat perangsang.
"Ada orang yang naro obat sialan itu di minuman gue."
"Lo nggak ada kepikiran kalo gue yang naro obat itu kan, Grace?" tanya Bryan memastikan.
"Nggak! Gue juga tau kalo lo nggak bakal ngelakuin itu."
"Thanks udah percaya sama gue. Lo tahan sebentar lagi ya?" ujar Bryan seraya menambah kecepatan mobilnya.
••••
Sesampainya di pekarangan rumah Grace, Bryan buru-buru menutup pagar rumah Grace dan kembali ke mobilnya untuk membantu Grace.
Bryan menggendong Grace menuju kamarnya dan mendudukkan gadis itu di tepi tempat tidurnya.
"Ah, panas, Bry. Tolong." ucap Grace menatap manik Bryan dengan wajah sayunya.
Bahkan saat ini Grace juga sudah membuka pakaiannya dan yang tersisa hanya pakaian dalamnya.
"What can I do?" tanya Bryan.
Bryan tau jika Grace butuh pelepasan. Namun apakah ia akan melakukannya?
Grace berada dalam pengaruh obat saat ini. Jika ia sudah sadar nantinya apa Grace akan menyesal?
Ah, sial! Bryan bimbang saat ini.
Ia tidak mau jika nanti saat Grace sadar, gadis itu akan marah dan kemungkinan paling parah bahwa Grace akan membencinya. Namun ia juga merasa frustasi saat ini.
"Touch me, please." racau Grace yang saat ini sedang meremas kedua payudaranya sendiri di atas tempat tidurnya.
"Are you sure, Grace?" ujar Bryan lirih.
"Gue udah nggak tahan, Bryan. Tolong."
Bahkan strapped bra yang dikenakan Grace sudah turun hingga ke perutnya dan menyajikan pemandangan yang tidak bisa ditolak oleh siapapun.
Payudara sintal dengan puncaknya yang merekah serta putingnya yang terlihat menegang tersebut seperti memberi sinyal pada Bryan untuk segera menyentuhnya.
Bryan tahu bahwa ia pernah menyentuh kedua bulatan sintal itu, bahkan ia kerap kali memainkannya. Namun saat ini kondisinya berbeda. Meskipun Grace mengizinkan, tapi perempuan itu memberinya izin karena ia sedang berada di dalam pengaruh obat.
Bryan makin frustasi saat melihat Grace semakin liar meliukkan tubuhnya, hingga pakaian yang dikenakan perempuan itu sudah tidak beraturan dengan rok yang sudah terangkat hingga pinggang dan menyuguhkan panties hitam yang kontras dengan kulit putih milik Grace.
Demi Tuhan, Bryan bersaksi bahwa ia hanya pernah memainkan tubuh bagian atas perempuan itu. Tak pernah ia bayangkan bahwa ia akan melihat tubuh bagian bawah Grace dalam keadaan seterbuka ini.
Bryan menghela napas gusar sembari menggigit bibirnya. Siapapun tolong sadarkan Bryan sekarang!
"Grace, ini salah. Gue nggak mau ngerusak lo terlalu jauh." lirihnya pada Grace.
"You are allowed, Bry. I gave you a permission to do that." ucap Grace sembari memohon.
Grace sudah seperti perempuan yang sedang haus akan sentuhan sekarang. Semua terjadi karena orange juice sialan yang ia minum tadi.
Dengan tangan yang gemetar, Bryan mulai menuntun tangannya untuk menyentuh salah satu bulatan padat kesayangannya itu.
"Yeah, please." racau Grace saat Bryan berhasil menyentuh payudaranya.
"Sorry, Grace." lirih Bryan sesaat sebelum ia mulai menikmati keindahan tubuh Grace.
🎀🎀🎀
To be continued...
Next chapter akan ada adegan plus plusnya guyss. Jadi tolong ramaikan vote dan commentnyaa.
Mohon tandai typo dalam bentuk apapun.
Terima kasih sudah mampir🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
GRACIANNA
RomantikGracianna Eleanor Kyle, adalah seorang gadis bar-bar anti menye menye. Selama hidupnya ia tidak pernah memiliki ketergantungan terhadap seorang pria. Bahkan ia belum pernah memiliki kekasih. Namun ia memiliki seorang sahabat yang sedari kecil sudah...
