Halo, Gracianners...
Nggak kerasa juga ya kalau Gracianna udah jadi 30 bagian.
Awalnya author cuma iseng-iseng aja buat cerita ini karena author hobi menulis. Siapa sangka juga kalau pembacanya bisa mencapai 80ribu ++
Terima kasih banyak untuk antusias kalian membaca cerita dengan alur yang kurang jelas ini.
Semoga kalian suka dan tetap mau memberi support untuk cerita ini.
Author mau minta maaf buat kalian yang sudah lama nunggu cerita ini update. Terima kasih atas kebesaran hati kalian yang sudah sangat bersabar nunggu chapter berikutnya.
Perbanyak vote dan comment yaa guyss, biar author makin semangat update.
Love u guys🩷
Happy Reading🤍
🎀🎀🎀
Bryan merebahkan tubuh Grace di atas ranjang besar milik gadis itu dan memposisikan tubuhnya di atas tubuh mungil Grace. Hal pertama yang dilakukan Bryan adalah mencium bibir ranum milik temannya ini.
Tak cukup hanya mencium bibirnya, saat ini tangan Bryan juga ikut bekerja keras untuk segera menuntaskan hasrat Grace yang sedang berada di ujung kenikmatan.
Suara desahan dan decapan keduanya mengalun di setiap sudut kamar yang telah menjadi saksi kedua anak manusia itu saling memberi kepuasan satu sama lain.
Tak berselang lama, Bryan bangkit dari atas tubuh Grace dan melepas kaos yang ia kenakan dengan terburu-buru. Setelahnya ia menindih tubuh mungil itu dengan penuh hasrat.
Bibir lelaki itu mencecap setiap inci kulit mulus Grace, mulai dari hidung, bibir, telinga, leher, bahu, dan berhenti di tempat favoritnya –payudara sintal milik Grace.
"Ah, yesh, Bry." Grace yang mendapatkan perlakuan seperti itu menjadi semakin liar.
Ia pun semakin menenggelamkan wajah Bryan pada payudaranya dan menjambak rambut Bryan pertanda ia menikmati permainan yang Bryan berikan.
Namun hal itu tak bertahan lama. Karena setelahnya Bryan bangkit dari tubuhnya dan hanya memandangi wajah sayu Grace yang sedang dalam pengaruh obat perangsang.
"Why?" tanya Grace dengan lirih.
"Do you want me to touch you, Grace?" tanya Bryan sembari memandang Grace yang sedang memainkan tubuhnya sendiri.
"What are you talking about, Bry?" lirihnya keheranan.
"Lo liat kondisi gue sekarang, dan lo masih tanya pertanyaan konyol itu?" imbuhnya.
"Karena gue nggak mau lo nyesel setelah lo sadar nanti. Grace." ucapnya frustasi.
"Gue nggak mau nyakitin lo. Gue nggak mau ngelakuin hal yang bakal bikin lo nyesel nantinya." lanjut Bryan.
"Gue nggak bakal nyesel, karena lo orangnya." ujar Grace dengan peluh yang membasahi keningnya.
"Are you serious, Gracianna?" lirihnya tak percaya.
"Lebih dari serius, Bryan. Tolong gue udah nggak tahan." ujarnya memohon kepada Bryan.
"Lo janji nggak akan benci gue setelah ini?" tanya Bryan untuk memastikan.
Ia merasa bahwa selama ini ia menjaga Grace dengan sebaik mungkin. Bahkan ia tidak mengizinkan Grace dekat dengan laki-laki lain selain teman-temannya karena ia tak mau gadis itu dimanfaatkan oleh laki-laki yang hanya ingin mendapatkan kepuasan seksual atas tubuh Grace.
Bryan tidak munafik bahwa ia juga mengagumi keindahan tubuh Grace. Tapi ia tidak rela jika Grace bersama laki-laki brengsek yang hanya menginginkan tubuh Grace.
Ia tahu, bahwa tidak sedikit laki-laki yang menjadikan Grace sebagai objek fantasi seksual mereka. Bahkan di antara mereka ada yang terang-terangan menjadikan Grace bahan taruhan.
"Bryan back to earth!" ucap Grace yang sudah berdiri di depannya dengan kondisi tubuh tanpa sehelai benang pun
Bryan makin frustasi melihat Grace yang tidak memakai apapun di hadapannya. Kalau begini, ia tidak janji akan tetap menjaga dan tidak akan melukai gadis dihadapannya ini.
"Lo beneran nggak akan benci gue 'kan, Grace?" tanya Bryan lirih.
"I have no reason to hate you, Bryan." ujarnya.
Jujur kepala Grace saat ini makin pening karena obat perangsang itu, ditambah ia belum mendapatkan kepuasan.
Dengan segala pertimbangan, Bryan kemudian mencecap bibir Grace dan mengangkat tubuhnya menuju ke tengah ranjang.
Bryan menurunkan ciumannya menuju benda kesayangannya dan mulai bermain di sana.
Bulatan padat dengan ujung ranum itu selalu menjadi favoritnya. Ia menekankan, bahwa hanya dirinya lah yang boleh menyentuh benda ini. Hanya dia yang boleh menyaksikan keindahan ini.
Bryan memainkan bulatan sintal itu dengan kedua tangannya. Puncak yang tegak sempurna itu menjadi bukti bahwa pemiliknya sedang terangsang dengan sentuhan kecil yang diberikan olehnya.
"Lo tau, Grace. Gue selalu suka bagian ini." ujarnya sebelum mengulum salah satu puncaknya.
"Hmm, it's yours. Only yours." lirih Grace.
"I want more, please." lanjut Grace seolah membuka jalan.
"Gue nggak mau nyakitin lo, Grace. Gue nggak mau lo benci sama gue."
"I gave you permission. Kita juga udah sama sama dewasa. Gue nggak akan benci sama lo, karena gue yang kasih lo izin." sahut Grace sembari mengelus rambut lebat Bryan.
"Promise me?" ujarnya dengan tatapan memohon.
"I promise you. Bryan." sahut Grace meyakinkan.
"Then, be mine." lirih Bryan seraya menyatukan kening keduanya.
"W-what are you talking about, Bryan?" tanya Grace heran.
"Gue nggak mau setelah lo sadar nanti lo menjauh. Gue nggak mau lo jaga jarak dari gue."
"Gue janji. Kita juga nggak terpaksa 'kan ngelakuin ini?" ucap Grace yang masih sedikit tercengang dengan kalimat Bryan beberapa menit lalu.
"So, will you be mine?" tanya Bryan.
Ia bersungguh-sungguh. Ia tak mau jika mereka melakukan hal ini tanpa adanya hubungan yang jelas. Meskipun mereka menggaungkan kalimat "sahabat sedari kecil" itu tidak cukup untuk dijadikan alasan.
Mana ada sahabat yang saling membagi kehangatan? Mana ada sahabat yang berciuman. Mana yang meniduri sahabatnya? Mana ada sahabat yang merasa tak suka bahkan merasa cemburu ketika melihat sahabatnya berdekatan dengan lawan jenis?
Bryan tahu dan Bryan sadar bahwa ia telah jatuh hati pada gadis ini. Ia ingin selalu berdekatan dengan Grace tanpa perlu mencari alasan. Ia ingin selalu melihat Grace dalam pandangannya. Ia ingin selalu bersama Grace dalam setiap proses kehidupannya. Apapun itu, ia ingin selalu bersama Grace.
"Are you kidding me, Bry?" tanya Grace yang hampir tak percaya.
"Gue serius, Grace! Gue nggak lagi bercanda." sentak Bryan.
Grace mengaggapnya sedang bercanda? Apakah ada orang yang sedang bercanda dalam kondisi seperti ini?
🎀🎀🎀
To be continued...
Hmm, kira-kira apa yaa jawaban Grace?
Apakah diterima? Atau malah ditolak?
What do you think, guys?
Mohon tandai typo dalam bentuk apapun. Kritik dan sarannya diterima. Terima kasih sudah mampir.
See you on the next chapter 🤍
KAMU SEDANG MEMBACA
GRACIANNA
RomanceGracianna Eleanor Kyle, adalah seorang gadis bar-bar anti menye menye. Selama hidupnya ia tidak pernah memiliki ketergantungan terhadap seorang pria. Bahkan ia belum pernah memiliki kekasih. Namun ia memiliki seorang sahabat yang sedari kecil sudah...
