Pukul 15:50
Koridor yang sebelumnya riuh dengan tawa dan obrolan, kini sunyi. Bahkan kantin—markas abadi beberapa murid—ikut terdiam, seolah merasakan akhir dari hiruk pikuk hari itu.
Niko dan Jovian.
Dengan kunci perpustakaan di saku Niko, keduanya melangkah cepat menuju ruang Bu Rita. Suasana lengang mengiringi perjalanan mereka, sampai akhirnya Jovian tak tahan untuk tidak membuka suara.
"Asli, rek! Tadi Kouko marahnya serem banget sumpah!"
Niko hanya menanggapinya dengan senyum miring. "Ck... amatir."
"Tapi serius," Jovian mengerem langkah, menghadang Niko. "Tadi aku liat dia gigit tanganmu, ya?"
Niko mencoba menghindar, tapi Jovian sudah memblokir jalan. Akhirnya, ia menyerah.
"Huh... iya-iya! Dia gigit tanganku. Puas?"
"Sakit gak?"
Niko terdiam sejenak. "Ya... nggak sih," jawabnya pelan, karena rasa yang ditinggalkan gigitan itu bukanlah sakit.
Jovian langsung nyengir. "Cieelah... yang digigit tangan, hati yang kena."
"Jov, ah!" Niko mempercepat langkah, berusaha menyembunyikan rasa malu yang justru membuatnya senang.
Setibanya di ruang guru, Niko masuk lebih dulu. Ia hendak menemui Bu Rita—bukan hanya untuk menyerahkan kunci, tapi juga untuk menanyakan sesuatu.
"Permisi?"
Bu Rita, yang tengah mencatat dengan serius, mendongak. Matanya langsung menangkap sosok penghuni tetap perpustakaan itu.
"Mau apa?" tanyanya lelah.
Niko mengeluarkan kunci perpustakaan dari saku dan meletakkannya di meja. Bu Rita mengambilnya tanpa ekspresi, lalu menyimpannya ke dalam laci. Suasana hening kembali.
Tanpa suara, Bu Rita melanjutkan tulisannya, seolah Niko tak ada di sana.
"Eh... Bu?" Niko akhirnya memberanikan diri.
Bu Rita hanya melirik sekilas. "Apa?"
"Aku mau nanya soal festival nanti."
"Dengaren," jawab Bu Rita singkat tanpa menoleh. Nada suaranya membuat Niko kesal, tapi ia tetap melanjutkan.
"Ibu ada rekomendasi, gak? Soalnya... budget kami cuma delapan ratus lima puluh ribu."
Bu Rita langsung berhenti menulis dan memandangnya, heran. "Hah? Banyak amat?"
"Kami juga patungan, Bu," jawab Niko, gugup.
"HA?!"
Bu Rita berdiri kaget. "Jangan bohong! Emang OSIS ngasih kalian berapa?"
Niko sempat ragu, namun akhirnya menghela napas. "Awalnya lima ratus ribu, tapi..."
"Tapi apa?" Bu Rita makin penasaran.
"Pas Nindy datang ke perpus, dia ngabarin kalo dananya dipotong jadi empat ratus ribu."
Bu Rita terdiam, sulit mempercayai yang ia dengar.
"Terus... kalian terima gitu aja?" tanyanya dengan suara lebih pelan, namun tetap sarat emosi.
Niko mengangguk, enggan, tapi jujur. "Iya."
Untuk sesaat, tak ada yang bicara. Bu Rita tahu ketidakadilan seperti ini sering menimpa ekskul kecil, tapi tetap saja... hal ini membuatnya marah.
Namun satu hal yang belum ia pahami: mengapa mereka sampai nekat memakai uang pribadi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Book [Rewrite]
Teen FictionSetelah dapet izin dari author aslinya, Wulan bakal revisi ni cerita jadi lebih menarik lagi, hehe. Jangan lupa pantengin aja terus, ya! Pokoknya bakal Wulan Revisi habis-habisan❤️❤️❤️ Niko Dheiman, remaja introvert yang menemukan kenyamanan di perp...
![Forbidden Book [Rewrite]](https://img.wattpad.com/cover/351357539-64-k311162.jpg)