Sakiya berjalan ke kamar ibunya. Ingin melihat adik kecil manisnya. Namun, pemandangan di koridor membuatnya berhenti. "...."
"Ayah, apa yang sedang kamu lakukan?" Sakiya melihat Syura yang menghadap tembok dengan kepala tertunduk <( ̄︶ ̄)>
Tubuh Syura menegang. Dan perlahan menoleh ke arah suara. "..." Habis sudh citra mulianya!
Sakiya mendekati ayahnya. Dan tersenyum. "Ayah di hukum ibu menghadap tembok? Berapa lama?"
"...diam."
Sakiya tertawa sedikit. "Kesalahan apa yang di buat mu yah, hingga ibu menghukum mu?"
Syura mengangkat bahunya. Tanda tidak tau. Lalu menatap Putri sulungnya. "Sakiya."
Sakiya yang di panggil merasa firasat buruk.
"Merendahkan ayah, dan menanyakan pertanyaan yang seharusnya tidak di tanyakan. Kmu di hukum, menghadap tembok di sebelah ku." Titah Syura dengan wajah sombong dan tak terbantahkan.
Sakiya mendelik. "Ayah, jangan menyeret orang lain."
"Hum. Tidak peduli. Kamu di hukum. Tidak boleh membantah. Hukuman mu selama ayah di hukum. Jika hukuman ayah selesai, maka hukuman mu juga selesai."
Sakiya memutar bola matanya dengan malas. Melihat sekeliling. Kosong. Lalu melirik ayahnya yang murah. "Tidak. Aku tidak salah. Juga, ayah, di sini sudh kosong. Dan tidak ada yang akan melihat keadaan memalukanmu. Jadi, tidak perlu menyeret ku. Lalu, aku akan masuk. Dah ayah!"
Dengan secepat kilat Sakiya membuka pintu dan masuk meninggalkan Syura di luar dengan wajah pahitnya.
"Bu!" Panggil Sakiya.
Inari menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. "Di malam hari, sangat jarang kamu menemui ku. Ada apa?"
Sakiya tersenyum. "Bu, apakah aku tidak boleh mencari mu ketika gelap?"
"Humph, biasanya, kalian ayah dan anak sama saja."
Sakiya tertawa kecil. Mendekati ibunya. "Sakura tidur?" Melihat adik kecilnya tertidur pulas di pangkuan ibunya.
Wajah Inari melembut. "Ya, baru saja tertidur." Lalu kembali menatap Putri sulungnya. "Ada masalah apa?"
"...." Tak berdaya. "Bu, apakah pandanganmu terhadap ku tidak terlalu jelek? Aku putri mu."
"Ya, itulah kenapa aku tau kelakuan mu." Jawab Inari tepat sasaran.
Sakiya tertegun. Lalu tertawa pelan. "Bu~"
"Hmm"
Dengan wajah tersenyum Sakiya berkata. "Apa yang di lakukan ayah hingga ibu menghukumnya berdiri menghadap tembok?"
Inari mengangkat kelopak matanya. "Dia masih berdiri di depan?"
Sakiya mengangguk. "Ayah terlihat menyedihkan. Tidak bisakah dia di maafkan Bu?"
Inari mendengus. "Tidak ada yang menyuruhnya berdiri di depan. Itu kemauannya. Jika dia sangat suka berdiri menghadap tembok. Maka dia bisa berdiri selama dia suka."
"...." Apakah ayahnya sangat bodoh? Tidak di suruh berdiri menghadap tembok. Tapi..ayahnya yang murah dengan suka rela berdiri dengan inisiatif nya sendiri?
Sakiya berfikir sebentar. Hmm Sepertinya, ada hukuman lain dari ibunya. Tapi ayahnya yang murah dengan inisiatif lebih memilih berdiri menghadap tembok, mengorbankan citranya yang agung dan mulia dari pada hukuman yang di berikan ibunya. Kira-kira..hukuman apa yang di berikan ibunya hingga ayahnya mengorbankan citranya? Hmm sangat penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Otsutsuki Sakura
RandomCerita tentang Otsusuki Sakura yg bakit di tengah perang berlangsung. 🥀🥀🥀 Sakura menutup mata. "Inikah yang ingin kau perlihatkan kepada ku? Alasan kau membangkitkan ku? Ingin aku membantu mereka? Tidak kah kau lihat, akibat perbuatan yang kau la...
