36 Flashback 19

85 8 0
                                        

Perpustakaan.

"Kamu menemukan nya?"

"Belum yang mulia."

Sudah dua hari, tapi masih belum menemukan nya..
Sakura kembali mencari.

Meiko menatap punggungnya. Kemudian dengan ragu berkata. "Yang mulia..apakah anda merasa aneh, bagaimana bisa seorang pelayan tau hal yg begitu rahasia? Dan bagaimana bisa kebetulan bertemu dengan anda di sana? Apakah menurut anda ini sebuah jebakan untuk anda?"

Punggung Sakura menegang sejenak. Menurunkan kelopak matanya, dengan gerakan pelan tangannya tetap mencari gulungan. "Entah apakah ini jebakan atau bukan. Cari saja,"

"...yang mulia, apakah anda tidak takut?"

Gerakan Sakura terhenti. Dia mengambil gulungan berwarna biru yang misterius. Dengan mata penuh cahaya tekad. "Takut? Apa yg perlu di takutkan. Bahkan jika ini sebuah lubang jebakan, jika benar informasi nya benar, maka aku takkan ragu untuk lompat kedalamnya." Kemudian dia membuka gulungan biru yg misterius tanpa kesusahan.

Aneh..

Gulungan itu berisi sebuah gambar dan kalimat yang lumayan panjang. Mata Sakura tertuju pada gambarnya. Sebuah tanaman dengan 7 Daun yang indah.  "Ini dia."

Meiko berhenti mencari, lalu mendekat, dan melihat apa yang dilihat Sakura. "Ini.. benar-benar ada.." tercengang.

Ini aneh.. bagaimana bisa aku begitu mudah membuka gulungan yang berisi informasi yang di rahasiakan? Kecuali...ada yang membukanya terlebih dulu sebelum aku...Bagaimanapun. Informasi ini benar. Nenek.. aku pasti akan menyelamatkan mu.

"Ayo pergi." Kemudian keduanya menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Setelah mereka pergi, sebuah bayangan muncul dari sudut. Kemudian dengan cepat menghilang.

Di kediaman Sakura.

"Meiko, pergilah siapkan persiapan nya. Jangan sampai ada yang tau tentang pergerakan mu."

Meiko mengangguk, kemudian menghilang.

Pikiran Sakura melayang. Entah berapa lama, hingga sebuah ketukan pintu menyadarkan nya.

"Siapa?"

"Ini aku."

Mendengar suara itu, Sakura dengan cepat menyimpan gulungan biru. Kemudian membuka pintu. "Kakak, baik sekali~ bagaimana keadaan nenek? Sudah 3 hari aku tidak mengunjunginya. Membuat ku rindu."

Sakiya melirik Sakura kemudian masuk dengan tenang di ikuti Sakura.
"Oh, aku pikir kamu sedang sibuk. Apa yang kamu lakukan selama 3 hari ini?"

Sakura tersenyum. "Di kamar. Mempelajari ilmu dari para tetua."

Melihat wajah tanpa cacat itu. Sakiya menghela napas. Mengambil teh yang di tuangkan Sakura. Melihat bayangan nya di gelas kecil. "Sakura, ku harap kamu tidak melakukan sesuatu sendirian."

Sakura terdiam. Tidak menjawab.

Kemudian Sakiya berbicara lagi. "Jikapun kmu melakukan sesuatu, ceritakan pada kakak mu ini oke? Jangan lakukan sendiri." Wajahnya penuh dengan sendu. Memikirkan apa yang dilihatnya di masa depan.

Wajah di depannya..penuh dengan darah dan luka.. Sakiya menutup matanya menyembunyikan emosi kesakitan yang ada.

Tangan Sakura ter-ulur menggenggam tangan Sakiya dengan lembut. "Kakak, aku tidak tau apa yang kmu pikirkan hingga membuat mu gelisah. Tapi kakak, jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Mungkin bintang-bintang itu memengaruhi, tetapi tidak menentukan."

Otsutsuki SakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang