Pagi-pagi sekali, Sakiya berjalan ke arah pengadilan.
Di tengah jalan dia bertemu dengan beberapa orang yang tak terduga.
Berhenti sejenak. "Selamat pagi bibi." Sapanya dengan sopan.
Shisiya menatap keponakan 'tersayang'nya. "Menuju pengadilan?"
Sakiya mengangguk. "Ya, ada beberapa hal yang harus di laporkan pada ayah."
Shisiya mengangguk. Lalu berjalan melewati Sakiya di ikuti beberapa mentri di belakangnya.
Ketika seseorang melewatinya. Sakiya langsung menangkap lengan seseorang dengan cepat. "Berhenti untukku, Sakuya."
Ya, orang yang di cegah Sakiya adalah Sakuya.
Shisiya berhenti sejenak. Melirik kebelakang. "Sepertinya kalian bersaudari ada hal yang ingin di ucapkan. Aku tidak akan mengganggu. Sampai jumpa di pengadilan."
Dengan itu, Shisiya meninggalkan Sakiya dan Sakuya berdua.
Melihat bibinya hilang dari pandangan. Sakuya menyentak tangan Sakiya. Dan tidak berbicara.
Sakiya mengerutkan keningnya. Menatap Sakuya dengan mata Byakugannya. "Kenapa begitu dekat dengan bibi? Bukankah aku sudh bilang, jangan terlalu dekat dengan nya."
"Bukan urusanmu jika aku dekat dengan bibi. Sibukkan saja dirimu dengan urusanmu, jangan ikut campur dengan hidupku." Dengan itu Sakuya berjalan pergi.
Namun kembali di cegah oleh Sakiya. Dia menarik Sakuya ke depan wajahnya. Dan memegang erat bahunya. "Dengar, urusanku ada hubungannya dengan mu. Dan hidupmu.. kamu adalah adikku! Jadi, apapun masalahmu, itu juga masalahku."
Kemudian Sakiya melanjutkan. "Apapun masalahnya, jangan pernah dekat dengan bibi. Dia berbahaya. Jauhkan dirimu darinya. Ingat itu."
"Apanya yang berbahaya! Dia sangat baik padaku! Kamu! Jangan pernah ikut campur dalam urusanku! Walaupun kamu adalah kakakku, tapi aku tidak menyetujui dirimu ikut dalam urusanku!" Tekan Sakuya.
Sakiya tersenyum dan berkata. "Aira."
Seorang wanita dengan topeng di wajahnya tiba-tiba muncul. "Aira hadir yang mulia."
"Bawa adikku Sakuya ke kamarnya. Akhir-akhir ini pikirannya kacau. Jadi butuh waktu untuk menenangkan diri. Tampa izin dariku, dia tidak di perbolehkan keluar selama 7 hari penuh. Dan tidak di perbolehkan orang luar, kec, ayah ibu dan nenekku untuk menjenguknya. Kawal ketat kediamannya." Ucap Sakiya masih dengan wajah tersenyum.
Aira, tangan kanannya. Mengangguk patuh. Dan cepat mengikat Sakuya dengan tali merah.
Sakuya marah. "Berani! Lepaskan aku!"
Sakiya melambaikan tangannya. "Pergi."
Aira mengangguk. Lalu menghilang bersama Sakuya yang marah.
Berbalik. "..." Sakiya menatap Mentri kanan yang juga menatapnya. "..maaf membuat lelucon di depan menteri kanan."
Mentri kanan menggeleng. "Tidak. Apa yang kamu lakukan sudh benar. Tidak salah membawa payung sebelum hujan."
Sakiya hanya tersenyum. "Apakah Mentri kanan ingin ke pengadilan juga?"
Mentri kanan mengangguk.
"Kalau begitu mari berjalan bersama."
Di kediaman Mentri kanan.
Shira menatap pohon kecil di halaman luar kamarnya.
Pohon kecil itu agak mirip dengan pohon yang di permasalahkan. Tapi berbeda. Pohon di depannya, adalah pohon biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Otsutsuki Sakura
RandomCerita tentang Otsusuki Sakura yg bakit di tengah perang berlangsung. 🥀🥀🥀 Sakura menutup mata. "Inikah yang ingin kau perlihatkan kepada ku? Alasan kau membangkitkan ku? Ingin aku membantu mereka? Tidak kah kau lihat, akibat perbuatan yang kau la...
