"Putri Agung, umur Putri Sakura blum memenuhi persyaratan untuk pertarungan. Dan ini sudh merupakan hal yang luar biasa di umurnya bisa mengembangkan suatu wilayah hingga mencapai kemakmuran. Dan jangan lupakan hari kelahirannya." Tekan tetua ke enam.
Shisiya kembali mencibir. "Tidak memenuhi persyaratan? Bukankah untuk memimpin suatu wilayah juga memiliki suatu persyaratan? Dan kalian melanggar itu untuknya. Jadi kenapa ketika sampai di babak akhir kalian mematuhi aturannya? Keberpihakan kalian terlalu jelas. Apakah kalian menganggap kedua keponakan ku yang lain sebagai lelucon!?" Marah Shisiya seraya berdiri.
Membuat aula menjadi tegang.
Para tetua semakin tidak senang. "Putri Agung apakah anda benar-benar menentang keputusan ini?"
"Hah, kenapa? Ingin mengancam ku lagi? Sayangnya, dengan apa kalian ingin mengancamku kali ini?" Mata Shisiya menjadi dingin sedingin es.
Melihat ini Syura tidak tahan. "Cukup!Duduklah di kursi kalian masing-masing."
Shisiya menurunkan kelopak matanya sedikit, menutupi niat membunuh yang sangat dalam.
Syura menghela napas lelah. Melihat ketiga putrinya di depan. Wajah mereka memiliki sedikit perubahan. Selain semakin cantik tentu saja semakin dewasa. Perubahan terbesar terdapat pada putri kedua dan bungsunya.
Sakuya banyak berubah, semakin terkendali. Tenang dan menutupi emosinya dengan baik. Sayangnya..mata tidak bisa berbohong. Syura merasakan sakit di hatinya.
Kemudian mengalihkan pandangan pada putri bungsunya yang manis. Syura merasakan perasaan lebih sakit dan pahit di hatinya. Bagaimana tidak. Wajah yang seharusnya tersenyum bebas menikmati masa kecil yang bahagia kini tidak ada.
Wajah yang tenang tampa emosi terlihat.. namun matanya yang lelah tidak bisa disembunyikan.
Hatinya sakit. Bagaimana bisa putri kecilnya seperti ini? Tidak seharusnya seperti ini..
Syura menutup matanya sejenak, kemudian membuka matanya. "Sakura, apa pendapatmu tentang masalah ini?"
"Yang mulia!/yang mulia!" Suara tetua dan Shisiya terdengar lagi. Tidak setuju, tentu saja.
"Bagaimana bisa keputusan di ambil olehnya?" Ucap Shisiya
"Ya, yang mulia. Putri Sakura masih belum mengetahui yang baik untuknya." Saut para Tetua.
Shisiya melirik para tetua. Kemudian kembali mencibir. "Hah, kenapa tidak dikatakan saja bahwa dia masih muda. Jadi tidak bisa mengambil keputusan sebesar itu."
"Putri Agung-"
"Berhenti berdebat!" Syura tidak senang dengan suara itu. Dengan mata dingin dia berkata. "Disini akulah rajanya. Atau..kalian?"
Mereka terdiam. Dan kemudian duduk kembali di bawah mata dingin Syura.
"Sakura. Aku bertanya padamu." Syura kembali menatap Sakura.
Sakura terdiam. Dengan banyaknya mata tertuju padanya.
Ada mata yang bersemangat, penasaran, cinta,berharap, dan kasih sayang.
Dan ada mata yang menatap dengan dingin dan..benci.
Dia tau itu. Terkadang, dia benci perasaan peka ini.
Sakura menatap Ayahnya. Mengepalkan tangannya. Sekali saja..
"Ayah, aku tidak menginginkannya."
Bagaikan bom yang di ledakan, membuat suara yang mematikan di keheningan.
"Yang mulia!/putri Sakura!/cucuku!" Semua suara tidak setuju dengan ucapan Sakura.
"Hahaha..lihat~ dia tidak menginginkan nya. Apakah kalian akan memaksa kehendak nya?" Kata Shisiya dengan nada menggoda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Otsutsuki Sakura
AcakCerita tentang Otsusuki Sakura yg bakit di tengah perang berlangsung. 🥀🥀🥀 Sakura menutup mata. "Inikah yang ingin kau perlihatkan kepada ku? Alasan kau membangkitkan ku? Ingin aku membantu mereka? Tidak kah kau lihat, akibat perbuatan yang kau la...
