19. Flashback 2

183 11 0
                                        

Di sebuah ruangan yang elegan.

Seorang wanita yang seperti berumur 40 tahun. Dengan wajah tegas, rambut putih dengan tanduk di kepala nya yang berpola rumit, serta mata hijaunya yang tajam. Itu, Otsusuki Shireya.

Di depannya, duduk Inari dengan wajah lembut. Di sisi kanan dan kirinya terdapat kedua putrinya. Sakiya dan Sakuya.

"Sepertinya malam ini." Ucap Shireya seraya melirik perut besar Inari.

Inari tersenyum, "ya Bu, aku juga merasakannya."

Sakuya dan Sakiya menatap perut ibunya, dengan ekspresi wajah yang berbeda. Sakuya dengan wajah semangatnya sedangkan Sakiya dengan wajah penuh kerumitannya.

Menatap wajah Sakuya yang bersemangat mata penuh dengan bintang. Bisakah wajah itu tetap mengeluarkan ekspresi yang sama ketika ini lahir..

Sakiya menutup matanya. Adengan yang penuh dengan darah terlintas di pikiran nya. Membuka mata dengan perlahan, byakugannya kembali normal. Tampa sepengatahuan yang lain.

Mengepalkan tangannya dengan erat. Menatap Neneknya.

Mungkin Shireya merasakan tatapan itu. Jadi dia melihat. "Ada apa? Kemarilah."

Sakiya mendekati Shereya.

"Ada apa?" Shireya bertanya dengan tersenyum ramah.

Sakiya tidak langsung menjawab. Menurunkan kelopak matanya. "Nenek..jangan sakit." Ucapan nya yang penuh dengan nada agak sedih.

Tidak ada yang bisa melihat emosi di matanya.

Jadi mengabaikan nada sedihnya. "Hhh, ya, nenek tidak akan sakit. Jangan khawatir." Shireya dengan senyum lebar. Senang dengan kekhawatiran cucu tersayangnya.

Mereka berbincang-bincang, kec, Sakuya dengan wajah sopan dan patuhnya. Dia takut, ketika menjawab nanti, pasti akan di ajari oleh neneknya tersayang <( ̄︶ ̄)> jadi, lebih baik memilih diam.

Tak terasa sore tiba. Hujan deras tapi matahari masih terlihat. Sakiya menatap luar. Hujan..darah..dan pelangi. Ini saatnya!

"Ugh.."

"Inari!/Bu!" Shireya dan Sakuya menatap cemas Inari.

Sementara itu, Sakiya dengan gesit keluar. Dan berteriak. "Ayah! Ibu akan melahirkan!"

Mendengar itu semua yang di istana menjadi kacau. Mana hujan turun dengan derasnya.

Di sebuah ruangan bersalin.

"Ugh..sakit!" Inari memengang perutnya sambil berteriak sakit.

"Tidak apa, tidak apa. Tidak akan sakit lagi. Bertahan oke?" Hibur Syura.

Di sampingnya. Shireya terus mengalirkan cakranya pada Inari. Dan beberapa orang yang membantu persalinan. "Sebentar lagi, Yang Mulia!"

Di luar pintu.

Sakiya, Sakuya, beberapa bangsawan, prajurit, pelayan semuanya berlutut di tanah.

Sakuya mendengar teriakan ibunya. Mengepalkan tangannya. "Ibu.."

Sakiya memeluk Sakuya. Dan menepuk bahunya. "Tidak apa-apa, ibu kuat, itu akan baik-baik saja. Dan adik kecil...akan selamat."

Walaupun menghibur Sakuya. Tatapan Sakiya menatap Matahari yang sebentar lagi terbenam. Namun hujan masih turun dengan deras.

Tiba-tiba, sesuatu terjadi. Bersamaan dengan tangisan bayi. Hujan berhenti. Dan pelangi terlihat.

Tumbuh-tumbuhan bermekaran. Bunga-bunga yang harusnya tidak mekar menjadi bermekaran dengan indah. Dan semua hewan, baik yang di pelihara maupun liar. Tiba-tiba menatap ke arah istana. Dan berlutut. Seakan-akan menyambut ratu mereka. Sedangkan burung merpati putih, ratusan terbang mengelilingi sebuah bangunan, yang tidak lain adalah bangunan bersalin.

Otsutsuki SakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang