28 Flashback 11

72 9 0
                                        

Tahun-tahun telah berlalu. Dan tak terasa 5 tahun sudh terlewat.

Sekedar informasi umur.
Sakura 7 thn
Sakiya 23 thn
Sakuya 20 thn
Shira 15 thn

Di aula yang besar.

Terdapat seluruh bangsawan, Mentri, tetua dan keluarga kerajaan tentunya.

Di atas tahta, Syura dengan wajah dingin melihat ke bawah dengan aura agungnya. Di samping kanannya, Shireya, di sebelahnya Sakura. Dan di sisi kiri Syura ada Inari, di sebelahnya ada Sakiya dan di sebelahnya duduk Sakuya.

Di sebelah kanan, terdapat para menteri dan penjabat. Sedangkan di sisi kiri terdapat para tetua, keluarga kerajaan, dan para bangsawan.

Di tengah aula. Terdapat sekelompok orang menari, dan memainkan musiknya. Tentu saja acara jamuan ini adalah acara untuk merayakan keturunan murni yang akan memimpin wilayah-wilayah yang akan di pimpin mereka untuk beberapa tahun kedepan.

Kepemimpinan mereka akan menentukan Pewaris yang sebenarnya. Tentu saja, bukan hanya itu, setelah memimpin wilayah, para calon Pewaris akan battle, bertarung di arena terbuka dan disaksikan oleh seluruh Otsusuki yang ada. Menang kalah, akan di tentukan di sana. Di Arena Pertarungan Calon Pewaris Sejati.

Di tengah perjamuan. Syura tiba-tiba berdiri. Dan mengangkat sebelah tangannya.

Sekelompok orang yang menari, memainkan musik dll. Berhenti, dan mengerti, mereka dengan tenang mundur dari aula.

Melihat semuanya tenang. Dan memperhatikannya. Syura angkat bicara. "Kalian mungkin sudh tau, tujuan dari perjamuan ini."

Melirik ke arah Sakiya dan Sakuya sejenak, lalu kembali bicara."Di pertemuan kali ini, aku akan membagi wilayah, yang akan di pimpin oleh Putri-putri ku. Sebagai ujian untuk mereka.

Yang memimpin paling baik, wilayah yang aku berikan pada mereka. Itu berarti selangkah menuju tahta yang sekarang ku duduki."

Mereka semua mendengarkan dengan baik. Tampa menyela.

Seseorang tiba-tiba muncul di sebelah Syura. Dan menyerahkan sebuah gulungan bewarna merah. Lalu menghilang.

Dihadapan mereka, Syura membuka gulungan itu. "Di gulungan ini, terdapat nama, dan wilayah yang akan di pimpin oleh Putri-putri ku. Yang di putuskan oleh para tetua agung tampa memihak dari salah satu mereka. Yang disebut namanya, majulah, dan berdiri di tengah aula."

Sebelum memanggil nama di gulungan itu, Syura sekali lagi melirik ke kirinya, melihat Sakiya dan Sakuya. Ekspresi nya rumit.

"Apa yang kau tunggu Syura? Cepat, panggil nama mereka yang akan mengikuti ujian ini. Aku dan mereka semua tidak sabar mendengarnya." Ujar Shireya dengan sedikit semangat.

Syura mengangguk. Dan dengan wajah tenang dia memanggil- "Otsusuki Sakiya. Akan memimpin wilayah Selatan."

Mendengar namanya disebut. Sakiya berdiri dan perlahan jalan, menuju di tengah aula dengan tenang.

"Otsusuki Sakuya. Akan memimpin wilayah Barat."

Mendengar namanya, Sakuya dengan anggun berdiri dari tempat duduknya. Dan berjalan ke tengah aula. Dan berdiri di samping Sakiya. Melirik Bibinya yang duduk dengan wajah tenang.

Wajah Sakuya menahan kegembiraan. Menatap Ayahnya. Yang di depannya.

Sedangkan Sakiya, dengan tenang menatap Ayahnya yang dari tadi melirik dia dan adiknya Sakuya.

Agak lama.. Syura terdiam. Dia tidak menutup gulungan yang ada di tangannya. Dengan suara tenang dan sedikit berat. Syura berkata. "Terakhir.."

Mendengar itu, tubuh Sakuya membeku. Dia tiba-tiba merasa firasat buruk. Terakhir? Siapa!?

"Wilayah Utara. Akan di pimpin oleh...

Otsusuki..Sakura."

"Apa!? Tidak mungkin!" Sakuya dengan refleks berteriak tidak percaya.

Sakiya menundukkan kepalanya, dan menutup matanya. Ekspresi pahit samar muncul di wajahnya.

Para penjabat dan bangsawan saling berbisik. Sedangkan para Mentri, tetua dan keluarga kerajaan hanya diam. Mereka mengerti, jadi mereka tidak mengatakan apa-apa.

Berbeda dengan semuanya. Shireya tertawa. Dan menepuk kepala Sakura yang masih memiliki tanduk. Wajahnya bingung. "Apa yang kamu bingung kan? cepat berdiri dari tempat dudukmu dan berjalanlah ke depan."

Sakura menatap kedua orang tuanya. Inari tersenyum, sedangkan Syura mengangguk. Dengan hati yang ragu, Sakura berdiri. Namun, belum sempat mengambil langkah pertama.

Suara marah terdengar. "Tidak! Dia masih kecil! Apakah kalian bercanda denganku!? Bersaing dengan anak umur 7 tahun! Tidak! Aku tidak setuju!"

Sakuya marah! Beberapa tahun terakhir ini, dia tenang karna memikirkan umur adiknya yang masih muda. Dan berfikir, dengan umur adiknya itu, Sakura tidak bisa mengikuti ujian ke kemimpinan wilayah! Karna umurnya yang masih sangat! Muda! Jadi, karna pikiran inilah dia tenang dan tidak pernah membuat masalah.

Tapi sepertinya dia salah! Terbukti dengan para tetua Bangka itu! Mereka masih memilih adiknya! Yang bahkan belum berumur 18 tahun!!

Para tetua agung mengerutkan kening mereka. Tidak senang dengan komentar dari Sakuya.

"Sakuya, Diam. Ini bukan saatnya kmu berkomentar. Apa yang sudh di putuskan oleh para tetua agung tidak boleh di pertanyakan. Karna keputusan mereka tidak memihak, dan seadil-adilnya." Ujar Sakiya mencoba untuk membuat Sakuya diam. Tapi tidak.

Sakuya semakin marah mendengar itu. "Kamu setuju!? Kamu gila! Apakah kamu benar-benar akan bersaing dengan anak umur 7 tahun!? Lihat dia!" Menunjuk ke arah Sakura.

"Dia bahkan belum berumur 18 tahun! Apa yang bisa di lakukan oleh anak berumur 7 tahun!? Mungkin dia hanya akan memporak-porandakan wilayah Utara!"

"Sakuya!" Shireya marah. "Tutup mulutmu itu. Cucuku Sakura, aku tau dia. Dia bahkan bisa lebih bijak darimu."

Sakuya menggertakkan giginya. "Aku tau, nenek akan memihak cucu kesayangan nenek. Atau bahkan jangan-jangan, neneklah yang menyuap para tetua agung untuk membiarkan Sakuya ikut dalam ujian ini!?"

"Sakuya!"

Plak!

Hening...

Sakuya menutup pipinya. Matanya melotot tidak percaya. "Kmu-"




Otsutsuki SakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang