"Bu!" Teriaknya ketika melihat sang ibu.
Seorang wanita dengan jubah putih, rambut pink pudar, hampir putih. Serta tanduk di kepalanya, yang seperti kelinci. Dengan mata byakugan yang indah ia menatap Putri nya dengan lembut. Setiap gerak dan geriknya sangat anggun dan elegan. "Jangan lari."
Mendengar itu, Sakuya kecil langsung berhenti. Dan berjalan dengan pelan dan anggun. Penuh dengan citra seorang putri.
Melihat Sakuya yang seperti itu, Inari, Sang ibu tertawa kecil. "Dasar. Apa yang terjadi? Mengapa berlari seperti itu?"
"Bu! Lihat! Aku bisa menghidupkan pohon yang sudh mati ini! Apakah aku hebat( ꈍᴗꈍ)?" Ucapnya sambil membusungkan dada. Banga.
Inari tersenyum. Mengelus kepalanya. "Hebat."
"Ada apa? Sangat heboh?" Seorang pria tampan dengan netra hijau, berambut putih khas Otsusuki. Masuk di ikuti seorang gadis yang berumur 15 tahun.
"Ayah!" Sakuya menatap ayahnya dengan mata berbinar. Ketika melihat ayahnya sudh duduk di samping ibunya. Ia langsung bekata. "Lihat!" Menunjukan pohon sakura. "Aku berhasil menghidupkan pohon mati ini!( ꈍᴗꈍ)"
Melihat wajah bangga putrinya. Syura, tersenyum tipis. Mengacak rambut Sakuya dengan gemas. "Bagus."
Sakuya cemberut, "jangan mengacak rambutku, ayah!"
"Baiklah-baiklah." Dengan mata tak berdaya.
Inari tersenyum melihat itu. Lalu kembali melihat putri tertuanya. "Sakiya, apa yang telah kamu pelajari hari ini?"
Sakiya yang ditanya melihat ibunya dengan lembut. "Mencoba membuka ruang dimensi Bu."
"Apakah berhasil?"
"Tentu saja, dia putriku." Jawab Syura.
Sakiya tersenyum.
"Ah! Ayah! Aku juga ingin mempelajari! Ajari aku, ajari aku!" Sakuya dengan semangat tampa di segaja hampir menumbruk ibunya Inari.
Dengan reaksi cepat, Syura melayangkan putrinya.
"Aaaa! Ayah! Apa yang kamu lakukan!? Turunkan aku!" Sakuya memberontak di langit-langit.
Syura tersenyum. "Oke. Maafkan ayah." Lalu menurunkan Sakuya.
Sakuya cemberut. Ketika ingin menggrutu, ia melihat tatapan lembut ayahnya menuju perut sang ibu.
Melihat itu, Sakuya mengerti dengan cepat. "Bu, perutmu.."
"Kita akan memiliki adik." Sela Sakiya.
Sakuya menatap terkejut ke arah Sakiya. Melihat mata byakugan yang murni itu, serta rambut yang mirip dengannya. Pink. "Kamu tau!? Kapan? Kenapa aku tidak tau!?"
Sakiya mengangkat bahunya acuh. "Siapa suruh kamu selalu di perpustakaan. Mempelajari hal-hal yang seharusnya belum kamu pelajari."
Sakuya tersenyum malu. Lalu dengan cepat kembali bersemangat. "Tentu saja! Aku harus cepat mempelajari nya. Dan dengan cepat dewasa! Agar aku bisa menggantikan ayah, melindungi klan, melindungi kamu, ayah, ibu dan.." matanya melihat dengan semangat ke arah perut ibunya yang masih datar. "Adik kecil!" Ucapnya dengan sayang.
Inari tertawa melihat kelakuan lincah putrinya.
Sedangkan Syura dan Sakiya terdiam. Sakiya menatap ayahnya yang juga menatapnya. Syura tersenyum tipis. Lalu mengelus kepala putrinya. Seakan berkata. 'tidak apa, semua akan baik-baik saja.'
Sakiya menurunkan kelopak matanya. Tidak ada yang tau emosi yang melintas di matanya.
Walaupun begitu. Suasana yang harmonis di ruangan terlihat di mata seseorang. Menatap dengan benci.
KAMU SEDANG MEMBACA
Otsutsuki Sakura
AléatoireCerita tentang Otsusuki Sakura yg bakit di tengah perang berlangsung. 🥀🥀🥀 Sakura menutup mata. "Inikah yang ingin kau perlihatkan kepada ku? Alasan kau membangkitkan ku? Ingin aku membantu mereka? Tidak kah kau lihat, akibat perbuatan yang kau la...
