Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

try to fix it

629 48 1
                                        

Hari ini sudah masuk 50 hari setelah kecelakaan yg dialami bintang dan mendiang Kevin.

Bintang masih tak mau melakukan terapi untuk kakinya.
Entah dengan cara apalagi Frans dan Vanny membujuk bintang, yang jelas, Bintang masih keukeuh tak mau untuk melakukan terapi.

Rendy sang perawat pun tampak pasrah dengan penolakan bintang.

Kini Rendy tengah menemani bintang berjemur di halaman belakang rumah.
30 menit yg lalu bintang baru saja memakan sarapannya, serta obat routinnya.

"Dek, kenapa sih gak mau terapi?" Tanya Rendy.

"Kenapa emang," tanya balik bintang.

"Yaa, emang gak bosen duduk terus di kursi roda? Emang kamu gak mau bisa jalan normal lagi kayak dulu?" Tanya Rendy hati-hati.

Bintang tersenyum ringan, sebelum menjawab pertanyaan Rendy.

"Lo tau ga, apa yg gue rasain pas tau kakak gue mati gara-gara kita kecelakaan? Perasaan bersalah itu gak pernah ilang dari sini kak," tunjuk bintang pada kepalanya.

"Gue slalu mikir, kenapa cuma gue yg selamat? Kenapa kak Kevin mesti meninggal? Kayaknya gak adil aja kalo gue harus baik-baik aja, sementara kakak gue udah gak ada." Ucap bintang

"Itu musibah bintang, bukan salah kamu,"ucap Rendy.

"Gue juga awalnya mikir kayak gitu, sampe gue lihat perilaku Abang Devan.
Dia langsung cabut pergi tatkala tau gue balik dari rumah sakit. Seolah dia gak mau ketemu gue lagi.
Dia pasti benci sama gue. Gue udah nyebabin kematian buat 2 orang yg sangat berharga di keluarga kita." Ucap bintang dengan sedikit air mata yg keluar.

Rendi hanya bisa mengusap bahu bintang yg bergetar karena tangis.

Tanpa mereka sadari dari jauh seseorang tengah berdiam menguping pembicaraan mereka.

"Oh, jadi itu alasan Lo, kenapa gak mau terapi?!! Itu doang?!!" Ucap Devan yg tiba-tiba berjalan ke arah bintang dan Rendy.

Bintang tentu terkejut mendengar suara Devan.
Begitu pula Rendy.

"A-abang?" Ucap bintang.

"Iya, ini gue!! Kenapa, Lo pikir gue gak akan pernah balik?" Ucap Devan ketus.

Bintang bungkam, ia tak bisa menjawab lagi.

"Gue akuin, gue sempet kecewa dengan kematian kevin, gue juga sempet nyalahin Lo atas tragedy ini, tapi gue sadar, itu semua bukan salah Lo!! Itu semua udah takdir, bukan salah Lo, kevin meninggal." Ucap Devan.

"Tapi Lo ngehindarin gue bang!" Ucap bintang.

"Wajar gak sih, gue pergi karena gue gak mau ngeluarin kata-kata yg bisa nyakitin Lo, gue gak mau karena kecewanya gue ini, gue limpahin ke elo, kayak pas mama meninggal." Ucap Devan.

"Gue mesti punya waktu buat beneran ikhlas bintang, dan itu gak mudah." Ucap Devan.

"Tetep aja, kak Kevin meninggal pas gue boncengin dia, hiks, gue juga harusnya ikutan mati bang, kayaknya gak adil aja kalo gue masih bisa hidup disini, sementara kak Kevin sendirian disana." Ucap bintang sambil mengusap air matanya yg mulai keluar.

"Kevin udah sama Allah, dia udah tenang, Lo disini mesti sembuh, mesti bisa jalan lagi. Ke in pasti sedih kalo liat Lo kayak gini." Ucap Devan.

Bintang hanya menggeleng dan berniat pergi dengan3nggerakan kursi rodanya menjauhi Devan.

Devan tak tinggal diam ia tahan kursi roda bintang.

"Lepasin bang," ucap bintang.

Devan malah merangkul bintang dan membuat bintang berdiri.
Bintang tentu terkejut.

"Bang!! Lo apa-apaan?!! Lepasin gue?!!" Ucap bintang panik.

"Gak!! Lo mesti latihan jalan!! Gue gak mau Lo kayak gini terus!!." Ucap Devan sambil tetap memangku badan bintang.

"Bang sakit!! Kaki gue belum bisa nahan badan gue bang, lepasin." Ucap bintang.

Darren yg baru pulang dari sekolah, langsung menghampiri bintang yg ia dengar suaranya.

"Bang, Lo ngapain?!" Ucap Darren melihat Devan memberikan bintang.

"Gue lagi mau bikin dia bisa jalan lagi." Ucap Devan.

"Gak gitu caranya bang, kan da terapinya khusus, udah lepasin, entar malah tambah parah dia. Kakinya masih sakit kan." Ucap Darren.

Darren lalu mencoba memeluk bintang dari pinggir, dan mendudukannya dengan perlahan.
Devan pun melepaskan rangkulannya.

"Denger, kalo besok Lo masih gak mau terapi, Lo bukan adek gue lagi!" Ucap Devan tegas sambil berbalik pergi meninggalkan bintang.

Darren lalu mengusap pelan bahu bintang, mencoba menenamgkan bintang yg masih menangis.

"Udah tang, maklumin aja, Abang mungkin maksudnya baik, pengen liat kamu semangat buat sembuh, buat terapi, biar Lo bisa jalan lagi." Ucap Darren.

Bintang mengusap air matanya, ia sudahi tangisnya.
Lalu ia tatap Darren dengan tatapan yg sulit Darren artikan.

"Kenapa?" Tanya bintang.

"Kenapa apanya?" Tanya balik Darren heran.

"Kenapa Lo baikin gue lagi? Bukan ya Lo udah benci sama gue?!" Ucap bintang.

Darren agak kelabakan, sejak peristiwa terungkapnya kelakuan asli kara, ia belum sempat mengucapkan maaf pada bintang.
Bukan karena tak mau. Darren mau saja, namun bintang selalu menjauhinya.

"Bintang, gue minta maaf, maaf gue gak percaya sama Lo, dan maaf baru kali ini gue bilang maaf sama Lo, gue ngerasa malu pas awal tau kalo kara yg salah. Gue udah terlanjur bikin Lo benci sama gue. Sekali lagi maaf tang," ucap Darren tulus.

Bintang tersenyum smirk.
"Gue gak pernah benci sama Lo kak, gue cuma kesel sama otak bego Lo doang."ucap bintang sambil tersenyum.

Melihat bintang dengan senyumannya, Darren lalu tersenyum juga.

"Jadi Lo.... Gak marah lagi sama gue kan?" Tanya Darren memastikan.

"Yg marah duluan siapa deh, bukannya Lo yg marah duluan ke gue," ucap bintang telak

"Ya, udah, gue emang bego, gue salah, maaf ya, jangan jauhin gue ya bintang, gue sayang sama Lo." Ucap Darren sambil mengusap pelan rambut bintang.

"Apa-an sih geli gue kak," ucap bintang.

"Eh tapi, Lo serius gak mau terapi tang?" Tanya Darren sambil mendorong kursi roda bintang menuju ruang keluarga.

"Plis biarin gue kayak gini aja, anggap aja gue udah gak ada kak, gue pikir ini gak sebanding sama kematian kak Kevin." Ucap bintang datar.

"Gue tau Lo ngerasa bersalah tang, tapi jangan hukum diri Lo sendiri, inget kak Kevin, gak bakalan seneng kalo dia tau Lo kayak gini.
Semua orang di rumah, gak ada yg nyalahin Lo, semua sayang sama Lo, makanya gue mohon Lo harus semangat buat sembuh." Ucap Darren.

Bintang hanya menunduk diam.

Kini Darren duduk di sofa dekat dengan kursi roda bintang.

"Mau duduk disini gak Lo?" Tanya Darren pada bintang.

Bintang mengangguk. Darren lalu menggendong bintang, dan membantu bintang untuk duduk di sofa sebelah Darren.
Darren bantu bintang untuk bersandar, dengan posisi yg senyaman mungkin.

"Lo mau ngemil apa, biar gue bawain." Ucap Darren.

"Gue mau buah mangga aja kak," ucap bintang.

"Oh, itu doang, bentar ya gue suruh bi Mira kupasin dulu mangganya.






Mereka berdua asik bermain PlayStation di ruang keluarga, cemilan mereka hampir habis setengahnya.
Setelah bosan bermain, mereka menonton film horor favorit mereka.

Tak lama bintang tertidur dengan posisi duduk.

Darren yg melihatnya, langsung merebahkan posisi bintang agar ia bisa tiduran dengan nyaman. Tak lupa ia ambil selimut kecil dari kamar bintang untuk menyelimuti bintang.

















FAKEBROTHER













fake brothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang