Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
....
Di UKS, Louis dibaringkan di atas ranjang oleh Axvel.
Elan pergi dan menyeret dokter UKS untuk segera memeriksa keadaan Louis. Dokter pria tersebut hanya bisa mengeluh di hatinya saat seorang murid menyeretnya dengan cara tidak sopan seperti itu.
Dokter UKS memeriksa Louis dengan perasaan risih karena keempat teman murid yang sedang diperiksa olehnya itu menatapnya dengan tatapan yang begitu serius.
Melihat tubuh murid di depannya, Dokter itu kemudian mulai memeriksa dengan cara memegang pinggang, pantat dan kaki Louis serta sedikit menekan di tempat-tempat yang ia sentuh. Namun, saat tangannya menekan di bagian pantat Louis, pemuda itu menutup kedua matanya dengan wajah menahan sakit.
Berhenti memeriksa, Dokter itu lalu menjelaskan pada teman-teman murid yang ia ketahui bernama Louis. "Dia baik-baik saja. Tidak perlu khawatir, hanya pantatnya saja yang sepertinya sedikit lebam."
Dokter itu pergi kemudian mengambil sebuah salep dan memberikannya pada Varon. "Oleskan ini di pantatnya untuk mengurangi rasa sakit dan lebam."
Varon menggangguk, lalu mengucapkan terima kasih.
Saat ingin pergi, Dokter pria itu tidak sengaja melirik sebuah tanda cupang di leher Louis yang sedikit terlihat.
Menyadari tatapan Dokter itu di lehernya, Louis dengan cepat menaikkan kerah kaos Turtlenecknya yang sedikit menurun. Pemuda itu panik dan berkeringat dingin takut Dokter itu menyadari ada tanda cupang di lehernya.
Melirik wajah Louis yang terlihat panik, Dokter itu tersenyum kecil, lalu benar-benar pergi dari sana.
Melirik keempat sahabatnya, Louis menghela napas lega karena tahu mereka tidak menyadari tanda cupang di lehernya.
Kembali menoleh pada Dokter UKS yang kini masuk ke ruangannya, Louis membatin. 'Semoga saja Dokter itu tidak menyadari tanda cupang di leherku. Tapi, sepertinya dia sudah melihatnya. Bagaimana ini? Aku sangat malu dan takut dia berpikir yang tidak-tidak tentangku.'
Louis kembali menghela napas pelan.
"Lepas celanamu, aku akan mengoleskan salep ini di pantatmu." Varon tiba-tiba saja mendekat dan menyuruh Louis untuk melepaskan celananya.
"TIDAK PERLU!" Louis panik dan tidak sengaja mengeraskan suaranya.
"Kenapa? Apa kau malu?" Varon bertanya bingung.
Louis dengan cepat mengangguk. "B-benar, aku malu. Walaupun kita sesama laki-laki aku tetap merasa canggung. Biarkan aku mengoleskannya sendiri." Pemuda itu menengadahkan tangannya pada Varon meminta salep tersebut.
Deven tertawa dan menepuk bahu Louis pelan. "Begitu saja kau malu, dasar."
Louis ikut terkekeh canggung dan mengambil salep yang diserahkan oleh Varon padanya.