🕊Ch {13}

2.6K 219 5
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

....

Tiba di apartemen, Louis langsung pergi ke kamarnya yang dibantu papah oleh Galen.

Setelah mendudukkan Louis di atas kasur, Galen berdiri dengan wajah serius seraya memangku pinggang di hadapan pemuda itu.

Louis mendongak dan menatap wajah serius pamannya tersebut. Menghela napas, pemuda itu berkata. "Aku baik-baik saja, paman. Jangan khawatir, sakit di ekhem! Pantatku akan segera sembuh." Katanya agak ragu saat mengatakan bagian 'pantat'.

Galen menghela napas, pria itu mengacak-acak rambut Louis gemas dan juga kesal. "Tolong jaga dirimu, nak. Aku tidak ingin ibumu memarahiku di mimpiku." Katanya.

Louis terkekeh. "Baik baik, mulai sekarang aku tidak akan ceroboh lagi." Ucapnya dengan yakin.

Melihat betapa yakin keponakannya itu, Galen kembali menghela napas.

Kemudian, pria itu keluar dari kamar Louis setelah kembali memastikan pantat keponakannya benar-benar sudah mulai membaik.

Awalnya, Galen ingin melihat dan mamastikan langsung lebam di pantat keponakannya tersebut, namun Louis segera menolak dengan wajah memelas. Karena tidak tahan melihat wajah memelas pemuda itu, Galen akhirnya menyerah. Ia juga mengerti, keponakannya itu pasti malu menunjukkan pantatnya. Pria itu kemudian hanya terkekeh karena merasa bahwa keponakannya tersebut ternyata sangat menggemaskan.

Setelah memastikan Galen sudah benar-benar keluar dari kamarnya, Louis menenggelamkan wajahnya di bantal dan berteriak tanpa suara.

"Pria sialan! Aku bersumpah penismu tidak akan bisa lagi berdiri!" Louis mengumpati Gevion, pria yang semalam memaksanya untuk melakukan seks dan menyebabkan tubuhnya sangat menderita seperti saat ini.

Saat di Sekolah tadi pun dirinya harus menahan sakit dan berusaha untuk berjalan normal agar tidak pincang. Pemuda itu merasa begitu tersiksa hari ini.

Memilih membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, Louis rasanya ingin menangis mengingat kejadian semalam. Benar-benar mengerikan, pikirnya. Semalam ia bahkan sempat mengira akan mati mengingat betapa beringasnya Gevion saat menusuk lubang dan menggigit seluruh tubuhnya, seolah pria itu sangat menginginkan untuk melahapnya hingga habis.

"Menyeramkan sekali bertemu dengan pria seperti itu. Apalagi penis mengerikan miliknya itu." Louis bergidik ngeri mengingat penis Gevion yang berukuran 38-40 cm itu berhasil mengaduk-aduk lubang analnya hingga membuatnya hampir mati.

"Cukup sekali, semoga kita tidak pernah lagi bertemu. Aku berdoa untuk orang yang ditakdirkan menjadi jodohmu, semoga dia tidak sekarat saat melakukannya denganmu." Ucap Louis seraya menautkan kedua tangannya serius.

Mengingat wajah tampan dan seksi milik Gevion saat sedang melakukan seks dengannya semalam, wajah Louis memanas.

"Brengsek! Lupakan dia, Louis! Kau harus tetap waras, jangan memikirkannya lagi!" Louis berbicara pada dirinya sendiri dengan marah.

Dein GiftCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang