Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
....
Malam ini, Louis beserta ke empat sahabatnya berencana untuk keluar dan merayakan kelulusan mereka.
Sebelumnya, mereka berlima telah berjanji akan masuk ke Universitas yang sama, yaitu Universitas Whitebridge. Dan malam ini Louis akan mengatakan pada keempat temannya bahwa Galen telah setuju jika dirinya masuk ke Universitas tersebut.
Di kamarnya, Louis sedang memakai jaket untuk menutupi kaos putih yang dipakainya.
Saat ingin memakai parfum, nada dering ponselnya tiba-tiba saja berbunyi di atas kasur. Pemuda itu menoleh untuk melihat siapa yang menghubunginya.
Nama Axvel terpampang di sana, dengan cepat Louis mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
Namun,
"T-tolong aku...s-seseorang me-menyerang dan menusukku...A-aku berada di gang dekat sekolah."
Suara kesakitan Axvel lah yang dirinya dengar di balik ponsel.
Louis membelalakkan matanya terkejut. "A-Axvel? APA YANG TERJADI PADAMU!??" Pemuda itu bertanya khawatir, lalu dengan cepat berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah lebar.
"L-Lou?" Suara lemah dan terkejut Axvel kembali terdengar.
"Siapa yang menyerangmu?!" Louis kembali bertanya dengan wajah panik. Pemuda itu menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Galen yang sedang bekerja dengan laptopnya di ruang tamu mengerutkan alisnya melihat Keponakannya itu berlari melewatinya begitu saja dengan terburu-buru dan raut wajahnya terlihat begitu khawatir.
"Ada apa, Lou?" Pria itu bertanya. Namun, Louis mengabaikannya dan langsung keluar setelah memakai sepatu secara asal-asalan.
"Ada apa dengannya?" Galen bergumam heran. Ia merasa ada yang tidak beres setelah melihat ekspresi tidak wajar dari Keponakannya tersebut.
Mengambil ponsel miliknya, Galen menghubungi Liam dan menyuruh pria itu untuk mengikuti kemana Louis pergi.
....
Axvel telah diserang.
Dalam keadaan sekarat, lelaki itu ingin meminta tolong pada Varon dan menghubungi laki-laki itu dengan ponselnya. Namun, ia salah menekan nomor dan malah menghubungi Louis. Dalam keadaan kesakitan, ia tidak menyadari bahwa nomor yang ia hubungi bukanlah nomor Varon, melainkan Louis. Laki-laki itu berkata dengan suara patah-patah meminta tolong.
"T-tolong aku...s-seseorang me-menyerang dan menusukku...A-aku berada di gang dekat sekolah." Seraya menahan sakit akibat lima tusukan di perutnya, Axvel berusaha keras untuk berbicara pada Varon.
"A-Axvel? APA YANG TERJADI PADAMU!??"Namun, ia malah mendengar suara khawatir Louis.