🕊Ch {25}

1.1K 92 9
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

....

Louis berjalan melewati toko-toko di pinggir jalan dan gedung-gedung pencakar langit seraya menikmati suasana malam.

Saat akan melewati sebuah kafe, langkah Louis terhenti. Pemuda itu melihat Agler dan Venia yang sudah 5 tahun ini tidak dilihatnya. Kedua orang itu nampak lebih dewasa, berbeda sekali saat mereka masih SMA.

Agler berjalan seraya menggandeng tangan Venia romantis.

Melihat mereka, Louis sedikit penasaran dengan alur novel yang entah sudah bagaimana sekarang. Menunduk, pemuda itu menggelengkan kepalanya. Terserah bagaimana alurnya berlanjut, dirinya sudah tidak peduli lagi dan ingin memisahkan diri semua yang bersangkutan dengan novel tersebut. Fokus utamanya saat ini adalah mencari keadilan untuk sahabatnya, Axvel.

Mengingat Axvel yang sudah 5 tahun tiada, Louis mengepalkan tangannya erat. Hatinya tiba-tiba kembali terasa sesak mengingat sahabatnya yang telah pergi untuk selamanya.

Menekan dadanya, Louis kembali mendongak. Tidak jauh di depannya, ia melihat Agler dan Venia akan memasuki kafe.

Memilih abai, Louis kembali melanjutkan jalannya dan berniat melewati Agler dan Venia seolah tidak saling kenal. Untungnya, saat ini pemuda itu memakai hoodie hingga bisa menutup kepalanya dengan tudung hoodie yang dipakainya.

Saat hampir sudah mendekati dengan Agler dan Venia, Louis sedikit menelan ludahnya gugup. Pemuda itu menundukkan kepalanya saat ia akhirnya melewati mereka.

Namun, pergelangan tangannya tiba-tiba saja ditahan.

Louis menegang. Melirik tangannya yang sedang dipegang oleh seseorang, ia mendongak. Dan yang dirinya lihat adalah wajah terkejut Agler yang menatapnya dengan mata membelalak.

Melihat Louis di sana, Venia juga sangat terkejut dan menutup mulutnya tidak menyangka akan kembali melihat pemuda itu setelah 5 tahun menghilang entah kemana.

"L-Lou?" Suara Agler sedikit bergetar saat memanggil namanya.

Menatap mereka dengan wajah dingin, Louis menarik pergelangan tangannya dari Agler. Ia juga tidak menyangka jika Agler akan mengenalinya, padahal dirinya sudah menutup wajahnya dengan tudung hoodie.

"Kau benar-benar Louis, kan?" Agler bertanya seraya melepas tangan Venia yang sedari tadi ia genggam begitu erat dengan tangan satunya lagi.

Louis menoleh ke arah lain, tidak berniat untuk menjawab. Namun, Agler tiba-tiba menarik kedua bahunya untuk menatap laki-laki itu.

"Louis! Ini benar-benar dirimu?!" Agler kembali bertanya.

"Ck!" Louis berdecak dan melepas diri dari Agler, pemuda itu berjalan mundur ke belakang dan menjawab. "Kau salah orang, aku bukan Louis."

Setelahnya, ia berniat untuk berbalik dan pergi. Namun, Agler lagi-lagi menahan pergelangan tangannya.

"Kau berbohong. Aku tau, kau adalah Louis." Ucap Agler menatap pemuda di depannya dengan alis menyerngit, sendu.

Dein GiftCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang