Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading . . .
__________________________________________
Louis kembali pulang ke Apartemen setelah diantar oleh Varon dan juga ketiga sahabatnya yang lain yang masih berada di mobil laki-laki itu.
Setelah keluar dari lift di lantai 20, Louis berjalan melewati lorong-lorong unit apartemen orang lain.
Saat hampir sampai di unit apartemen Galen, Louis menyerngit saat melihat pria asing yang sedang berbicara dengan Galen di depan pintu apartemen.
Namun, Pamannya itu terlihat kesal dan marah? Entahlah, Louis tidak dapat mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan hingga ekspresi pamannya mengeras seperti itu.
Louis berjalan mendekat.
"Sudah kubilang aku tidak ingin lagi berhubungan denganmu! Jangan datang lagi ke sini mulai hari ini, sialan!" Galen terlihat marah dan mengumpat kasar.
Pria yang sedikit lebih tinggi dari Galen tertawa sinis. "Setidaknya katakan alasan mengapa kau tiba-tiba saja membuangku seperti ini!" Balasnya ikut marah.
Louis semakin penasaran saat mendengar percakapan mereka. Pemuda itu ingin mendekat, namun ia merasa tidak enak. Ia hanya berdiri tak jauh dari sana seraya menunggu Galen menyelesaikan percakapan sengitnya dengan pria asing tersebut.
"Tidak ada alasan yang serius, aku hanya bosan. Pergi dari sini sekarang dan jangan pernah kembali lagi!" Galen menunjuk ke arah lift. Namun, pria itu tidak sengaja melihat bahwa Louis ada di sana dan menatap padanya dan pria di depannya.
Panik, Galen dengan cepat mendorong pria di depannya untuk segera pergi dari sana. "Cepat pergi dari sini, brengsek!"
Pria itu sepertinya tidak menyadari keberadaan Louis. Ia mencekal perlelangan tangan Galen dan menarik pria itu untuk mendekat padanya dengan wajah murka. "Bosan katamu? Apa pen─"
"Tutup mulutmu, bajingan!" Galen dengan cepat membungkam mulut pria di depannya dan menatapnya tajam seraya menggertakkan giginya.
Louis merasa bahwa ada yang tidak beres antara pamannya dan pria asing tersebut. Pemuda itu berjalan mendekat.
Melihat Louis mendekat, Galen semakin panik dan berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang dicengkeram dengan begitu kuat. "Brengsek! Lepaskan aku!" Bisiknya marah.
Namun, pria itu semakin mengeratkan cengkeraman tangannya.
"Paman?"
Louis akhirnya memanggil setelah berhenti di samping Galen dan pria asing yang masih mencengkeram tangan pamannya.
Pria asing itu dengan cepat menoleh pada Louis.
Galen akhirnya bisa melepaskan pergelangan tangannya saat perhatian pria di depannya teralihkan.