🕊Ch {28}

710 57 4
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

....

Begitu melewati pintu baja tebal itu, Louis sempat mengira tempat ini hanyalah fasilitas militer biasa, yang dingin, kaku, dan penuh tekanan. Namun semakin jauh ia melangkah mengikuti Kael, semakin jelas pula bahwa tempat ini jauh melampaui ekspektasinya.

Lorong-lorong panjang terbentang seperti labirin, namun bukan lorong sempit dan suram. Dindingnya dilapisi material metalik gelap dengan pencahayaan tersembunyi yang memantul halus, menciptakan kesan mewah namun tetap dingin. Lantai mengilap tanpa cela, setiap langkah kaki menghasilkan gema ringan yang teratur. Di beberapa titik, terdapat panel kaca besar yang memperlihatkan ruangan-ruangan lain, yaitu ruang strategi dengan layar besar penuh peta digital, ruang medis dengan peralatan canggih, hingga ruang latihan kecil dengan alat-alat modern.

Tempat itu, bukan hanya fasilitas pelatihan.

Itu adalah sebuah markas, yang tersembunyi, terorganisir, dan sangat mahal.

Louis tidak berkata apa-apa, namun matanya terus bergerak, mencatat setiap detail yang ia lihat. Ia menyadari satu hal, orang-orang di tempat ini bukan sekadar dilatih. Mereka dibentuk dengan sistem yang sangat serius, hampir seperti proyek besar negara yang dirancang tanpa cela.

Kael akhirnya berhenti di depan sebuah pintu berukuran besar.

Tanpa banyak gerakan, ia menekan panel di sampingnya. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan yang cukup luas namun terasa lebih formal dibandingkan lorong-lorong sebelumnya.

Di dalamnya, berdiri seorang pria.

Tubuhnya tinggi, namun tidak setinggi Kael, tetap tegap dengan postur dari seorang militer. Rambutnya hitam pendek, wajahnya tegas namun tidak sekeras Kael. Ia mengenakan seragam taktis yang rapi, dan begitu melihat Kael masuk, ia langsung berdiri lebih tegak.

"Commander."

Kael hanya mengangguk singkat, lalu melirik ke arah Louis. "Dia tanggung jawabmu sekarang."

Pria itu menoleh ke arah Louis, menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Baik." Jawabnya sopan.

Kael tidak menambahkan apa pun. Ia hanya berbalik dan kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Louis di ruangan itu tanpa penjelasan lebih lanjut.

Kini, hanya tersisa Louis dan pria tersebut.

Pria itu melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya. "Namaku Riven Hale." Ucapnya dengan nada ramah. "Kau bisa menganggapku sebagai instruktur awalmu di sini."

Louis menatap tangan itu sejenak, lalu menerimanya singkat tanpa banyak ekspresi.

Riven tidak mempermasalahkan. Ia hanya tersenyum kecil. "Ayo. Aku akan membawamu ke tempat yang seharusnya kau lihat pertama kali."

Dein GiftCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang