Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
....
Langkah Louis tetap tenang saat ia keluar dari aula dan menyusuri koridor panjang menuju gerbang utama Universitas Whitebridge. Suara kepanikan masih terdengar samar di belakangnya, langkah kaki berlarian, dan instruksi panik yang saling tumpang tindih. Namun semua itu, ia sama sekali tidak mempedulikannya, wajahnya tetap dingin, tatapannya kosong, dan langkahnya tidak terburu-buru, seolah ia hanya seorang mahasiswa biasa yang baru saja menyelesaikan urusannya.
Saat akhirnya ia melewati gerbang utama, langkahnya terhenti.
Di sana, berdiri seorang pria dengan napas terengah.
Orang itu adalah Galen, Pamannya.
Rambut pria itu sedikit berantakan, jasnya tidak lagi serapi biasanya, dan ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia baru saja bergerak cepat tanpa banyak berpikir. Tatapannya langsung terkunci pada sosok Louis yang berdiri beberapa langkah di depannya.
Beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas Galen yang terdengar berat.
Louis menatapnya datar, tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa takut. Seolah ia sudah tahu pria itu akan datang menemukannya.
Galen mengatur napasnya, lalu melirik ke arah belakang Louis, tepatnya ke dalam area kampus. Suara sirine ambulans mulai terdengar mendekat, memecah hiruk pikuk yang semakin membesar. Orang-orang mulai berkerumun, sebagian mencoba mendekat, sebagian lagi menjauh dengan wajah panik.
Satu pandangan itu sudah cukup bagi Galen untuk mengerti. Keponakannya telah melakukannya. Louis telah membalas dendamnya.
Rahang Galen mengeras. Tatapannya kembali pada Louis, kali ini lebih dalam dan tajam. Dalam sekejap, ia menyadari sesuatu yang selama ini luput darinya bahwa Louis tidak benar-benar diam. Pemuda itu tidak pernah berhenti. Selama lima tahun ini, ia diam-diam mengumpulkan semua informasi, menyusun rencana, dan menunggu saat yang tepat.
Dan dirinya, telah dibodohi.
Namun tidak ada waktu untuk marah karena situasi sudah terlalu jauh.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Galen langsung melangkah maju. Tangannya meraih lengan Louis dengan kuat, lalu tanpa memberi kesempatan, ia membopong tubuh pemuda itu ke atas bahunya dan berbalik dengan cepat.
"Paman." Louis memanggil pelan, namun tidak melawan.
Tubuhnya ringan dalam dekapan Galen, seolah ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
Di sisi lain jalan, sebuah mobil hitam berhenti mendadak. Liam keluar dengan cepat, membuka pintu belakang.
"Cepat!" Ujarnya buru-buru.
Galen tidak membuang waktu. Ia langsung membawa Louis ke arah mobil dan hampir melemparkan pemuda itu ke dalam kursi belakang.
Tubuh Louis terdorong masuk, namun ia tidak bereaksi. Ia hanya duduk diam, menyandarkan punggungnya, tatapannya kosong menatap ke depan.