Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
....
Di sebuah Restoran Hotel bintang lima dipenuhi oleh pengunjung kelas atas malam ini. Lampu gantung kristal berkilauan di langit-langit, memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Suara dentingan gelas bercampur dengan percakapan santai para tamu, menciptakan atmosfer mewah yang santai. Namun, perhatian banyak mata tertuju pada sosok yang baru saja melangkah masuk.
Louis berjalan di depan, diikuti oleh Liam yang tetap menjaga sikap waspada seperti biasa. Di belakang mereka, tiga pria berpostur besar dengan wajah dingin mengikuti dengan langkah tegap, membuat suasana sekitar seketika berubah serius. Kehadiran mereka menarik perhatian hampir semua orang di restoran.
"Siapa dia?" Bisik seorang tamu kepada pasangannya.
"Entahlah, sepertinya dia adalah seseorang yang penting. Lihat saja para pengawalnya." Jawab yang lain, menatap Louis dengan rasa ingin tahu.
Tanpa peduli pada tatapan-tatapan itu, Louis melangkah mantap hingga tiba di depan sebuah pintu besar menuju ruangan pribadi restoran tersebut. Liam segera maju untuk membukanya, mempersilakan Louis masuk lebih dulu.
Setelah Louis masuk, Liam mengikuti, lalu menutup pintu dengan lembut. Ketiga pria yang mengawal mereka tetap berjaga di luar, berdiri seperti patung.
Di dalam ruangan yang luas namun hangat itu, Galen telah menunggu. Duduk santai di kursi berbahan kulit, pria itu mengenakan kemeja hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Gelas kaca bening di tangannya tampak setengah penuh dengan cairan berwarna kuning keemasan.
Tatapan Galen terangkat begitu Louis masuk. Ia diam sejenak, memperhatikan wajah keponakannya yang sudah lima tahun tidak dilihatnya. Pandangannya menyapu penampilan Louis dari atas ke bawah. Kemeja Louis yang sedikit terbuka, rambut Wolf Cut miliknya dulu telah berganti menjadi Buzz Cut, serta ekspresi dingin yang menghiasi wajah tampannya, semuanya berbeda. Anak laki-laki ceria yang dulu ia kenal kini telah berubah.
Galen menghela napas panjang, lalu meletakkan gelasnya di atas meja dengan bunyi kecil.
"Duduklah." Perintahnya dengan suara berat, memecah keheningan di ruangan itu.
Louis melirik sekilas ke arahnya sebelum akhirnya duduk di kursi di seberang meja. Gerakannya terlihat tenang, tapi ada aura ketegangan yang sulit disembunyikan.
"Bagaimana keadaanmu selama lima tahun ini?" Tanya Galen akhirnya, memecah kesunyian.
Louis menatap teh yang sudah tersaji di depannya. Ia mengambil cangkirnya, menyesap sedikit sebelum menjawab dengan nada datar. "Biasa saja."
Jawaban itu membuat Galen sedikit terkejut, meski ia berusaha menyembunyikannya. Jawaban yang sama persis telah Liam dengar dari mulut Louis sebelumnya.
Galen tertawa kecil, namun tawa itu lebih terdengar pahit. "Bocah ini." Gumamnya. "Kau benar-benar sudah berubah."
Namun, Louis tidak menggubris komentar itu. Ia tetap menyesap tehnya dengan santai, mengabaikan tatapan Galen yang terus mengawasinya.