🕊Ch {19}

2.1K 180 8
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

....

Di lapangan Basket Sekolah, Varon, Axvel, Elan dan Deven baru saja selesai bermain basket. Kini mereka tengah berada di pinggir lapangan untuk mengambil Almamater sekolah yang telah dengan sengaja mereka lepaskan agar tidak kotor.

Selain keempat orang itu yang sedang bersiap-siap memakai kembali Almamater mereka, Louis masih berada di tengah lapangan. Pemuda itu masih bermain basket seorang diri.

Axvel memakai Almamater miliknya sembari berbicara. "Setelah ini ayo ke kantin." Ajaknya.

Deven dan yang lain mengangguk mengiyakan.

Varon menoleh pada Louis yang masih belum berhenti melempar bola basket ke dalam ring. Laki-laki itu berteriak. "Lou! Kemarilah, sudah cukup mainnya. Ayo ke kantin untuk membeli minuman."

BUK!

Bola yang dilempar Louis jatuh dari ring. Pemuda itu menoleh pada Varon dan melambaikan tangannya. "Ya!"

Setelah mengambil bola basket di lantai lapangan, Louis berlari kecil menuju teman-temannya dengan wajah sumringah. Namun, saat hampir mencapai pinggir lapangan, pemuda itu tiba-tiba saja terpeleset hingga jatuh tersungkur.

BRUKK!!

Mendengar suara itu, Varon, Axvel, Elan dan Deven dengan cepat menoleh ke arah suara. Mereka membelalak melihat Louis sudah jatuh telungkup di lapangan, pemuda itu menyembunyikan wajahnya. Bukan karena sakit, tetapi karena merasa malu. Sebab, di sana bukan hanya ada dirinya dan teman-temannya saja, melainkan juga ada beberapa murid lain dengan berbagai aktifivitss mereka dalam menghabiskan jam istrahat. Dan tentu saja, mereka semua juga menoleh ke arahnya yang jatuh tersungkur di lapangan.

"LOU!"

Varon adalah orang pertama yang berlari menghampiri Louis dengan wajah panik, baru setelahnya Axvel dan yang lain menyusul dengan wajah tak kalah panik.

Melihat Louis masih belum bangkit, mereka berpikir Louis pingsan.

Varon dengan cepat ingin membalik tubuh Louis. Namun, pemuda itu menahan tubuhnya, tidak ingin berbalik dan menutup wajahnya sendiri menggunakan telapak tangan.

"Lou? Apa kau baik-baik saja!?" Deven bertanya khawatir melihat Louis menutup wajahnya dan tidak ingin bangun.

Axvel juga merasa khawatir dan berusaha menarik tubuh Louis agar bangkit, namun pemuda itu menggelengkan kepalanya.

Dengan suara kecil Louis berkata. "Jangan angkat aku."

Varon yang mendengar perkataan sahabatnya itu dengan cepat bertanya. "Ada apa denganmu, Lou? Bangunlah, seragammu akan kotor. Apa tubuhmu sakit sekali?" Laki-laki itu tampak khawatir.

Louis menggelengkan kepalanya. Telinganya memerah.

Axvel yang melihat telinga Louis yang memerah akhirnya tersadar. Alasan pemuda itu tidak ingin bangkit bukan karena sakit, tapi karena malu. Laki-laki itu kemudian tidak dapat menahan tawanya.

Dein GiftCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang