Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
....
Louis di antar pulang sampai ke gedung apartemen tempatnya tinggal sekarang oleh Rora.
Setelah mengucapkan terima kasih, Louis turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Rora yang pergi dengan mobilnya yang dikemudikan oleh seorang supir.
Pemuda itu kemudian memasuki gedung apartemen dan naik ke lantai 20 menggunakan lift.
Sesampainya di depan pintu apartemen Galen, Louis langsung menekan pin di pintu tersebut dan masuk saat pintu sudah terbuka.
Menatap apartemen yang terlihat sepi, Louis yakin bahwa Galen sepertinya benar-benar tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Sebelum menuju ke kamarnya, Louis memilih berjalan ke arah Kulkas di dapur untuk mengambil minuman dingin karena haus.
Seraya meneguk botol minuman dingin di tangannya, Louis menoleh ke arah meja makan yang sudah tersedia banyak makanan.
Menoleh ke arah lain dapur, Louis mencari sosok orang yang telah memasak dan menyiapkan makanan tersebut.
"Sepertinya bibi sudah pulang." Gumamnya saat tidak melihat bibi yang sudah memasak makanan untuknya.
Mengangkat bahu acuh, pemuda itu baru kemudian memilih naik ke lantai dua, menuju kamarnya untuk mengganti pakaian sebelum makan.
Setelah mengganti pakaian rumah, Louis kembali turun ke lantai satu.
BIP!
BIP!
BIP!
Louis menoleh ke arah pintu saat mendengar bunyi pin yang dimasukkan untuk bisa membuka pintu.
Saat mendekati pintu, ingin tahu siapa yang telah menekan pin, pintu terbuka. Menampilkan Galen dengan setelan jas dan kemeja putih yang sedikit acak-acakan.
"Louis!" Pria itu langsung mendekati keponakannya saat melihatnya di sana.
"Ada apa, paman?" Louis bertanya bingung saat melihat wajah khawatir Galen.
Galen memegang bahu Louis dengan nafas terengah. "Maafkan Paman karena lupa menjemputmu." Katanya merasa bersalah.
Di kantornya, Galen sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak sempat memegang ponsel dan memeriksa pesan yang dikirim oleh Louis. Satu jam kemudian, saat pria itu sudah selesai dengan pekerjaannya dan melirik jam di dinding, ia baru teringat dengan keponakannya di sekolah.
Satu jam telah berlalu sejak jam pulang sekolah Louis, Galen merasa panik dan langsung menuju ke SMA Sparkling. Namun, saat dirinya sampai di sana, gerbang sekolah sudah ditutup dan tidak ada lagi seorang murid pun yang berada di sana.
Saat menghubungi Louis dengan ponselnya, Galen hanya dapat mendengar suara Operator yang mengatakan bahwa ponsel pemuda itu tidak aktif.
Berpikir bahwa Louis mungkin sudah pulang ke Apartemen, Galen dengan cepat pulang. Dan untungnya, keponakannya itu ternyata benar-benar sudah pulang ke Apartemen mereka.