🕊Ch {26}

827 83 9
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

....

Hujan yang turun kini hanya menyisakan rintik-rintik kecil ketika Louis akhirnya tiba di sebuah area pemakaman yang luas. Deretan batu nisan berdiri rapi, sebagian besar terbuat dari marmer dengan ukiran nama yang terlihat jelas di bawah cahaya lampu taman yang redup.

Langkah Louis melambat.

Sepasang matanya yang dingin menyapu setiap nama yang tertera, hingga akhirnya berhenti pada satu titik.

Axvell.

Nama itu terukir rapi di atas nisan marmer berwarna hitam.

Untuk sesaat, Louis hanya berdiri diam menatapnya.

Mawar putih di tangannya tampak sedikit basah, kelopaknya masih meneteskan sisa air hujan. Jemarinya mengerat tanpa sadar, sebelum akhirnya ia melangkah mendekat.

Semakin dekat, semakin terasa sesak. Hingga akhirnya, ia berdiri tepat di depan makam tersebut.

Ekspresi wajahnya tetap dingin, namun tatapannya kosong. Seolah seluruh emosi yang selama ini ia tahan, berkumpul di satu titik itu.

"Aku datang…" Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

"Akhirnya aku datang…" Louis menundukkan kepalanya, menatap nama itu lebih lama.

Tenggorokannya tercekat. "Maaf…" Satu kata itu keluar dengan berat.

"Maaf aku baru kembali setelah lima tahun." Tangannya sedikit bergetar saat ia menurunkan buket bunga dan meletakkannya perlahan di atas makam Axvell.

"Aku berjanji akan kembali, tapi aku malah menghilang terlalu lama." Napasnya mulai tidak teratur.

"Aku bahkan belum membalaskan dendam untukmu." Air matanya jatuh.

Satu.

Lalu dua.

Dan kemudian tidak bisa berhenti.

Louis menggigit bibirnya, berusaha menahan, namun gagal. "Aku merindukanmu." Suaranya mulai pecah.

Lututnya melemah. Dan tubuhnya kemudian jatuh berlutut di depan makam itu. Air hujan dan air matanya bercampur, membasahi wajahnya tanpa henti.

Louis menunduk dalam, lalu perlahan menjatuhkan tubuhnya, bersujud di atas makam tersebut. Ia menenggelamkan wajahnya di sana, membiarkan seluruh emosi yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh.

Tangisnya pecah.

Tangis yang selama ini ia pendam selama lima tahun.

"Maaf… Axvell… maaf…" Tubuhnya bergetar hebat.

Jemarinya mencengkeram tanah di sekitar nisan itu. "Aku merindukanmu…" Suaranya serak, penuh penyesalan yang mendalam.

"Louis?"

Dein GiftCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang