Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
....
Empat tahun telah berlalu.
Suara tembakan menggema di dalam ruang tembak yang luas dan tertutup rapat, memantul di dinding-dinding tebal yang dirancang khusus untuk meredam suara. Bau mesiu samar bercampur dengan udara dingin yang bersirkulasi stabil.
Louis berdiri tegak di jalurnya.
Kedua kakinya terbuka selebar bahu, posturnya stabil tanpa sedikit pun goyah. Di tangannya, sebuah pistol tergenggam dengan mantap, diarahkan lurus ke depan. Di telinganya terpasang pelindung suara berwarna gelap, berguna meredam dentuman keras yang berulang kali terdengar di ruangan itu.
Ia mengenakan kaos turtleneck hitam yang pas di tubuhnya, membungkus otot-otot yang kini jauh lebih terbentuk dibandingkan sebelumnya. Kulitnya juga sedikit lebih gelap. Garis bahunya terlihat lebar dan kokoh, sementara pinggangnya tetap ramping, menciptakan proporsi tubuh yang seimbang dan kuat. Celana militer berwarna gelap yang dikenakannya semakin menegaskan kesan disiplin dan kesiapan.
Rambutnya yang dulu pendek kini sudah sedikit lebih panjang, ditata dengan gaya Comma Hair yang sederhana namun rapi, jatuh dengan ringan di dahinya memberi kesan lebih dewasa.
Namun yang paling berubah adalah sorot matanya. Yang kini semakin tajam, namun tidak lagi sedingin dulu. Tatapan itu tenang dan terkendali, bahkan terlihat lebih hidup.
Louis menarik napas perlahan.
Matanya menyipit dengan satu mata tertutup, sementara yang lain mengunci target di papan sasaran tembak yang berdiri kokoh di ujung jalur, dengan lingkaran-lingkaran konsentris yang menandai titik nilai.
Jari telunjuknya menekan pelatuk.
DOR!
Peluru melesat. Tepat mengenai pusat sasaran.
Louis tidak langsung menurunkan tangannya. Ia tetap diam sejenak untuk memastikan. Lalu satu tarikan napas lagi, kemudian satu tembakan terakhir dilepaskan.
DOR!
Kali ini, peluru itu kembali menghantam tepat di titik tengah, menumpuk dengan lubang sebelumnya.
Sempurna.
Louis akhirnya menurunkan tangannya perlahan. Ia menghela napas ringan, lalu membuka pelindung telinganya. Suara di sekitarnya kembali terdengar jelas, dentuman dari jalur lain, percakapan pelan, dan langkah kaki yang bergema di lantai.
Ia melepas pelindung telinga itu dan menyerahkannya pada seseorang di sampingnya tanpa melihat.
"Terima kasih." Ucapnya singkat.
Petugas di sana menerima dengan cepat, sedikit mengangguk hormat.
Louis mengusap bagian belakang lehernya, merasakan sedikit keringat yang menempel di kulit. Latihan hari itu cukup panjang, namun tidak ada tanda kelelahan berlebih di wajahnya. Justru sebaliknya, ia terlihat seperti sudah terbiasa.