Dia memiliki keinginan untuk kabur dari dunia nyata. Hingga kemudian, mengakhiri hidupnya sendiri menjadi pilihan terakhir yang ia pilih.
Namun, sepertinya surga maupun neraka tidak mau menerima jiwanya dan malah melemparkannya ke dalam tubuh seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
....
"Kakak, kau sangat tampan dan pandai sekali nge-rap."
"Apa?! Siapa yang kau panggil Kakak, dasar orang gila. Kapan aku nge-rap?!"
Itu adalah Louis.
Pemuda itu mabuk dan secara tiba-tiba menghadang seorang laki-laki asing dan langsung mengatakan omong kosong di atas.
Axvel, Deven, dan Varon sudah tertawa hingga perut mereka kram. Bahkan Elan yang biasanya paling pendiam, harus menutup mulut agar tawanya tidak meledak.
Dengan sebuah ponsel di tangannya, Varon merekam diam-diam tingkah laku Louis yang diluar dugaan mereka itu.
Untuk sampai ke situasi kacau ini, kita harus mundur ke dua jam yang lalu.
Sepulang dari Sekolah tadi sore, Louis dan teman-temannya sepakat untuk keluar malam ini untuk jalan-jalan, dan juga mencari hiburan sedikit sekadar melepas stres sebelum ujian dilaksanakan.
Rencana awal sederhana. Pergi ke wahana bermain, bersenang-senang, lalu makan.
Tapi, Deven tiba-tiba saja mengajak mereka pergi ke sebuah Bar untuk bersenang-senang.
Awalnya Varon menolak keras karena mereka masih belum cukup umur untuk minum alkohol. Namun, Deven mengatakan bahwa mereka datang ke sana hanya untuk bersenang-senang dan tidak akan menyentuh alkohol.
Baru kemudian Varon setuju, dan mereka berlima akhirnya sepakat pergi ke sebuah Bar yang tidak memiliki pemeriksaan umur.
Awalnya semuanya lancar. Musik asyik, suasana menyenangkan, banyak gadis cantik menghampiri. Louis pun tak terkecuali, banyak gadis yang meminta nomor ponselnya walaupun berakhir ditolak semua olehnya.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Louis tiba-tiba saja mengambil gelas minuman milik orang lain dan meneguknya hingga habis tanpa rasa bersalah.
Masalahnya, itu bukan jus lemon.
Itu alkohol.
Dan itu kuat.
Dalam hitungan menit, Louis mulai linglung. Matanya berair dan wajahnya memerah.
Melihat Louis yang tiba-tiba saja bertingkah aneh, Varon dan yang lainnya langsung menyadari bahwa pemuda itu telah mabuk.
Dengan keadaan panik, mereka berempat akhirnya segera pergi meninggalkan Bar dengan terburu-buru sembari memapah Louis yang sudah hampir tidak sadarkan diri karena alkohol.
Mereka awalnya ingin langsung pulang dan membawa Louis ke rumah Axvel untuk menginap setelah meminta izin pada Pamannya, Galen.
Namun, saat dalam perjalanan menuju mobil Varon, Louis tiba-tiba saja membuka matanya, bangkit seperti zombie lalu berlari kencang menuju seorang laki-laki asing yang sedang berjalan santai dan langsung menghadangnya sembari menyemburkan omong kosong hingga situasi saat ini terjadi.