🕊Ch {21}

1K 76 1
                                        

Happy Reading

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading

....

Hari ini, Louis sudah kembali ke Sekolah. Pemuda itu baru saja turun dari mobil.

Sebelum menutup pintu mobil, Louis menunduk sedikit untuk menatap Liam yang duduk di kursi pengemudi. "Tidak perlu menungguku di sini, kau bisa pergi. Pastikan saja ponselmu selalu berada di dekatmu, aku akan menghubungi saat pulang Sekolah." Ucapnya.

Setelah kejadian dimana dirinya dicekik oleh orang tidak dikenal beberapa hari yang lalu, awalnya Galen ingin mengirim beberapa anak buahnya lagi untuk menjaganya selama dirinya berada di Sekolah. Namun, entah kenapa tiba-tiba saja Galen membatalkan hal tersebut keesokan harinya setelah pria itu pulang entah dari mana.

Louis tentu saja tidak keberatan. Dirinya juga akan merasa malu dan risih jika beberapa pria mengikuti dan menjaganya di Sekolah. Hal tersebut terlalu berlebihan dan memalukan baginya. Anak Pejabat saja tidak akan dijaga ketat oleh beberapa pengawal seperti itu, pikirnya.

Mendengar ucapan Louis, Liam ingin menolak. Namun, pemuda itu sudah lebih dulu menutup pintu mobil dan berlari menjauh memasuki gerbang.

Melihat pemuda itu, Liam kemudian hanya menghela napas. Walaupun Louis melarangnya untuk menunggu di sana, ia tetap akan melakukan hal tersebut. Perintah Galen lebih penting. Lagipula hal itu juga demi milindungi Keponakan Bosnya.

Di gerbang, Louis melihat keempat temannya dari kejauhan. Tersenyum lebar, pemuda itu berlari kecil menghampiri mereka. Lalu, tanpa aba-aba langsung melompat ke atas punggung Axvel.

Axvel sangat terkejut saat tiba-tiba saja seseorang naik ke atas punggungnya. Menoleh ke belakang dengan cepat, lelaki itu menukan wajah Louis yang sedang tersenyum lebar padanya.

Varon, Elan dan Deven juga menolah pada Louis. Mereka juga terkejut saat tiba-tiba saja seseorang naik ke punggung Axvel hingga hampir membuat lelaki itu tersungkur ke depan.

"Lou?!" Axvel memanggil kesal, lalu mendengus.

Namun, walaupun terlihat kesal, lelaki itu tetap memegang erat pantat Louis agar temannya itu tidak jatuh.

"Hehe." Louis hanya menyengir seraya mengeratkan lingkaran tangannya di leher Axvel.

Mereka berlima kemudian berjalan bersama dengan Louis yang digendong oleh Axvel di punggungnya.

Deven sesekali menampar pantat Louis gemas.

Beberapa murid di sana bahkan memperhatikan mereka dengan heran. Beberapa dari mereka ada yang berbisik, ada juga yang merasa lucu melihat Louis yang berada dalam gendongan Axvel.

"Demammu sudah sembuh?" Varon kemudian bertanya sembari memperhatikan wajah Louis.

Louis mengangguk, lalu menjawab seraya tersenyum. "Ya, aku sudah sembuh dan diperbolehkan untuk masuk Sekolah oleh Paman hari ini."

Dein GiftCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang