Iyem menarik napas panjang sebelum masuk ke salon.
Mantra paginya masih sama seperti sebulan terakhir:
“Harus kuat menghadapi segala macam dedemit yang bernafas dan bergincu.”
Hari ini genap satu bulan ia bekerja.
Selama itu pula, ia belajar bahwa hidup ternyata tidak sesederhana menyisir rambut dan berbelanja tas tiruan.
Ia baru sadar, mengepel pun butuh teknik dan kesabaran — dua hal yang tidak pernah diajarkan di rumah juragan material.
Dan sekarang, tangan yang dulu hanya tahu memulas lip gloss sudah bisa menggenggam pel dengan rasa tanggung jawab.
Kemajuan besar, pikirnya.
“Selamat pagi,” sapa Iyem ceria begitu masuk.
Beberapa orang menjawab seadanya, sisanya hanya menatap seperti penjaga loket yang sudah muak melihat wajah manusia.
Iyem tersenyum juga. Ia mulai ahli dalam tersenyum pada ketidaksopanan.
Dulu di kampung, semua orang menyukainya — kecuali ibu tiri dan dua anak tirinya, yang tampaknya menganggap kebaikan adalah penyakit menular.
Kini di Jakarta, pola itu berulang: beberapa orang mencintainya karena alasan yang tak jelas, dan lebih banyak yang membencinya tanpa alasan yang lebih baik.
Ia tidak paham kenapa.
Mungkin, pikir Iyem, manusia memang gemar merasa kurang — bahkan di depan orang yang tidak punya apa-apa.
Satu hal yang pasti:
orang Jakarta tidak sehangat orang kampung.
Di kampung, senyum dibalas senyum.
Di kota, senyum dibalas tatapan audit pajak.
Candaan pun berbeda: di kampung, lelucon bisa soal ayam atau hujan; di kota, candaan sering berubah jadi penghinaan terselubung.
Kadang Iyem rindu suasana kampung, di mana “nggosip” masih dilakukan dengan sopan dan memakai panggilan mbak.
“Kalau kerja jangan melamun! Emang kamu digaji buat mikir?”
Bentakan itu datang dari belakang, diiringi aroma parfum murahan yang menyerang indra penciuman.
Resa.
Perempuan dengan suara sebesar egonya dan hati sekecil kapas basah.
Kalau berbicara, bibirnya bergerak seperti ikan mas koki yang dendam pada dunia.
Iyem mengingat mantranya, menatap Resa dengan senyum tipis—senyum yang bisa diartikan apa saja tergantung sudut pandang.
Resa tidak suka ditatap begitu.
Orang seperti dia lebih suka disembah.
“Kenapa? Tidak suka dibilangin, hah?!”
Iyem meletakkan kain lap di wastafel, suaranya tenang tapi jelas.
“Mbak Resa, kenapa? Ada yang salah dengan saya?”
Resa terbelalak. Gadis baru itu berani bicara.
“Anak baru sudah besar kepala ya? Mentang-mentang banyak laki-laki nanyain kamu! Sekarang jadi banyak gaya!”
Ia melangkah maju dan mendorong dada Iyem.
Refleks, Iyem menepis tangannya.
Gerakan kecil, tapi efeknya besar — seperti menyalakan sumbu petasan di ruang rapat.
Resa makin murka dan siap meledak, tapi langkah sepatu tinggi terdengar di belakang mereka.
Lisa muncul.
Senyumnya ramah, tapi sorot matanya seperti pisau yang diasah pakai logika.
“Ada apa pagi-pagi sudah ribut?”
Resa mundur setapak.
Tatapannya masih menancap di Iyem, seolah janji balas dendam itu sudah ditandatangani di dalam hati.
“Tidak ada apa-apa, Mbak Lisa,” ujar Iyem cepat. “Mbak Resa hanya mengingatkan saya soal bekas waxing.”
Lisa memandangi keduanya bergantian.
Wajahnya tenang, tapi ruang terasa mendingin beberapa derajat.
“Kalau sudah selesai, kembali ke tempat masing-masing,” katanya datar.
Resa pergi dengan langkah berat, menyeret egonya seperti koper rusak.
Lisa menatap Iyem yang kini kembali mencuci kain lap, gerakannya seperti tak terjadi apa-apa.
“Yakin kamu tidak apa-apa?”
KAMU SEDANG MEMBACA
IYEMRELA
Mystery / Thriller- dongeng modern tentang cinta, kelas sosial, dan karma yang tak pernah tamat - Iyem hanyalah gadis kampung biasa, sampai Madam Juliet-wanita berkuasa dengan gaya bicara seperti kontrak kredit macet-menjodohkannya dengan pewaris PT DEWO. Demi kelan...
