Luna dan Asya melenggang masuk ke dalam toilet dengan wajah polos mereka.
"Ekhem"
Kedua gadis yang baru saja membicarakan Luna spontan menoleh saat mendengar deheman dari Asya yang sudah memasang wajah datarnya dan berdiri di dekat mereka. Berbeda dengan Luna yang tetap menampilkan senyuman.
"Lu..Luna, Asya..."
"Kenapa gitu nada ngomongnya? Gugup ya karena ketahuan ngomongin gue dari belakang? Udah sih santai aja, di lanjut gih gosipnya. Gue pengen denger nih", tutur Luna dengan raut mengejek.
Kedua gadis tersebut terdiam sembari saling menyenggol satu sama lain.
"Kenapa diem?"
"Luna, soal yang tadi..."
"Ada apa sama yang tadi hmm?"
Seorang gadis bernama Cindy terlihat memberanikan diri dan menatap Luna dengan wajah mendongak angkuh.
"Lo godain Pak Arjuna kan di belakang kita? Cih dasar ganjen"
Luna tertawa kecil.
Lucu sekali mendengar tuduhan tak berdasar dari gadis dengan dandanan menor dan pakaian kurang bahan di hadapannya ini.
Cindy menatap Luna dengan tatapan tak suka. Sementara satu temannya sudah bergerak gelisah di tempatnya.
"Yang ganjen sebenernya siapa? Gue atau lo sendiri, Cindy? Jangan lo pikir gue gak tau gimana kelakuan lo ke bos kita selama ini"
"E..emangnya gue ngelakuin apa hah?"
Luna memindai tubuh Cindy mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ngaca gih, biar lo tau apa maksud ucapan gue barusan"
Cindy menyilangkan kedua tangan di depan dada seolah-olah melindungi tubuhnya sendiri.
"Lo apa-apaan sih, Luna?!"
"Lah kenapa panik? Mana sok-sok nutup tubuh gitu lagi. Bukannya lo emang sengaja pamerin tubuh lo ke semua laki-laki di kantor ini? Beuh apalagi pas pamer ke Pak Arjuna, rasanya pengen gue robek-robek baju yang nempel di tubuh lo itu. Kenapa gue pengen robek? Soalnya gue kasian sama bajunya kayak gak punya harga diri karena di pakai sama tuannya yang kelewat murahan ini", sarkas Asya yang sudah terlampau kesal.
"Eh bukan murahan deng, tapi gratisan. Cabe di pasar aja mahal, masa lo gak ada harganya? Kalah ah sama cabe", tambah Asya.
"Asya, lo...", Cindy sudah akan mengangkat tangannya untuk menampar Asya sebelum suara Luna memasuki indera pendengarannya.
"Jangan pernah berani sentuh sahabat gue atau tangan lo bakalan gue patahin sekarang juga. Gue juga gak akan segan-segan telanjangin lo di sini, Cindy", ujar Luna.
Tatapan tajam ia lemparkan pada Cindy yang sudah menggeram kesal sekaligus menahan malunya.
"Kalau lo juga berani nyentuh gue pake tangan kotor lo itu, gue jamin lo gak akan bisa hidup tenang ke depannya", tambah Asya dengan raut menyebalkan yang minta di sayang.
"Fyi, gue diem aja Pak Arjuna bisa jatuh hati ke gue. Gimana kalau misalkan gue bertingkah? Kayaknya Pak Arjuna bisa sampai bertekuk lutut ke gue kali ya", ucap Luna telak.
"Asal lo tau Cin, gue gak akan berbuat semurah itu hanya untuk merebut perhatian dari para cowok. Gue sayang sama diri gue sendiri. Gue terlalu berharga untuk di dapetin dengan cara murah. Kita sama-sama seorang perempuan, lo harus tau seberharga dan sesayang apa Tuhan sama kita. Gue harap lo bisa sadar dan ngerti maksud dari perkataan gue. Lo mungkin gak nganggep gue sebagai temen lo, tapi gue udah anggep lo sebagai teman yang berharga dan harus di jaga. Gue gak pernah menganggap lo sebagai musuh gue di kantor ini"
KAMU SEDANG MEMBACA
[✔]𝐋𝐮𝐧𝐚 & 𝐀𝐫𝐣𝐮𝐧𝐚 || 𝐉𝐮𝐧𝐒𝐡𝐢𝐡𝐨/𝐌𝐚𝐬𝐡𝐢𝐊𝐲𝐮
Fanfiction-Local name -Warn! Genderswitch/GS "OKAY" "Ok apa?" "OKAY. SAYA BAKALAN TAATIN SEMUA PERATURAN YANG ADA" "Saya pikir kamu bakalan keluar dari sini" "Dari nada suara, bapak kayaknya kecewa banget ya karena saya bakalan taatin semua peraturan yang ada...
![[✔]𝐋𝐮𝐧𝐚 & 𝐀𝐫𝐣𝐮𝐧𝐚 || 𝐉𝐮𝐧𝐒𝐡𝐢𝐡𝐨/𝐌𝐚𝐬𝐡𝐢𝐊𝐲𝐮](https://img.wattpad.com/cover/359899403-64-k217148.jpg)