29. Jafin - Hanum Berlayar⛵

203 24 13
                                        

"Jafin, lo pasti bisa. Semangat!", gumam Jafin sekali lagi sebelum memulai aksinya.

"Ekhem tes tes 1 2 3."

"Ini suara gue masih kedengeran kan ya?", tanya Jafin dengan senyum konyolnya.

"MASIIIIHHHH MASZEHHH!", seru Jevan, Demian dan Hannan hingga urat leher mereka kelihatan.

"Baiklah, karena suara gue masih kedengeran gue mau ngomongin hal yang serius banget sekarang."

"Kak Hanum...", panggil Jafin.

Netra Jafin dan Hanum saling bertemu.

Hanum memasang raut wajah heran. Apa lagi kiranya yang akan dilakukan oleh pria ini?

"Kakak kesana gih samperin Pak Jafin nya." Pinta Asya yang sudah mendorong tubuh Hanum agar segera berjalan menghampiri Jafin.

"Ih Asya jangan dorong-dorong kakak juga." Protes Hanum.

"Nanti kalau gak didorong, kakak gak mau gerak. Samperin pak Jafin nya ya kak, kasian tuh pak Jafin nya udah mau nangis nungguin kakak."

"Hah iya iya, ini kakak mau jalan kok."

Hanum pun berjalan mendekati Jafin. Sesampainya dihadapan pemuda itu, Hanum segera memberi pertanyaan, "Ada apa Jafin?"

"Kak, aku berdiri disini dan manggil nama kakak itu karena aku mau kembali mencoba."

"Mencoba apa?"

"Mencoba untuk menyatakan perasaanku untuk yang kedua kalinya. Kali pertama aku nembak kakak terus aku ditolak, aku sadar kok itu semua karena aku yang keliatan ngedekatin kakaknya kayak orang yang gak serius sama sekali. Aku gak kasih jeda ke kakak buat istirahat dari gangguanku. Dibanding rasa nyaman yang timbul, gangguan aku ke kakak itu malah buat kakak ngerasa gak nyaman dan risih ke aku. Aku akui, cara aku ngedekatin kakak itu kekanakkan banget makanya kakak gak bisa lihat keseriusanku."

Jafin menarik napas kemudian kembali melanjutkan kalimatnya.

"Tapi kali ini, aku mau mencoba lagi. Hanum Megantara, aku Jafin Mahendra ingin kembali menyatakan perasaan yang masih tetap sama. Aku cinta sama kakak dan aku serius tentang perasaanku ke kakak. Sebelum ketemu kakak, aku hanya seorang Jafin yang taunya hanya main dan becanda. Tapi setelah ketemu kakak, aku jadi seorang Jafin yang pengen seriusin semuanya. Terutama seriusin perasaanku ke kakak. Aku terus belajar untuk menjadi Jafin yang lebih baik dari hari ke hari karena kakak. Kakak yang menjadi motivasiku buat berubah menjadi seseorang yang lebih positif disetiap harinya. Kak, aku bener-bener serius sama kakak, gak ada pikiran untuk main-main sedikitpun. Aku pengen selalu jagain kakak, aku pengen jadi lelaki yang bisa kakak andalkan disetiap saat. Kak Hanum, sekali lagi aku bertanya. Aku cinta sama kakak. Apa kakak mau terima cinta dari aku?", Jafin menatap Hanum penuh harap.

Kemarin saat ia ditolak, tak ada yang menyaksikannya. Tetapi sekarang, jika Hanum menolaknya maka penolakan untuk yang kedua kali ini akan disaksikan oleh banyak pasang mata.

Sebenarnya Jafin sudah menyiapkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk, yaitu ditolak lagi oleh Hanum. Namun, Jafin masih menyisakan sedikit kemungkinan terbaik dan berharap mendapat akhir yang happy ending pada kisah cintanya.

Bukan hanya Jafin yang menatap penuh harap pada Hanum, tetapi semua yang hadir disana pun menatap Hanum berharap si mungil nan menggemaskan itu menerima cinta Jafin. Terutama Jingga. Jingga sungguh berharap Hanum berakhir bersama dengan Jafin.

"Kak, Jingga tau kakak sebenernya udah punya perasaan ke kak Jafin. Kakak hanya masih bingung sama perasaan kakak. Tapi Jingga bakalan bantuin hilangin kebingungan yang kakak rasain. Sekarang Jingga mau tanya, kakak kalau ketemu sama kak Jafin itu suka deg-degan atau enggak? Deg-degan yang buat jantung kakak rasanya mau lompat keluar saking kenceng detakannya."

[✔]𝐋𝐮𝐧𝐚 & 𝐀𝐫𝐣𝐮𝐧𝐚 || 𝐉𝐮𝐧𝐒𝐡𝐢𝐡𝐨/𝐌𝐚𝐬𝐡𝐢𝐊𝐲𝐮Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang