.
.
.
.
.
Cafe masih tutup dan Ares meminta mereka semua berkumpul di rumah bintang, Ares bahkan meminta Reska dan Jeje untuk bergabung, karena memang adik nya itu akan mengantar Jeje pulang ke jogja.
Satu hal yang baru diketahui oleh semua penghuni rumah bintang, jika ternyata Reska mengenal Adara. Reska mengatakan jika Adara sebelumnya adalah pegawai di cafe dekat kampusnya, dan selama bertahun-tahun Reska mengenal Adara.
Reska sendiri tidak menyangka jika ternyata Adara adalah putri yang selama ini di cari oleh Rigel.
Matahari pagi yang menyelusup lembut melalui tirai jendela, memantulkan bayangan hangat di dinding rumah bintang.
Leo, Hadar dan Rigel, sibuk mengatur meja di ruang tamu, Ares telah meminta semua penghuni rumah untuk berkumpul.
"Semua sudah selesai?" tanya Ares sambil menatap putranya, Lintang, yang sedang membawakan beberapa gelas teh hangat ke meja.
"Udah nda, habis ini semua di bawa ke sini, tapi om Leo kayaknya Regi masih tidur di kamarnya," jawab Lintang sambil meletakan gelas satu per satu.
"Biar om yang bangunin." Lintang tersenyum, karena dia sudah lelah membangunkan Regi yang tidur seperti kerbau.
"Kalau Candra?"
"Di balkon atas, sibuk sama kamera yang baru aja di kasih om Reska," Lintang tersenyum.
"Tapi yanda gak usah khawatir, mas Candra pasti turun habis ini, lagian mas Candra pingin ngomelin om Reska." Ares tertawa kecil. Dia tahu kebiasaan Candra yang gemar mendokumentasikan pagi di rumah bintang, sejak dia sembuh.
Setiap sudut rumah, dari jendela kayu hingga rak buku tua, telah menjadi subjek favoritnya, belum lagi balkon lantai dua, jika malam akan ada teleskop yang terpasang disana.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Reska dan Jeje muncul di tangga dengan ransel yang ada di pundak mereka.
"Ada yang bisa dibantu mas? Sini aku bantuin." Reska berucap dengan senyum lebar.
"Gak usah, semua udah selesai, sana kalian duduk, kalian mau ke jogja kan." ujar Ares sambil menunjuk kursi kosong.
Jeje dan Reska duduk, diikuti oleh Candra yang akhirnya turun ke ruang tamu, membawa kameranya. Regi juga bergabung, meski ia tampak masih setengah mengantuk.
"Oh iya, mas denger kamu udah kenal sama Adara, bener Res?" Reska menoleh pada Rigel dan mengangguk.
"Iya, aku udah kenal mas."
Semua mata tertuju pada Adara, gadis pendiam yang baru beberapa bulan tinggal di rumah bintang. Adara duduk di sudut ruangan, tampak sedikit canggung dengan perhatian yang mendadak tertuju padanya.
"Iya, aku kenal Adara. Kami bertemu di café dekat kampusku dulu. Dia salah satu pegawai di sana. Waktu itu, Adara sering bantuin aku, bahkan ketika aku lagi stres sana tugas kuliah, dia selalu ada untuk dengerin keluhan ku."
Adara tersenyum kecil mendengar cerita itu. Dia tidak menyangka bahwa kenangan sederhana di masa lalu akan kembali muncul di tempat ini.
"Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau Adara ternyata adalah..." Reska berhenti, menatap Rigel yang duduk di sebelah Adara.
"Putri yang selama ini di cari mas Rigel."
Ruangan itu hening sesaat. Semua orang memandang Adara dan Rigel dengan rasa penasaran. Rigel hanya mengangguk pelan, mengonfirmasi apa yang baru saja dikatakan Reska.
"Benar. Adara memang putriku dan Rion, yang selama ini kucari," ucap Rigel dengan suara lembut, namun sarat emosi.
"Dunia ini memang kecil ya. Aku senang bisa bertemu lagi dengan Adara di sini."
Jeje, yang sedari tadi mendengarkan dengan penuh antusias, tiba-tiba angkat bicara.
"Hei Reska, kenapa gak ajak Adara ikut ke Jogja? Pasti seru kalau dia ikut perjalanan kita." Adara dan Reska terkejut mendengar ucapan Jeje yang tiba-tiba.
Adara menatap Rigel dan Rion, ayah kandungnya, dengan ekspresi ragu.
"Boleh aku ikut?" tanyanya pelan.
Rigel dan Rion saling berpandangan sebelum akhirnya tersenyum.
"Tentu aja boleh," jawab Rion.
"Ini akan jadi pertama kalinya kamu ke Jogja, kan? Nikmati aja perjalanan nya, kalau butuh apa-apa langsung hubungi papa atau ayah." Tambah Rigel.
Adara mengangguk, matanya berbinar penuh antusias.
Lintang, yang sejak tadi mendengarkan dengan penuh perhatian, ikut angkat suara.
"Kalau begitu, kita harus siapkan bekal perjalanan kalian. Kita gak akan pernah membiarkan siapapun pergi tanpa bekal, kan?" Semua tertawa, karena Lintang menjadi yang paling semangat.
"Aku pingin ikut juga, tapi gak bisa aku udah janji mau ikut yanda sama papa ke surabaya." Candra merengut.
"Ya udah nanti kan bisa kita pergi ke jogja Can, nanti kita cari waktu yang tepat ya." Candra mengangguk saat Alta mengatakan itu.
"Candra kangen rumah yang di semarang bun, kalau ke jogja bisa kita mampir?" Alta mengangguk pelan.
"Bis, nanti tunjukin ke yanda apa yang udah kamu sama adek punya ya."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beta Orionis
FanfictionMereka saling bergantung. Mereka saling menjaga. Mereka juga saling menyimpan rasa. Namun terjebak dalam sebuah ikatan bernama sahabat. Orion yang cengeng, selalu bergantung pada Rigel, dan Rigel akan dengan senang hati melakukan apapun untuk Orion...
