29. Kabar duka

137 16 1
                                        


.
.
.
.
.
Pagi itu, suasana rumah bintang masih dipenuhi kehangatan. Semua penghuni sibuk dengan aktivitas masing-masing setelah melepas kepergian Reska, Jeje, dan Adara ke Jogja.

Meski mereka tahu perjalanan itu akan berlangsung aman, Rion merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sejak mobil mereka meluncur keluar dari halaman rumah, hatinya tidak pernah benar-benar tenang.

Senyum bahagia Adara saat menerima foto keluarga beberapa hari lalu terus terbayang di benaknya. Rion kembali mengingat momen itu, bagaimana putrinya memeluk foto itu erat-erat, seolah-olah tidak ingin melepaskannya lagi.

"Ayah, ini pertama kalinya aku punya sesuatu yang benar-benar berarti," katanya waktu itu. Kata-kata itu kini terasa seperti janji yang belum selesai.

Namun, Rion tidak ingin menampakkan kegelisahannya di depan yang lain. Dia mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca buku di ruang tamu, tapi pikirannya selalu kembali ke Adara.

Dia bahkan sampai menemui Rigel di kamar belakang, berharap kehadiran suaminya itu bisa meredakan rasa tak tenang yang terus menghantuinya.

"Kamu kenapa?" Rion memeluk Rigel yang kebingungan.

"Aku kepikiran Adara, aku gak tenang." Rigel berbalik membalas pelukan Rion.

"Ada baru aja pergi sejam lalu loh yang, dia pasti aman. Ada Reska, ada Jeje, Adara juga udah gede, kan gak mungkin kita tetep nahan dia disini." Rion menunduk, meskipun begitu perasaannya belum juga tenang.

"Tapi aku takut Gel, rasanya aku gak rela ngelepas Adara pergi tadi, aku takut."
.
.
.
.
.
Perjalanan Reska, Jeje, dan Adara menuju Jogja berjalan lancar pada awalnya. Reska menyetir dengan tenang, sementara Jeje sibuk menunjuk tempat-tempat menarik yang ingin ia kunjungi.

"Kita berhenti di sini sebentar, ya mas. Aku mau beli oleh-oleh," kata Jeje sambil menunjuk sebuah toko di pinggir jalan.

"Kamu udah beli banyak oleh-oleh Je, kayak orang tua kamu bisa ngabisin aja." Reska mencibir pada Jeje.

"Biarin aja deh mas."

Adara hanya tersenyum sambil menikmati perjalanan itu. Baginya, ini adalah pengalaman pertama yang penuh kebahagiaan setelah bertahun-tahun hidup dalam kesendirian. Melihat Reska dan Jeje bercanda di depan membuatnya merasa seperti bagian dari keluarga baru.

Namun, semuanya berubah sekejap ketika mereka keluar dari wilayah Ngawi. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalur yang berlawanan. Sopir mobil itu kehilangan kendali, masuk ke jalur mereka, dan menabrak mobil yang dikendarai Reska dengan keras.

Brak

Brak

Brak

Benturan itu begitu kuat hingga mobil mereka terseret beberapa meter, menghantam pembatas jalan. Beberapa kendaraan lain juga terlibat dalam kecelakaan itu, menciptakan pemandangan kacau penuh puing-puing dan jeritan minta tolong.

Adara sempat sadar saat ambulans datang. Namun, kondisinya kritis. Dengan napas yang tersengal, dia mencoba memanggil nama ayahnya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.

"A-ayah... P-pa-pa... Ma-af."

Adara meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sementara itu, Reska dan Jeje dinyatakan meninggal di tempat akibat benturan yang terlalu parah.

Kabar kecelakaan itu sampai ke rumah bintang pada sore harinya. Telepon dari pihak kepolisian membuat Ares yang pertama kali mendengar kabar itu langsung membeku.

Lelaki menatap kosong, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Setelah beberapa detik keheningan, ia segera berlari ke ruang tamu, di mana Rion sedang duduk.

"Rion..." suara Ares bergetar, matanya mulai basah.

"Ada apa, bli?" tanya Rion bingung, meski hatinya sudah mulai dipenuhi firasat buruk.

"Reska... Jeje... dan Adara... mereka..." Ares tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Rion menatapnya dengan tatapan bingung, karena Ares belum mengatakan semuanya.

"Ada apa bli? Ada apa sama mereka?" Rion bertanya sedikit keras. Hal itu mengundang semua orang datang ke ruang tamu.

"Mas Ares, ada apa?" Alta akhirnya membuka suara, bertanya saat melihat Ares meneteskan air matanya.

"Ada kecelakaan. Mobil mereka ditabrak... semuanya meninggal," ujar Ares akhirnya, suaranya pecah oleh tangis.

Rion langsung jatuh terduduk di lantai, sedangkan yang lain terpaku.

"Gak mungkin... Gak mungkin..." Rion terisak.

Wajah bahagia Adara saat menerima foto keluarga kembali menghantui pikirannya. Ia menutup wajahnya dengan tangan, menangis histeris.

Semua penghuni Rumah Bintang berkumpul di ruang tamu, terdiam dalam kesedihan. Rigel memeluk Rion erat-erat, berusaha memberikan dukungan, meski dirinya sendiri hampir tidak mampu menahan air mata.

Candra duduk di sudut ruangan, menatap kosong lantai. Regi dan Lintang mencoba menguatkan diri, tapi tangis mereka akhirnya pecah juga.

Meskipun mereka baru saja mengenal Adara, namun gadis itu membawa warna baru dalam keluarga mereka.

Adara gadis yang baik, pekerja keras, Rion dan Rigel bahkan baru sebentar mendekap putri mereka itu.

Candra menangis di pelukan Jojo, selain kehilangan Adara, dia juga kehilangan Reska, om nya yang sudah menyelamatkan hidupnya.

Ares, yang merasa bertanggung jawab sebagai yang tertua, berusaha tegar. Lelaki itu segera menghubungi Azka dan Rehan, dua om nya yang menjadi wali dari adiknya Reska. 

"Kalian harus datang ke Pare sekarang. Kita akan berangkat dari pare, aku mau Reska dimakamkan di pare." katanya dengan suara serak.

Rencana Ares untuk pergi ke Surabaya hari itu langsung dibatalkan. Ia tidak bisa meninggalkan rumah bintang dalam keadaan seperti ini. Baginya, keluarga yang ada di rumah itu adalah segalanya.

Malam itu, mereka semua berkumpul di ruang tamu, memutuskan untuk pergi bersama ke Ngawi.

Rumah bintang yang biasanya penuh kehangatan kini diselimuti kesedihan mendalam. Kehilangan Reska, Jeje, dan Adara meninggalkan luka yang sulit untuk disembuhkan. Tapi mereka tahu, dalam setiap duka, ada kekuatan yang harus ditemukan bersama-sama.

Teruma untuk Rion dan Rigel, mereka akhirnya kembali kehilangan putri mereka, dan kali ini untuk selamanya.
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.

Beta OrionisCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang