.
.
.
.
.
Ara menatap layar ponselnya yang sedang memutar sebuah film dengan lekat, sebenarnya dia bosan berada di rumah tapi dia terlalu malas untuk pergi keluar rumah.
Keluar rumah hanya akan menghabiskan uang menurut Ara, sedangkan dia harus mengatur dan memastikan jika gajinya akan cukup untuk sebulan. Ya meskipun gajinya lumayan besar untuk di gunakan seorang diri, tapi sang ibu masih sering kali meminta uang padanya.
Ara bukan anak yang boros, dia selalu memikirkan dan merinci apa saja yang dia butuhkan sebelum belanja, dia tidak suka membeli barang-barang yang menurut nya tidak terlalu berguna. Itulah kenapa dia tetap bisa memiliki tabungan dari gaji nya, namun sayang ibu nya sering kali datang ke tempat nya dan meminta uang nya.
"Bosen." Ara akhirnya mematikan ponsel nya, gadis itu merebahkan tubuhnya di atas lantai.
"Mama gak akan nyari aku kesini kan? Aku takut kayak sebelum-sebelumnya, mama nyari ke cafe, minta uang sambil teriak-teriak, ending nya aku di pecat." Ara menghela nafas panjang, mengingat pekerjaan nya di tempat sebelumnya yang membuat dia di pecat.
"Mama gak tau alamat sini, jadi gak akan cari ke sini. Bu Sina juga gak akan kasih tau kemana aku pindah, aku jadi ngerasa jahat." Ara memutuskan bangkit dari posisi nya setelah puas berbicara sendiri.
Ara sebenarnya tadi ingin membersihkan rumah itu, tapi ternyata rumah itu sudah bersih, sepertinya memang sengaja di bersihkan sebelum dia datang.
Rumah itu cukup lengkap, ada sofa, ranjang, lemari, televisi, kulkas, dapur dan segala peralatan masak nya, bahkan ada wifi. Rion dan Igel berkata jujur, bahwa gaji nya akan bersih.
"Mereka memang sebaik itu ya? Soalnya pak Ahmad bilang orang-orang pusat sangat loyal pada pegawainya."
.
.
.
.
.
Rion terlihat bahagia sejak kedatangan Ara tadi, dan itu membuat semua penghuni rumah bintang bingung. Ara adalah orang baru bagi mereka, jelas saja tidak ada di antara mereka yang pernah berhubungan dengan gadis itu sebelumnya, namun apa yang Rion lakukan sama seperti saat lelaki itu bertemu Candra pertama kali.
"Rion, beneran kamu gak kenal sama Ara sebelum nya?" Rion menggeleng saat Alden bertanya.
"Kenapa sih Den?" Alden menatap Alta dan Ares yang sedang ada diruang tamu bersama mereka.
"Kamu sadar gak sih kalau tingkah kamu itu sama kayak waktu kamu ketemu sama Candra dulu, makanya aku tanya itu ke kamu." Rion terdiam sejenak sebelum kembali menggelengkan kepala nya.
"Aku belum pernah sama sekali ketemu sama dia sebelum nya, tapi kalau aku boleh jujur aku ngerasain rasa nyaman waktu deket sama dia, kayak waktu aku deket sama anak-anak, rasa nya sama kayak waktu aku ketemu Candra dulu."
Sret
Ares mengelus kepala Rion yang memang duduk di lantai, sedangkan dia duduk di sofa.
"Udah gak usah di pikirin, anggap aja itu firasat baik kalau Ara bakal jadi keluarga kita nantinya, dia mungkin bisa jadi pegawai perempuan satu-satunya di galaxy's cafe pare." Ucapan Ares ada benarnya juga. Ara akan jadi satu-satunya pegawai perempuan di galaxy's cafe pare.
"Besok aku mau ngajak dia jalan-jalan, mas Alta mau ikut?" Alta menggeleng.
"Gak usah, aku mau nemenin Lintang bikin kue, ajak aja mas Ares, biar gak ngerusuhin aku sama Lintang." Ares yang ada di sebelahnya tampak terkejut mendengar ucapan Alta.
"Ya gusti yang, gitu amat." Alta tertawa kecil, dia tau Ares pasti paham jika dia hanya menggoda.
"Bang Ares ikut aja, siapa tau bang Area bisa lihat sifat nya Ara lebih dulu." Ares hanya menghela nafas saat Rius berbicara seperti itu dan diangguki oleh Alta, Alden bahkan Rion sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beta Orionis
FanfictionMereka saling bergantung. Mereka saling menjaga. Mereka juga saling menyimpan rasa. Namun terjebak dalam sebuah ikatan bernama sahabat. Orion yang cengeng, selalu bergantung pada Rigel, dan Rigel akan dengan senang hati melakukan apapun untuk Orion...
