.
.
.
.
.
Rion berdiri di hadapan dua gundukan tanah basah yang bertabur bunga, menatap nisan-nisan yang baru saja dipahat.
Matahari pagi yang cerah terasa terlalu kontras dengan kesedihan yang menghimpit dadanya. Di hadapannya adalah makam Adara, putrinya yang baru saja ia temukan kembali, dan Reska, adik dari Ares yang selama ini ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
Air matanya mengalir tanpa henti. Ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari nisan yang memuat nama putrinya.
"Aileen Adara," dia menggumamkan nama itu dengan suara bergetar. Hatinya terasa berat saat mengingat betapa singkat kebersamaan mereka.
Di sebelahnya, Ares berdiri diam dengan tatapan kosong. Alta berusaha tegar meski matanya masih merah karena tangis. Rigel, yang biasanya begitu kuat, kali ini terlihat rapuh. Wajahnya tertunduk, memendam duka yang mendalam.
Tak jauh dari mereka, Angga, ayah Rion, dan Damar, ayah Rigel, juga ikut larut dalam kesedihan. Dua pria tua itu berdiri di sisi makam, menundukkan kepala mereka dalam keheningan. Kehilangan cucu mereka adalah pukulan yang berat, sebuah duka yang mereka tahu tidak akan pernah sepenuhnya hilang.
Di kejauhan, Candra berdiri bersama Jojo. Tangannya meremas lengan Jojo yang dengan setia merangkul pundaknya.
"Kenapa om Reska pergi duluan mas?" Jojo hanya bisa mengelus pundak Canda sembari menggeleng.
"Semua sudah menjadi takdir tuhan Ndra."
Candra selalu memilih menjaga jarak dari keramaian saat ia berduka, tapi kali ini, kesedihannya terpancar jelas dari tatapan kosongnya.
Rion kembali menundukkan kepala, membiarkan air matanya jatuh ke tanah.
"Adara... Putriku," Rion kembali terisak pelan.
Perasaan kehilangan itu begitu dalam, seperti luka yang tidak bisa disembuhkan. Ia mengingat wajah Adara pasca kecelakaan, wajah cantik yang dihiasi luka akibat pecahan kaca. Goresan-goresan itu seperti simbol dari takdir yang kejam, memisahkan mereka sekali lagi.
Ia juga mengingat kata-kata dokter yang memberitahunya bahwa Adara kehilangan banyak darah akibat luka di kepala.
"Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi kondisinya terlalu parah," kata dokter itu, suaranya terdengar seperti gema di kepala Rion.
Dan Reska... keadaan adik Ares itu lebih memilukan. Tubuhnya hancur akibat benturan keras, dan kakinya terjepit oleh bodi mobil yang ringsek. Rion masih bisa mendengar jeritan histeris Alta saat dokter menyampaikan kabar duka itu.
"Reska... dia tidak bisa diselamatkan," kata dokter itu sambil menggelengkan kepala.
Rion menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus menyalahkan takdir.
Rion tidak menyalahkan Tuhan atas kepergian Adara. Dia hanya merasa belum siap untuk berpisah dengannya, terutama setelah baru saja menemukan kembali gadis kecilnya itu.
Namun, ia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang berduka. Rigel, yang juga kehilangan putrinya, berdiri di sampingnya dengan bahu yang terlihat lunglai. Rion mengulurkan tangannya, menepuk pundak Rigel dengan lembut.
"Kita harus kuat kan Gel?" Rion berkata pelan, sedangkan Rigel hanya mengangguk kecil.
"Adara gak akan suka melihat kita seperti ini."
Rion mengangguk pelan, meski air matanya kembali mengalir.
"Aku tahu... tapi ini sulit," jawabnya dengan suara serak.
Ares akhirnya angkat bicara, suaranya tegas meski ada nada duka yang tidak bisa disembunyikan.
"Kita semua kehilangan bagian dari keluarga kita. Adara dan Reska adalah bagian keluarga kita. Kepergian mereka meninggalkan luka, tapi kita tidak boleh membuat mereka berat melangkah karena tangisan kita."
Alta menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan isaknya.
"Aku cuma pingin Reska bahagia di sana... dan Adara juga," katanya dengan suara bergetar.
"Aku yakin mereka bahagia," Angga mendekat dan berkata dengan lembut.
"Mereka akan selalu ada di hati kita."
Satu per satu penghuni Rumah Bintang meletakkan bunga di atas makam. Keheningan menyelimuti mereka, hanya ditemani oleh suara angin yang berdesir pelan.
Rion mengusap wajahnya, mencoba menghapus air mata yang terus mengalir.
"Ayah berjanji, Adara. Ayah akan mengenangmu dengan senyuman. Meski ini berat, aku akan berusaha kuat," gumam Rion pelan, seolah berbicara langsung kepada putrinya.
Saat mereka bersiap meninggalkan pemakaman, Rion menoleh sekali lagi.
Gundukan tanah itu terasa seperti pengingat abadi akan cinta dan kehilangan. Namun, ia tahu bahwa kehidupan mereka semua harus terus berjalan.
Kehilangan Adara dan Reska adalah luka yang tidak akan pernah hilang, tapi mereka semua berjanji untuk menjaga kenangan mereka tetap hidup—sebagai bagian dari keluarga yang tidak akan pernah terpisah oleh waktu atau jarak.
.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
.
Beta Orionis akhirnya tamat...
Bukan bermaksud menggantung ceritanya sekian lama, tapi memang buat nulis bagian ending aku harus dalam mood yang baik, kalau gak nanti book yang lain bisa kena imbasnya.
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Beta Orionis
FanfictionMereka saling bergantung. Mereka saling menjaga. Mereka juga saling menyimpan rasa. Namun terjebak dalam sebuah ikatan bernama sahabat. Orion yang cengeng, selalu bergantung pada Rigel, dan Rigel akan dengan senang hati melakukan apapun untuk Orion...
