08. Pergi dari bali

221 42 0
                                        


.
.
.
.
.
Butuh waktu dua bulan untuk Rion kembali pulih, dan selama itu pula Igel sama sekali tidak meninggalkan sisi rion. Tidak ada yang membahas tentang bayi mereka, karena fisik Rion memang membaik tapi tidak dengan mentalnya.

Disiksa oleh ibu kandung nya sendiri bahkan putrinya diambil paksa, tentu saja mengguncang mental Rion, yang selama ini selalu tumbuh dengan dihujani kasih sayang.

"Hati ini kita bisa pulang, mau pulang ke rumah kami atau ke rumah ku?" Igel mencoba mengajak Rion berbicara dengan lembut.

"Gak mau ke rumah ibuk, ibuk jahat." Igel mengangguk, dia paham jika Rion ingin pulang ke rumah nya.

"Kalau gitu, ayo pulang ke rumah Yon. Aku akan jadi rumah mu setelah ini, aku gak akan pergi ninggalin kamu kecuali kamu yang minta aku buat pergi."

Grep

"Jangan bilang itu!" Rion memeluk tubuh Igel erat.

"Jangan pergi, Igel gak boleh pergi!" Igel mengelus kepala Rion lembut.

"Iya, aku gak akan pergi, sekarang ayo pulang." Rion hanya menurut saat Igel menuntunnya untuk berjalan keluar kamar.

Rion hanya diam sepanjang jalan mereka menuju keluar rumah sakit, beberapa kali remaja yang akan berusia enam belas tahun itu akan menatap sendu pada beberapa orang yang datang membawa bayi nya ke rumah sakit.

"Rion ayo, sudah jangan dilihat."
.
.
.
.
.
"Igel maaf." Igel yang sedang membereskan barang-barang Rion dari rumah sakit langsung menoleh.

"Maaf buat apa?" Igel terpaksa menghampiri Rion saat melihat sahabat nya itu menunduk.

"Maaf aku gak bisa jaga anak kita, ibuk ambil dia. Ibuk bilang dia meninggal tapi aku gak percaya, aku mau lihat makamnya kalau memang dia meninggal. Aku yakin dia masih hidup Gel."

Grep

Igel langsung memeluk tubuh Rion yang gemetar, emosi pemuda itu kembali naik saat menceritakan tentang ibu nya.

"Aku benci ibuk Gel, aku benci ibuk. Ibuk bikin aku pisah sama anak ku." Igel mengeratkan pelukannya.

"Rion dengerin aku, kita kehilangan. Tapi coba ikhlas ya, dokter muda yang membantu ibuk operasi kamu waktu itu bilang, dia sudah meninggal saat di keluarkan. Dia gak nangis dan tubuhnya langsung dingin begitu dia keluar dari perut kamu, kita ikhlasin ya?" Rion kembali menangis saat mendengar penjelasan Igel.

"Nanti kita mulai hidup baru ya, kita ikhlasin dia. Biarin dia jadi surga buat kamu nantinya, aku gak akan ninggalin kamu, percaya sama aku."

Igel hanya bisa mengucapkan kalimat-kalimat penenang saat ini, karena Rion kembali menangis. Isakan pemuda itu membuat Igel ikut merasakan sakit.

"Udahan yuk nangisnya, nanti jangan lupa kirim doa buat princess kita tiap kali ibadah ya?" Rion memberikan anggukan kecil.

"Janji jangan pernah tinggalin aku ya?" Igel kembali mengangguk.

"Rion, lusa mau datang?" Rion kembali terdiam saat mendengar pertanyaan Igel.

"Kemana?"

"Papa sama ayah nikah lusa, mereka mau kita datang." Rion mengepalkan tangannya.

"Kita gak boleh bahagia ya?" Igel terdiam, dia juga memikirkan tentang itu tadinya.

"Rion."

"Kenapa papa harus nikahin ayah? Kenapa bukan orang lain? Kenapa kamu setuju Igel?" Igel menunduk saat Rion mengatakan itu.

"Papa kasih syarat buat setuju dan gak protes kalau papa mau nikah Yon, siapapun calonnya. Saat itu yang ada di pikiran aku cuma nemuin kamu dalam keadaan selamat. Maafin aku ya?" Rion menggeleng.

"Bukan salah kamu, makasih karena udah berusaha nyariin aku Gel." Igel tersenyum tipis.

"Jadi mau datang?" Rion mengangguk.

"Tapi setelah itu kita pergi kan Gel?" Igel balas mengangguk.

"Iya kita pergi, seperti permintaan kamu."
.
.
.
.
.
Pernikahan Angga dan Damar berlangsung sederhana, karena ini merupakan pernikahan kedua mereka dan mereka juga tidak ingin mengadakan pesta.

Hanya beberapa kerabat dan rekan kerja mereka yang datang, juga kedua putra mereka.

Angga bersyukur saat melihat Rion hadir, itu artinya putranya itu merestui pernikahannya. Angga sebelumya takut jika Rion akan menentang pernikahannya karena putranya itu mencintai Igel, pemuda yang saat ini berstatus putra tirinya.

"Rion, Igel." Keduanya mendekat saat mendengar Angga memanggil nama mereka.

"Ayah, papa selamat." Igel mengucapkan selamat, sedangkan Rion hanya diam saja.

Angga dan Damar memaklumi tingkah Rion, karena pemuda itu baru saja mengalami kejadian yang sangat buruk.

"Igel sama Rion mau pamit, Rion ngeluh pusing sama lemes dari tadi." Angga dan Damar langsung terlihat khawatir saat Igel mengatakan itu.

"Rion ada yang kerasa sakit?" Rion menggeleng.

"Gak ada pa, Rion cuma pingin tidur." Damar mengelus kepala Rion lembut.

"Ya udah kalian boleh pulang, langsung istirahat pas sampai rumah ya." Rion hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

"Jangan lupa makan ya nak, ayah gak mau liat anak ayah sakit lagi." Rion kembali mengangguk.

Grep

"Ayah makasih." Angga tersenyum saat Rion memeluknya, sudah sangat lama sejak Rion memeluknya dengan erat seperti ini.

"Kalau gitu Igel sama Rion pamit yah, pa." Angga dan Damar tersenyum, mereka hanya tidak tau jika itu akan menjadi pertemuan mereka yang terakhir dengan kedua putra mereka.

"Iya hati-hati ya."
.
.
.
.
.
Igel bergerak cepat dengan mengambil semua uang tabungan mereka berdua, sebelum mereka benar-benar pergi dari bali.

Sesuai permintaan Rion sebelumnya, mereka akan pergi dari bali setelah menghadiri pernikahan orang tua mereka.

"Yon, udah siap?" Rion mengangguk.

"Sini tasnya, biar aku yang bawa. Taxi nya udah dateng." Rion hanya menurut saat Igel meminta tas nya.

"Tas nya udah aku taruh taxi Yon, ayo pergi." Rion mengangguk.

Keduanya masuk kedalam taxi yang langsung membawa mereka pergi ke pelabuhan, karena mereka memang ingin pergi tanpa meninggalkan jejak.

Menaiki kapal untuk pergi ke jawa adalah pilihan tepat dibanding menaiki pesawat, karena jika dengan pesawat maka tujuan mereka akan lebih cepat di ketahui oleh kedua ayah mereka.

Butuh waktu dua jam untuk mereka sampai di pelabuhan, beruntung kapal menuju banyuwangi belum berangkat hingga mereka tidak terlambat dan harus menunggu hingga dini hari.

"Makasih Gel." Igel tersenyum dan mengecup kepala Rion.

"Aku juga makasih Yon, makasih karena udah bertahan sampai sekarang. Setelah ini kita bakal buka lembaran baru, tanpa ayah sama pap. Jadi kalau ada apa-apa langsung bilang ke aku ya?" Rion hanya mengangguk dalam rangkulan Igel. Mereka sudah berada dalam kapal yang akan membawa mereka ke banyuwangi.

"Setelah ini kita mau kemana?" Igel menggeleng, dia juga tidak tau mereka akan kemana setelah ini.

"Nanti kita naik bus pertama yang kita temui aja, kemana pun tujuannya, kita akan berhenti disana." Rion tersenyum mendengar jawaban Igel.

"Kemana pun itu asal sama kamu Gel, jangan pernah tinggalin aku, atau aku bakal nyusul adek." Igel mengangguk sambil sesekali mengecupi kepala Rion.

"Iya, kamu bisa pegang janji ku."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.

Beta OrionisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang