27. Senyuman itu

104 16 0
                                        


.
.
.
.
.
Bagi Rion semua yang dia lihat saat ini terasa seperti mimpi, pagi ini dia melihat Adara yang masih tertidur di kamar nya.

Sudah dua minggu setelah mereka pulang dari bali, Adara memang tinggal di rumah bintang untuk sementara atas permintaan Rion. Rion ingin melihat putrinya bangun tidur saat pagi hari, dan memastikan jik putri nya tidak tidur terlalu larut saat malam hari.

Penghuni rumah bintang ikut merasakan kebahagiaan Rion dan Igel, meskipun selama ini Rion terlihat baik-baik saja, namun mereka tau jika Rion sedang berusaha menyembuhkan luka nya.

Rion menunggu obat dari luka nya yang selama ini belum juga datang, beruntung Igel tidak pernah menyerah mencari putri mereka.

Takdir tuhan membawa Rion menemukan Adara pertama kali, membawa gadis itu kedalam lingkup mereka, hingga semua terbongkar.

"Ayah lagi apa?" Adara yang baru saja bangun terkejut melihat sang ayah duduk di sisi kasur nya dan menatapnya lekat.

"Nungguin kamu bangun, kamu kalau tidur mirip sama papa kamu." Adara tertawa pelan, ini bukan pertama kalinya Rion mengatakan hal itu.

"Masih ngantuk?" Adara menggeleng. Adara masih mengulet diatas kasur tanpa niatan untuk bangun, bukan karena masih mengantuk seperti kata Rion, namun itu sudah menjadi kebiasaan Adara untuk mengumpulkan nyawanya.

"Habis ini langsung mandi ya, nanti ayah buatin sarapan." Adara baru akan mengangguk namun urung saat mendengar kata sarapan dari sang ayah.

"Ayah terlalu pagi buat saya sarapan." Adara mencoba memberitahu Rion, namun Rion tidak peduli.

"Temani ayah sarapan kalau begitu." Adara menghela nafas panjang dan mengangguk.

"Ya terserah ayah aja."
.
.
.
.
.
Adara tidak tau jika rasanya diperhatikan oleh orang tua itu akan sangat membahagiakan, selama ini Adara hanya bisa membayangkan saat melihat adik-adiknya di manja oleh Vania.

Namun kali ini Adara merasakan sendiri bagaimana rasanya dimanja oleh ayah dan papa nya, keduanya tidak pernah membiarkan Adara sendirian, terutama saat cafe sedang tutup seperti sekarang.

"Ara, mau ikut ayah sama papa?" Adara yang sedang berada di ruang tamu langsung menoleh.

"Mau kemana?" Rion tersenyum.

"Jalan-jalan, ayo." Adara hanya menurut, karena baginya tidak ada salahnya menuruti keinginan orang tua nya.

"Papa sama ayah mau jalan-jalan kemana?" Rion yang baru saja masuk kedalam mobil hanya tersenyum.

"Ke kediri, atau kamu mau kemana gitu?" Adara terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng.

"Ara ikut kemana tujuan papa sama ayah aja." Mendengar jawaban sang putri, Rion dan Igel hanya tertawa.

"Kalau kamu mau pergi ke tempat lain, jangan sungkan buat bilang." Adara mengangguk dan mengulas senyum.

Perjalanan mereka ke kediri di hiasi dengan obrolan ringan dari Rion dan Adara, Rion bertanya hal-hal kecil tentang Adara, karena dia ingin dekat dengan putrinya itu.

"Ayah, papa, bisa nanti kita foto studio?" Rion menoleh dan menatap Adara, berbeda dengan Rigel yang terdiam bingung.

"Iya nanti kita foto studio sekalian, kita belum punya foto bertiga."
.
.
.
.
.
Adara terus mengulas senyum bahagia sejak mereka melakukan foto keluarga, gadis itu menatap lekat pada foto yang sudah mereka cetak.

Rigel dan Rion melihat semuanya, mereka juga turut bahagia melihat Adara seperti itu. Namun mereka juga merasakan hal yang lain, ada perasaan tidak nyaman saat melihat senyum lebar Adara, seolah mereka tidak akan pernah melihat senyum itu lagi.

"Kamu seneng banget ya?" Adara menatap ayah dan papa nya sebelum akhirnya mengangguk.

"Iya, saya akhirnya punya foto keluarga." Ucapan itu di ucapkan oleh Adara tanpa niat apapun, namun Rion mendengarnya dengan mata berkaca-kaca.

"Ara, maafkan ayah karena tidak bisa mempertahankan kamu untuk tetap bersama ayah saat itu." Adara yang mengetahui jika ekspresi sang ayah berubah langsung menggeleng.

"Bukan salah ayah, semua sudah takdir. Gak ada yang bisa di salahkan lagi, lagi pula ayah tidak pernah benar-benar melupakan saya, ayah dan papa masih terus mencari saya." Rion memeluk tubuh putrinya itu.

Putri nya sudah dewasa, diusianya sekarang bahkan seharusnya Adara sudah bisa menikah, namun sepertinya gadis itu tidak memiliki niat kesana.

"Oh iya, papa dengar kamu sedang dekat dengan Septian?" Adara menatap sekalias pada sang papa dan mengangguk.

"Hanya sekedar berkenalan pa, tapi dia intens mengirimkan pesan setiap hari." Rigel mengulas senyum.

"Dia suka sama kamu kayaknya mbak." Adara hanya mengedikan bahunya acuh.

"Kalau dia suka kamu gak papa kok mbak, dia baik." Adara hanya mengulas senyum.

"Saya gak pernah kepikiran buat nikah."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.

Beta OrionisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang