Dan yang paling kurang ajar adalah, sepertinya V lupa kalau hari ini dia ada janji kencan dengan Pinnara.
Sehingga di sini, tempat biasa, dia menunggu V sampai sore.
Jelas dia mencoba menghubungi V, hanya saja nomor yang dia hubungi tidak aktif. Seolah-olah V sengaja mematikan ponselnya.
Ini pertama kalinya V lupa mengenai kencan mereka.
Lama Pinnara tatap ponselnya, sebenarnya Pinnara tidak begitu mengerti tentang cinta. Wajar, karena dia baru 16 tahun jalan 17 tahun.
Jika ditanya, apa itu cinta, maka dia akan menjawabnya dengan lantang, cinta itu dirinya sendiri.
Bak kata Noah, Pinnara itu copyan-nya Perth. Papa mereka, hanya saja Pinnara tidak menyalin sifat Perth yang kejam dan keras kepala.
Pinnara hanya menyalin sifat Perth yang bodoh amat, ceria, manja dan mencintai dirinya sendiri.
Lalu, cintakah Pinnara pada V?
Jawabannya masih ambigu, sebab ada tidak adanya V, hidup Pinnara tetap bahagia.
Bahkan rasa rindupun nyaris tidak pernah dia rasakan pada V. Bagi dia V itu hanya tanggung jawab. Dia takut, jika dia pergi meninggalkan V, maka V kembali mencoba mengakhiri hidupnya.
Lebih tepatnya dia kasihan pada V, Puncak dari seluruh cinta di alam semesta.
Dia memang senang ketika bersama V, namun hanya sebatas itu. Tidak ada kata rindu maupun perasaan yang menggebu-gebu.
Buktinya dia tidak masalah jika V tidak mau datang ke rumahnya maupun datang untuk menjemput dia kesekolah.
"Mungkin dia sibuk sampai lupa kalau hari ini kita ada kencan." Monolog Pinnara akhirnya dia beranjak pergi dari sana.
Lagipula ini sudah sore, jadi dia harus pulang.
Tak terasa sudah satu bulan saja sejak hari itu, selama itu juga hubungan Pinnara dan V semakin berjarak, bahkan mereka hampir tidak pernah berkomunikasi.
Sementara selama itu juga, Meen terus berusaha mendekati AE tanpa mengenal lelah.
Hampir setiap jam makan siang dia memberikan AE setangkai mawar merah sebab dia tidak bisa mengajak AE makan siang, mengingat AE selalu makan siang bersama Noah.
Chat dari Meen juga tidak pernah AE balas, sekedar dia baca.
Ukuran serta bantuan yang Meen tawarkan juga tidak pernah dia terima, walaupun itu hanya sekedar membantu dia belajar.
Apapun metode yang Meen pakai untuk mendekati AE, selalu berakhir sia-sia.
Seperti hari ini. "Ae, please terima cinta aku," Ini pernyataan cinta yang ke sekian kalinya dari Meen untuk AE. Dia belum menyerah juga tuk menjadi prianya AE.
"Tapi pacaran itu ga gampang," Tanggap AE tetap fokus menatap layar monitor laptopnya, dia sedang mengerjakan tugas kuliah di rooftop kampus yang jarang dikunjungi oleh mahasiswa mahasiswi.
"Aku harus gimana biar perasaan kamu tidak bimbang? Percayalah, aku serius mencintaimu."
Ae menoleh, menatap sebentar Meen yang tampak berpikir. Cemilan dan minuman yang dia bawa untuk AE tadi masih berada merdeka di dalam kantong.
"Sebenarnya ada satu hal yang bikin aku senang," Ujar AE lagi jinak dia hari ini.
"Kalau begitu ayo lakuin sekarang," Ajak Meen antusias, dia akan selalu melakukan apapun yang AE mau, semampunya.
"Kalau begitu berhentilah menemui ku." Ucapnya serius walaupun dia harus mendustai hatinya sendiri.
Degh. Tak dapat dielakkan rasa nyeri langsung menyentak jantung hati Meen. "Maksudmu?" Dia bukan pria bodoh, tapi dia tetap bertanya karena dia pikir dia salah dengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You!
Fiksi PenggemarSeason 2 dari fanfic IT'S YOU! ❄️💙❄️ "Padahal aku sudah bantuin kamu, tapi begini caramu berterima kasih kepadaku?" "Jadi senior membantuku karena mengharapkan sesuatu?" "Anggap saja begitu!" Jawab Meen tersulut juga emosinya sebab Ae menepis kasar...
