Pagi ini Meen kembali menghindari Ae. Dia tak ingin memperburuk pertengkaran mereka karena baginya saat ini mereka berdua butuh waktu sejenak untuk berpikir tentang hubungan mereka yang sudah merenggang.
"Meen! Tunggu!" Bright menyusul langkah cepat Meen memasuki gedung fakultas mereka. "Kamu kenapa sejak kemarin kelihatan kayak orang patah hati?" Kepo dia pada adik sahabatnya.
"Aku lagi males cerita, bang," Tukas Meen semakin memburuk moodnya. Memar di pipinya masih ada walaupun tidak begitu kentara dengan kulit putihnya.
Lantas Bright merangkul bahu Meen lalu meremasnya pelan. "Kamu bisa cerita sama aku. Apa kehidupan kamu sama kekasihmu lagi gak baik-baik saja? Atau kamu lagi berantem dengan orangtuamu? Apapun itu, kamu bisa cerita padaku, percayalah... Rahasia mu di jamin aman."
Meen melayangkan tatapan sengit pada Bright yang sudah dia ketahui luar dalamnya. "Tidak, bukannya aku tidak percaya dengan Abang, hanya saja masalah ku tidak begitu besar. Masih bisa aku selesaikan tanpa bantuan siapapun." Sekalipun dia membutuhkan bantuan, dia tidak mungkin minta bantuan kepada Bright. Soalnya minta bantuan pada Bright sama saja dengan bunuh diri.
"Begitukah. Ya udah kalau begitu. Tapi aku penasaran, apa tiga hari yang lalu kamu berantem dengan AE?"
"Bukan gitu. Tapi gimana ya. Intinya itu hanya pertengkaran biasa bang."
Bright menarik tangannya. Dia lalu menutup bibirnya dengan telapak tangan itu. "Kamu serius?" Seolah-olah dia terkejut dengan hal itu.
Menghela nafas panjang Meen dibuatnya, sungguh buruk sekali paginya bertemu dengan Bright yang sangat ingin tahu mengenai kejadian itu.
"Ini hanya masalah sepele, buktinya aku masih hidup." Ucap Meen tetap sabar menghadapi Bright yang kepo.
"Ehm. Aku pikir kamu ada benarnya juga," Jawab Bright sependapat dengan Meen. Karena jika masalah itu tidak sepele, mana mungkin Meen dan sekeluarga masih hidup.
Bright tersenyum. Dia menepuk bahu Meen beberapa kali. "Kamu mungkin merasa sakit hati sekarang. Tapi kamu harus yakin kalau ini emang yang terbaik buat kamu. Ae gak baik untuk kamu. Dia akan merendahkan mu jika kalian jadian mengingat keluarga kamu tidak satu level dengan keluarganya. Sekarang, lebih baik kamu fokus sama kuliah supaya cepat tamat terus kerja." Ucap Bright seperti manusia paling bijak dan benar hidupnya.
"Tapi selama tiga hari ini dia gak masuk kuliah, kenapa ya?" Bright pura-pura tidak tahu penyebab AE tidak masuk kuliah.
Meen mendelik sekali lagi. "Dia udah kuliah hari ini. Dia udah mulai sembuh." Jawab Meen tadi sempat melihat AE dari jauh.
"Syukur deh. Kasihan liat dia kayak gitu. Ehm, padahal mukanya manis, tapi harus babak-belur kayak gitu," Kata Bright, dia pikir AE tidak masuk kuliah karena hal itu. Padahal AE demam akibat adu jotos di bawah hujan lebat.
Meen mendesis pelan. "Apa dimata Abang dia manis?"
Bright tertawa keras. "Gak usah cemburu Meen. Aku cuma menilai dari luar kok. Menurut aku ya dia lumayan. Lumayan bikin kangen." Dia sengaja membuat dirinya tertarik dengan AE. Bright memang pria aneh yang tak seorang pun mengerti tentang dirinya.
Meen mendengus saat ini. Dia tidak suka Bright bicara seperti itu, lebih tepatnya dia tidak suka ada orang yang tertarik dengan AE selain dirinya.
⏩⏩
Siangnya...
Dunk mengangguk pada Mac. Dia dengan langkah berat akhirnya tiba di kantin. Dia tak lapar lagi, tetapi dia merasa lebih aman di sini. Ada banyak orang di sini. Ada Primily juga.
"Hei, kamu beneran udah sembuh ternyata," Ujar Primily senang melihat Dunk. Dunk sempat tidak masuk kuliah selama dua hari karena demam. Begitu dia masuk kuliah, dia langsung dilabrak oleh Rossi dan kawan-kawan. Baru tadi pagi kejadiannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You!
FanfictionSeason 2 dari fanfic IT'S YOU! ❄️💙❄️ "Padahal aku sudah bantuin kamu, tapi begini caramu berterima kasih kepadaku?" "Jadi senior membantuku karena mengharapkan sesuatu?" "Anggap saja begitu!" Jawab Meen tersulut juga emosinya sebab Ae menepis kasar...
