45 : Reason

156 26 8
                                        

Meen mengendikkan bahunya lantas dia berlalu begitu saja dari hadapan Dunk. Pada akhirnya hubungan sandiwara ini berakhir dengan permusuhan.

Kedepannya Meen berharap, semoga Dunk tidak melakukan hal yang aneh-aneh demi kelangsungan hidupnya sendiri.

"Kamu telat, dia sudah pulang." Ujar Kimmon pada Meen yang baru datang.

"Apa dia ada meninggalkan pesan atau sebagainya?" Tanya dia setelah deru nafasnya stabil akibat berlari.

Kimmon menggeleng kemudian tertawa melihat raut wajah Meen yang sendu.

"Dia meninggalkan ini." Kimmon memberikan bekal siang pada Meen.

"Eh," Cengo dia disertai rasa tidak percaya. Tak biasanya AE memberikan dia bekal makan siang.

Walaupun dia masih bingung tapi tetap dia ambil. Begitu dia buka, ternyata isinya sandwich dan terselip kertas kecil yang dibungkus dengan plastik.

*Nomor senior sudah tidak aku blokir lagi, jadi kalau senior mau mengirim pesan bisa langsung ke aku tanpa perantara Abang Noah.

Itulah tulisan yang tertera di sana.

Meen tersenyum dengan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Bahagianya dia. Saking bahagianya, dia sampai memeluk Kimmon yang lagi ngobrol dengan temannya.

"Eh si monyet, lepas! Aku Kimmon, bukan AE!" Omel Kimmon risih dipeluk erat oleh Meen. Dia itu paling anti skinship.

"Aku tahu!" Seru Meen segera melepas pelukannya.

"Dasar Meen bucin AE." Ledek teman-temannya sudah tahu mengenai Meen yang sangat menyukai junior pendiam mereka itu.

Meen tidak peduli, sekarang dia memakan dengan lahap makanannya itu.

⏩⏩

Esoknya...

"Bagus sekali cara kamu menghindari ku, Cantik." Suara berat itu sangat familiar menyapa indera pendengaran Yai saat dirinya sedang asyik membaca berita lewat ponselnya. Dia yakin sekali siapa orang itu, tetapi melihat tempat dia berada kini, apa iya orang yang ada di pikirannya saat ini yang benar-benar sedang berbicara padanya.

Segera saja Yai mendongak untuk memastikan. Ternyata itu Mangkorn, dan segera dia abaikan seperti biasanya.

Mangkorn berdecak kesal nan pelan. Dia tersenyum menyeringai melihat wajah heran Yai. Tanpa permisi dia pun duduk di samping kanan Yai. Sontak tindakannya membuat pria cantik itu menatapnya dengan risih. Lantas diapun bergeser duduk sebelah kiri. Tapi Mangkorn malah ikut-ikutan menggeser posisi duduknya supaya mereka tidak berjarak. Dia mengabaikan wajah Yai yang tampak cemberut.

"Kau apa-apaan, sih? Kurang kerjaan banget ya?" Gerutu Yai kesal dengan menatap sinis pada Mangkorn. Sang pria pun menoleh dan melebarkan senyum jahilnya. Dia senang Yai bersuara.

"Bikin kamu kesal itu udah jadi pekerjaanku sekarang. Lagian mau sampai kapan kau mengabaikan aku?" Ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya membuat yang dikedip menjadi semakin kesal.

"Sampai kau mati!" Jawab Yai tidak ada manis-manisnya.

Mangkorn terkekeh, sungguh senang sekali dia melihat pria incarannya ini kesal dengan mata melotot seperti sekarang, ini adalah kesenangan tersendiri untuk dia.

Semenjak mereka bertemu lagi setelah kejadian itu, semenjak itu juga Yai tidak pernah bisa bicara baik-baik jika sedang bersama Mangkorn.

"Tapi aku serius nanya, beneran orang tuaku pelakunya atas kasus penculikan dan pemerkosaan itu?" Dia sudah bertanya pada orang tuanya, namun tidak ada jawaban dari mereka.

Only You! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang