"Kakak mau membawaku kemana?" Ae menurut aja ketika Meen membawanya ke tempat yang tidak dia ketahui.
"Ke Amphurs."
"A—Amphurs?" Grogi dia dengan daun telinga yang mulai memerah. Pasalnya itu kantor tempat pengajuan permohonan pernikahan.
"Iya." Jawab Meen singkat mengulas senyum. Lantas dia kembali menghadap ke depan, agar mobil yang dia kendarai tidak salah jalan. "Kamu mau kan menikah denganku?" Dia meraih tangan Ae, dan menatap sebentar pria cantik itu.
"Aku mau tapi..."
"Semalam kamu sudah aku tiduri, dan aku tidak pakai kondom ketika melakukannya, takutnya nanti kamu hamil." Potong Meen beralasan. Karena pada kenyataannya dia memang sengaja membawa Ae ke vila tuk dia tiduri kemudian dia nikahi. Sengaja dia tidak pakai kondom supaya Ae hamil.
"I—iya, tapi bagaimana dengan orang tua kita?"
Meen menepikan mobilnya, dia ingin bicara dari hati ke hati dengan Ae. "Sayang, aku ingin kamu hamil supaya tidak seorangpun yang bisa memisahkan kita apapun alasannya. Tapi aku tidak ingin anak yang lahir itu dengan status haram. Kamu mau ya, aku nikahi hari ini. Pestanya nanti aja jika kekeluarga kita sudah setuju dan papamu sudah sehat." Dia mencoba memberi pengertian pada Ae seraya mengusap pipinya.
"Apa ini satu-satunya jalan supaya mama kakak tidak membawa kakak ke luar negeri?"
Meen mengangguk ringan. Meen pikir, dengan menghamili Ae, maka mau tidak mau mamanya terpaksa merestui hubungan mereka sekalipun hati kecil Meen tidak membutuhkan restu dari mamanya sebab Zee dan Nunu sudah merestui hubungannya dengan Ae.
"Ya udah kalau begitu. Aku nurut aja."
"Terima kasih sayang." Tulus dia penuh syukur sebab sang kekasih menyerahkan segala keputusannya kepada dirinya. Mulai sekarang Meen akan tegas dalam bertindak dan tidak akan membiarkan seorang pun mendikte hidupnya.
— — — ... — — —
"Kamu suka?" Tanya Meen senang melihat Ae bahagia.
"Suka banget," Jawab Ae malu-malu setelah melihat buku nikah mereka penuh haru dan kini dia peluk erat.
Sejurus kemudian, Meen melumat bibirnya dengan lembut. Hanya sebentar namun sukses membuat Ae semakin tersipu malu. Pasalnya mereka masih di depan kantor Amphurs.
Kini pria tinggi itu melingkarkan tangannya pada pinggang Ae, membawanya menuju mobil mereka yang terparkir.
Begitu pintu mobil tertutup, Meen kembali melumat bibir ranum Ae, melepas pakaian Ae dengan tergesa-gesa dan menggaulinya dengan penuh gairah.
Pria tinggi itu beralih, menarik miliknya yang masih sedikit mengeras dari dalam tubuh Ae. Dia berbaring di sebelah pria cantik itu. Lantas mengangkat tubuh Ae keatas tubuhnya tuk menghadap padanya, terlihat Ae masih sibuk menyeimbangkan nafasnya.
Mengusap lembut pipi pria cantik yang saat ini telah usai memuaskan hasratnya, lalu melayangkan kecupan yang lama pada kening Ae.
Ae memejamkan matanya dan tersenyum sambil memegang tangan Meen yang berada di pipinya.
Ae lalu memeluknya dan Meen membalas pelukan itu, diapun mulai berkata pada Ae, "Sebelum menjenguk Papa, kita ke toko perhiasan dulu buat beli cincin nikah kita."
"Baiklah, tapi sebelum kita ke toko perhiasan, bolehkah aku mandi dulu?"
"Iya, tentu saja. Bagaimana mungkin aku membawamu dalam keadaan begini ke toko perhiasan." Meen menatap dalam ke arah mata Ae, "Sayang."
Saat Ae hendak menjawab, Ponsel Meen berdering. Sudah berkali-kali ponsel itu berbunyi, sejak mereka mulai bersenggama. Ae pun melirik sekilas ke arah ponsel Meen.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You!
FanficSeason 2 dari fanfic IT'S YOU! ❄️💙❄️ "Padahal aku sudah bantuin kamu, tapi begini caramu berterima kasih kepadaku?" "Jadi senior membantuku karena mengharapkan sesuatu?" "Anggap saja begitu!" Jawab Meen tersulut juga emosinya sebab Ae menepis kasar...
