Tetapi begitu dia sudah sampai di ruang tengah, dia dapati keluarga dari kedua orang tuanya masih menunggu dia dengan ekspresi yang bercampur aduk.
"Darimana saja kamu, kenapa baru pulang sekarang?" Cerca Hera padahal tadi Zee sudah memberitahunya kalau Meen sudah minta izin untuk tidak pulang hari ini. Tapi karena dia terus mendesak, akhirnya Zee terpaksa meminta Meen pulang. Dan saat dia menelepon itu, sudah jam 11 malam.
Sudah menolak Meen sebenarnya, sebab dia tidak enak meninggalkan Ae yang baru saja selesai dia gauli. Dan alasan kedua, dia sangat mengantuk.
"Dari rumah Ae ma." Jawab Meen terdengar lelah dan mengantuk. Dia mendudukkan dirinya di sebelah Nunu. Meen menguap namun tetap dia paksakan matanya tuk tetap terbuka sebab kedepannya dia harus meladeni cercaan dan beberapa kata dari keluarganya.
"Ngapain kamu di rumah Ae, pamit?" Terka dia seraya menatap Meen yang sedang di usap lengan kanannya oleh Nunu.
"Pamit apa sih ma, orang lagi lepas kangen juga."pria tinggi itu berujar santai pada Hera yang langsung naik emosinya mendengar jawaban Meen. "Sepertinya daddy belum memberitahu mama kalau kakak tidak jadi ikut mama keluar negeri. Kakak di sini aja sama daddy dan papa."
"Sudah daddy kasih tahu, mama mu saja yang keras kepala." Imbuh Zee di setujui oleh yang lainnya, terutama Tawan. Tidak sekali dua kali dia melihat mama tirinya ini berhasil memaksa papanya menuruti keinginannya.
"Mama bukannya keras kepala, mama cuman mau memastikan kalau itu semua memang keinginanmu, bukan akal-akalan daddymu." Tersirat kekecewaan dan amarah pada nada bicaranya. Benci? Tidak, tidak ada kebencian dihatinya untuk Meen. Hanya saja dia kecewa pada Meen yang lebih memilih Ae ketimbang dirinya. "Karena kamu sudah memutuskan begitu, kamu tahu sendirikan apa konsekuensinya." Dia yakin, perkataannya tadi pasti berhasil membuat keputusan Meen goyah.
Meen mengangguk ringan, dia harus tegas pikirnya dalam hati. "Ouh ya ma, jika mama mengambil tawaran kepala keluarga Manoban, aku yang akan menjadi musuh mama." Dia serius, sebab tak hanya mamanya yang bisa mengancam, dia juga bisa.
"Apa?!" Kaget Hera, begitupun dengan yang lainnya.
"Tadi sore, aku bertemu dengan Noah, kami bicara serius. Dan dari pembicaraan itu, dia akan memaafkan mama tuk kesalahan kali ini. Bukan karena dia takut dengan mama, tapi karena aku pacaran dengan kembarannya." Jelas Meen berharap dengan begini, mamanya menarik diri dari kerjasama dengan keluarga lainnya tuk menghancurkan keluarga Shukhumpantanasan. Persaingan bisnis ini sungguh buruk. "Kedepannya, tidak akan begini lagi ceritanya."
"Perkataan mu, menunjukkan kalau keluarga mereka akan selamat dari masalah ini."
"Tentu saja mereka akan selamat, karena aku tidak akan membiarkan mama mengusik keluarga kekasihku." Tegas dia membuat dada Hera bergemuruh hebat, yang lain kembali terkejut. Sementara Zee, dia merasa putranya sudah dewasa.
Itu menjadi pembicaraan yang panjang Dan juga memberatkan Meen, sebab dia harus mengesampingkan kasih sayangnya kepada mamanya. Dia berharap, seiring berjalannya waktu, perasaan mamanya luluh lalu menerima dengan hati terbuka pada orang yang dia cintai.
⏩️⏩️
Esok paginya...
Meen menguap di saat dia sarapan pagi bersama Zee dan Nunu. Wajar mulutnya menguap lebar pagi ini, semalam dia tidur jam dua pagi. Dan bangun pagi-pagi sekali karena dia ada kuliah pagi.
Mulai hari ini, dia tidak akan menerima uang saku dari mamanya lagi karena dia tidak menuruti permintaan mamanya.
"Hari ini kamu Daddy antar ke kampus." Ucap Zee pada putranya yang baru selesai makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You!
FanfictionSeason 2 dari fanfic IT'S YOU! ❄️💙❄️ "Padahal aku sudah bantuin kamu, tapi begini caramu berterima kasih kepadaku?" "Jadi senior membantuku karena mengharapkan sesuatu?" "Anggap saja begitu!" Jawab Meen tersulut juga emosinya sebab Ae menepis kasar...
