51 : What Do You Mean?

143 23 3
                                        


❄️❄️❄️💙💙💙❄️❄️❄️

Mark baru saja selesai membuat si bungsu tertidur, sementara AE sedang bicara dengan Kimdan perihal Kimdan yang telah membantu keluarga mereka menutup mulut media masa.

Meen sendiri sedang bercengkrama dengan Hearth dan Dew. Mereka membicarakan masalah yang serius. Sesekali Meen akan melirik Ae yang masih bercengkrama dengan Kimdan.

"Aku baru tahu kalau Bright bisa sepicik itu?"

"Sama." Kata Hearth singkat untuk ucapan Dew. Dua orang ini memang tahu Bright itu playing victim, buktinya hubungan Bright dengan Meta belum juga membaik sampai sekarang. Tapi mereka tidak menyangka Bright bisa berbuat sejauh itu hanya karena dia iri dengan Meen.

"Nanti aku akan mencoba bicara dengan Bright, terkadang anak itu nurut denganku." Imbuh Dew sejauh ini Bright tidak pernah mencari gara-gara dengannya.

"Apa kalian berdua tidak tahu kelemahan Bright?" Meen ingin menjadikan kelemahan sebagai senjatanya agar pria tampan itu berhenti mengganggunya.

Dew berpikir, namun tidak dia temukan jawabannya. "Aku tidak tahu, hanya saja dia segan dengan Meta." Jawab Dew lantas dia menoleh saat Mai menepuk pundaknya.

"Iya ma," Ujar dia pada mamanya.

"Kalian berdua, Dew nya tante bawa dulu ya!" Ujar Mai pada Meen dan Hearth. Dua pria gagah itu mengangguk.

Baru saja Mei dan Dew pergi, orang tua Meen datang. "Ayo pulang!" Ajak mereka sudah dua hari lamanya Meen tidak pulang.

Melihat Meen bicara dengan orang tuanya, Hearth undur diri.

"Tapi pa, aku belum mau pulang. Kasihan Ae aku tinggal di saat dia lagi berduka." Jelas Meen lalu dia mengarahkan manik gelapnya pada Ae yang masih bertukar kata dengan Kimdan.

Orang tuanya pun mengikuti arah mata Meen.

"Tidak bisa, soalnya mamamu datang ke rumah, dia menunggumu!" Kali ini Zee yang bicara dengan Meen.

Meen menghela nafas panjang, "Ada urusan apa mama datang?"

Dua orang itu segera mengendikkan bahunya, mereka juga tidak tahu.

"Baiklah. Kalau begitu kakak pamit dulu dengan Ae." Ucap Meen segera undur diri dan menghampiri Ae yang masih bicara dengan Kimdan.

"Aku pulang ya, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?" To the point Meen pada Ae yang masih sembab matanya habis nangis.

"Jika aku bilang tidak, apa kakak tetap di sini?" Ae malah menjawab Meen dengan pertanyaan.

Meen kembali menghela nafas panjang, lalu dia mengarahkan atensinya kepada orang tuanya yang masih menunggunya. Sebentar, kemudian dia kembali menatap Ae. Meen mencoba mengulas senyum tipis, tapi gagal saat dia jumpai wajah kekecewaan Ae. Ae tidak butuh jawaban Meen, karena dia sudah tahu jawabannya dari Meen yang butuh waktu tuk menjawabnya. "Maaf ya, mamaku datang. Jadi aku harus segera pulang!"

Ae mengerti, mamanya jauh lebih penting ketimbang dirinya. Lagipula hubungan mereka hanya sebatas senior junior.

Ae mengangguk ringan. "Kalau begitu hati-hati! Titip salam buat mama kakak. Dan terima kasih banyak karena sudah menemani ku hari ini." Ae mencoba mengulas senyum.

Meen mengangguk ringan, dia mencoba untuk membelai pipi Ae namun Ae memalingkan wajahnya, menggenggam kedua tangannya dengan erat. "Besok aku datang lagi!" Kata Meen hanya dibalas anggukan ringan oleh Ae, lalu dia kembali mendekati Kimdan. Pembicaraan mereka belum selesai dan terhenti gara-gara Meen mendekatinya.

Only You! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang