Bungkam Meen dibuatnya, lantas dia mencoba meraih pergelangan tangan Ae. Tentu pria cantik itu menghindar, mulai sekarang dia tidak akan membiarkan Meen menyentuhnya barang seujung kuku pun. Sakit memang tapi dia harus mulai melupakan Meen. Sebab tak mungkin rasanya hubungan mereka dipertahankan.
"Aku datang ke sini dengan taksi, jadi aku pulang juga pakai taksi." Jelas Ae kemudian berlalu dari sana. Meninggalkan Meen yang tertegun perih di dadanya.
Harusnya tak begini dan bukan ini yang dia harapkan. Dalam harapannya, Ae rela menunggu dirinya dan berkemah lembut dalam memperlakukan dia.
Meen tidak terima, lantas dia menyusul Ae. Tersusul dan kini dia membawa Ae kedalam mobilnya dengan paksa.
"Aku akan mengantarmu pulang. Nurut aja dan jangan melawan!" Meen mengunci pintu mobilnya agar Ae tidak bisa keluar.
Tidak ada tanggapan dari Ae, namun air mukanya sangat buruk saat menatap jalanan melalui jendela kaca yang juga tidak bisa dia turunkan kacanya.
Di sela dia mengendarai mobil, sesekali Meen akan memandangi Ae. Jujur saja, Meen tidak ingin meninggalkan Ae. Takut dia, saat dia pergi nanti, ada pria yang lebih dari dirinya yang mendekati Ae.
"Ini bukan jalan ke rumah ku?" Ae baru sadar kalau jalan yang mereka lewati bukan jalan menuju rumahnya.
"Emang bukan." Jawab Meen santai namun yang mendengar merasa di bantai.
"Jangan gila! Cepat putar arah! Aku mau pulang!"
"Tidak, kita belum selesai bicara. Dan sampai kita selesai bicara, aku tidak akan memulangkan mu ke rumah orang tuamu." Meen kalau dia sudah kehabisan akal, dia bisa nekat. Terutama tuk mendapatkan orang yang dia sayangi.
"Tidak, aku mau pulang!"
Brakhhh, brakhhh, brakkhhh!
Meen memukul setir mobil karena Ae terus merengek minta pulang. Seketika itu juga Ae mengatupkan bibirnya dengan erat, ah... pria di sebelahnya jauh lebih emosional dari dirinya.
Melihat Ae kembali diam membisu, rasa sesak di dada Meen sedikit lega. "Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu!"
Ae tidak peduli, makanya tidak dia tanggapi ketika Meen bicara. Dia terus memandangi jalanan luar dengan perasaan yang kian membuncah rasa sesak di dadanya.
Keduanya sama-sama menghadapi dilema.
Meen membawa Ae ke vila yang dimiliki oleh keluarga Panich. Kedatangannya di sambut hangat oleh dua orang pelayan yang memang di tugaskan untuk merawat vila tersebut.
"Ayo!" Ajak Meen sembari menjulurkan tangannya pada Ae. Biasanya pria cantik ini akan tersenyum indah saat Meen melakukan ini. Tapi kali ini tidak.
Tangan Meen mencubit pipi Ae untuk mengembalikan kesadarannya yang hanya menatap tangan Meen terulur tadi.
"Aku mau pulang!"
"Iya, tapi besok. Malam ini kita tidur di sini!" Jelas Meen mencoba bersabar pada Ae yang memandangi dengan tajam.
Ae keluar dari mobil, tak mungkin dia menolak keinginan Meen. Ponsel dan tasnya Meen sita.
Ae berjalan cepat, tak ingin dia berjalan beriringan dengan Meen.
Terdengar helaan nafas panjang dari Meen, sekali lagi, dia hanya bisa bersabar.
"Sebaiknya kamu mandi selagi menunggu makan malam selesai dimasak." Titah Meen pada Ae yang memilih tuk diam, namun dia segera berjalan ke kamar mandi.
Meen menyiapkan pakaian untuk Ae, tentu saja itu pakaian Meen. Setelahnya, dia pun segera membersihkan diri. Dan saat dia selesai, salah satu pelayan vila membawa makan malam serta susu coklat pesanan Meen untuk Ae.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You!
FanficSeason 2 dari fanfic IT'S YOU! ❄️💙❄️ "Padahal aku sudah bantuin kamu, tapi begini caramu berterima kasih kepadaku?" "Jadi senior membantuku karena mengharapkan sesuatu?" "Anggap saja begitu!" Jawab Meen tersulut juga emosinya sebab Ae menepis kasar...
