Di taman kota yang diterangi lampu-lampu temaram, Meen dan Ae duduk di bangku kayu. Suara gemericik air dari air mancur di dekat mereka menambah suasana hening malam itu.
"Kenapa diam? Bukannya tadi pagi kakak bilang ada sesuatu yang mau kakak katakan. Lau kenapa sekarang kakak ke nggak mau ngomong apa-apa sama aku?" Ae pun akhirnya bertanya setelah suasana hening beberapa saat, sementara Meen masih merangkai kata dalam pikirannya tuk di sampaikan kepada Ae.
"Baiklah, tapi sebelum itu apa kamu gak mau makan dulu?"
"Kak, to the point saja. Jangan seperti ini, berbelit-belit! Saat ini aku tidak mau menambah beban pikiran." Tanggap Ae terdengar ketus dan raut wajahnya tampak sedih. Pria cantik dan tampan itu seperti tengah menahan tangisannya karena pikirannya tak pernah beranjak dari papanya yang belum siuman. Di tambah masalah keluarga lainnya. Dan pesan Meen tadi pagi sukses membuat beban pikirannya bertambah.
"Aku mau pindah kuliah ke luar negeri, jadi..."
"Kenapa pindahnya mendadak?" Potong Ae jelas tidak suka dengan berita ini. Kenapa dan mengapa pria tinggi ini tiba-tiba saja pindah kuliah?
"Ada alasannya."
Apapun alasannya nanti, tetap saja Ae terhenyuh. "Apa alasannya kak?" Ae berusaha membuat suaranya terdengar normal, tapi tetap saja bergetar.
"Begini, kamu mungkin sudah tahu perihal beberapa yang memusuhi keluargamu."
Kali ini Ae mengangguk ringan, lidahnya terlalu kelu tuk bicara, sesak sekali dadanya.
Meen meraih tangan Ae dan menatap pria cantik itu dengan teduh penuh pengertian. "Ae, sebenarnya mamaku diminta oleh kepala keluarga Manoban untuk bekerjasama menghancurkan keluargamu." Meen menjeda penjelasannya, dia ingin melihat ekspresi Ae, tidak ada perubahan. Masih sama seperti tadi. "Mamaku memberiku pilihan, jika aku tetap di sini... dia akan menerima tawaran mereka untuk menghancurkan keluargamu, tapi jika aku ikut dengan dia ke luar negeri... dia akan menolak tawaran itu."
"Pada intinya kakak pindah kuliah agar mama kakak menolak tawaran itu, semata-mata untuk apa? Untuk melindungi keluarga ku atau karena kakak tidak ingin melihat keluargaku menyakiti wanita yang telah melahirkan kakak? Dan apa alasan mama kakak menerima tawaran itu? Apa dia membenci keluargaku? Ingin menjauhkan kakak dariku atau dia memang tidak menyukaiku terlepas apapun keluargaku?" Cerca Ae dengan pertanyaan yang menyentak sanubarinya. Dia tidak sebodoh itu sampai tidak bisa menangkap maksud dari niat Hera.
"Ae tenanglah, jangan marah-marah dulu. Yah, bisa dibilang ini taruhan. Sebab setelah tiga tahun kita berpisah dan aku masih mencintaimu, maka mama sendiri yang akan menikahkan kita nanti." Meen sadar, mamanya tidak merestui hubungan dia dengan Ae. "Maafin mamaku ya, dia memang gitu. Paling benci cerita tentang perjodohan. Dia takut kisah rumah tangganya menimpaku juga." Lanjut Meen pada Ae yang masih bungkam menahan gejolak amarah dan luka di hati. "Aku nggak bermaksud maksa kamu buat ngerti, aku cuman minta kamu buat menunggu aku selama 3 tahun." Tambah Meen kemudian dadanya berdebar nyeri sebab Ae melepaskan pegangan tangan Meen.
"Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar kak, dan apapun bisa terjadi selama itu." Ae mencoba Meen pengertian, bukan perpisahan yang Ae takutkan maupun masalah menunggu. Tetapi masalah Meen tinggal dengan mamanya. Tidak tinggal serumah saja dia sudah mendikte hidup Meen, apalagi jika mereka tinggal serumah.
"Kalau kamu tidak mau menungguku, kata mama... aku boleh mengajakmu pergi denganku. Tapi, kamu tidak boleh berhubungan dengan keluargamu selama tiga tahun."
"Kakak gila! Bagaimana mungkin aku memutus hubunganku dengan keluargaku hanya gara-gara cinta yang belum tentu bisa membuat aku hidup bahagia! Mamamu tidak menyukaiku loh kak, dia menentang hubungan ini jika kakak tidak mengerti. Ini semua hanya akal-akalannya tuk memisahkan kita. Please, tolong pakai otak cerdas kakak itu tuk berpikir!" Dia tidak menyangka Meen punya sisi yang kurang tegas menjadi pria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You!
FanfictionSeason 2 dari fanfic IT'S YOU! ❄️💙❄️ "Padahal aku sudah bantuin kamu, tapi begini caramu berterima kasih kepadaku?" "Jadi senior membantuku karena mengharapkan sesuatu?" "Anggap saja begitu!" Jawab Meen tersulut juga emosinya sebab Ae menepis kasar...
