Chapter Eleven

6.2K 561 0
                                        

"You never know how precious that person is until you start to lose them."

-----------

Getto's POV

Entah apa yang menggerakan gue buat ikut campur ke keributan yang dibuat Alexis, ketika gue sadar gue udah meluk badannya yang gemetar hebat. Wajahnya pucat, jemarinya bergetar hebat dan kemerahan. Dia masih melihat orang yang tersungkur tadi dengan tatapan mata dendam yang belum pernah gue lihat sebelumnya.

"Calm down, mate." Bisik gue ditelinganya. Dan seperti yang gue duga, dia ngelepas badannya dari pelukan gue dan kembali menghampiri orang tadi. Dengan cepat gue meghadang langkahnya, dan mengodekan Joshua buat bawa orang tersebut jauh dari gym supaya Alexis bisa masuk, dan kita semua bisa mulai pertandingan.

Pas Joshua dan Evan menyeret orang tadi, gue ngerangkul Alexis yang masih menggeram kedalam gym. Semua mata memandang kita berdua, sedangkan gue melemparkan senyum se-ramah mungkin agar mereka percaya kalo kondisi kami masih optimal. Coach Bennet menunjuk Alexis. "She's playing?" tanyanya.

Gue ngangguk, dan bawa Alexis ke locker room. Pas Alexis duduk, gue ngeluarin tumblr gue dan nyuruh dia minum. "Udah tenang, Lex?" tanya gue.

Alexis mengadahkan wajahnya ke gue, dan mengangguk lemas. "Thanks, Ren."

Gue ngerutin dahi. "Lo manggil gue siapa tadi? Ren? Tumben." Ledek gue sambil menjulurkan lidah.

Dia ketawa, lalu mukul kepala gue pelan pake tumblr. Gue masih berlutut menghadap Alexis, pas Joshua dan Evan balik bareng semua anggota tim. "Tenang, Lex. Itu orang gak mati." Lapor Joshua.

"Harusnya mati." Jawab Alexis lirih.

Gue membelalak. "Baru pertama kali gue denger lo ngomong gitu ke orang yang gak salah." Kata gue lalu berdiri disamping Fahri.

Fahri menyenggol lengan gue. "Gak salah? Itu orang yang nge-retakin pergelangan tangannya Alex."

Gue membelalak lagi. "Kenapa gue baru tau?" protes gue.

Evan ngegetok kepala gue, terus narik semua anggota ngedeket ke Alexis yang ada ditengah. "Come along, guys. We have an enemy to beat, we have names to be raised, we also have a game to win. This is for our school, our pride, and for Felix." Kata Alexis.

Coach Bennet lari nyamperin kita semua, dan ngebunyiin peluitnya. Seraya kita semua keluar dari locker room, dan menghadapi Velucius.

Alexis's POV

Peluit panjang seketika dibunyikan dan semua orang berlarian ke arah gue dan meluk gue. Cuma saat kayak gini yang bikin gue suka sama keramaian. Mereka semua menyerukan nama gue dan tim. "Lift her up!" seru Getto.

Gue menahan tangannya, terus senyum sekecut jeruk purut muda. "Gue mau istirahat." Kata gue lalu menembus keramaian dan lari ke locker room.

Sesuai dugaan, orang itu duduk disana seraya terkejut dengan kedatangan gue. Dengan acuh tak acuh, gue jalan menuju locker gue tanpa sekalipun ngeliat ke dia. Dia, Adam. Dan seperti biasa, dia juga gak berusaha buat ngeliat gue atau sedikit memancing pembicaraan.

Gue bukan orang yang nyaman dengan keadaan yang bisa dibilang 'awkward' saat ini, jadi gue mencari bahan obrolan, seraya duduk disampingnya menghadap kearah sebaliknya. Ada yang bilang, berbicara lebih lancar jika tidak bertatap wajah. Dan sekarang itu yang akan gue lakukan.

"Gak ngerayain kemenangan diluar?" tanya gue.

Adam diam, dan gue menunggu jawaban. Sampai akhirnya gue sadar pertanyaan gue agak sedikit gak penting, dan malah nambah kecanggungan, gue mengurungkan niat buat nyari topik lain.

"Thanks udah ngasih gue kesempatan buat main lagi. Kalo bukan karna lo..."

Adam berdiri seraya gue menghentikan kalimat gue. Gue berbalik arah, dan dia nengok ke gue. Dia mendengus ngeremehin gue, dan ngambil handuk kecilnya.

"Gue cuma nurutin kemauan temen-temen lo." Kata dia seraya pergi keluar.

Gue menghela nafas dan sadar kalo gue dan Adam memang gak akan bisa berhubungan baik. Gue udah nyoba buat bersikap baik, meskipun gue belum ada kesempatan buat minta maaf atas berbagai ulah kasar gue ke dia. At least, i was trying. Seperti yang orang bilang, semua gak akan sia-sia kalo kita usaha. Dengan berbagai cara, gue harus percaya itu.

Buat gue saat ini, kemenangan bukan apa yang paling gue inginkan. Menginjakan kaki dilapangan, ngedribble bola, memihak ke tim yang gue inginkan itu yang paling gue tunggu-tunggu. Kerja keras mereka terbayarkan, dan penderitaan gue selesai.

Sehentak pintu locker room kebuka, Evan masuk dengan senyum cerahnya ngebawa trophy kemenangan. Gue melemparkan senyum sambil mengacungkan jempol gue ke dia seraya dia bawa trophy tadi ke ruangannya. Gak lama, semua tim masuk berurutan, termasuk Felix dengan langkah timpangnya.

"Lexxie." Katanya kemudian duduk disamping gue.

Gue senyum, dan memutar posisi duduk gue menghadap dia. "Lix, gue minta maaf udah seenaknya ngeluarin diri tanpa persetujuan lo." Kata gue dengan nada yang ternyata jauh lebih menyedihkan dari pada yang gue pikirin.

Felix senyum, meluk gue. "Glad to have you back." Bisiknya.

Sesaat itu juga, gue tau bagaimana rasanya menjadi begitu berharga buat orang lain.


ReboundTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang