We're done. But trust me, this feelings never are.
Alexis's POV
"Woi telor asin!" Gue menyerukan panggilan sayang yang berubah setiap waktunya, ke teman gue yang sedang bercengkrama didalam kelas.
Joshua menoleh memandang gue malas. "Apaan lagi kangkung?"
Gue bersandar didepan pintu tanpa mencoba masuk ke dalam kelasnya. "Liat Raldin?" Tanya gue.
"Temen juga temen lo. Mana gue tau dia dimana," gerutu Joshua.
Gue mendengus. "IMS lo hah?!"
"Apaan lagi IMS?!"
"PMS buat cowok! Makanya google jangan buat nyari cheat dota!"
Joshua hendak menghampiri gue, tapi kaki lincah ini berlari begitu cepat menjauhi teman terkutuk sembari menggemakan suara tawa.
Masih mencari keberadaan Raldin si doyan dandan, gue berlari kesana-kemari tanpa tujuan. Bertanya si dia dan si mereka, tapi gak ada yang tahu. Sampai akhirnya, Raldin keluar dari toilet wanita bagai bidadari yang ditunggu para kacung, macam gue.
Tanpa basa-basi gue menarik dia kembali ke dalam toilet, dan mengunci pintu. "Apa?! Lo kenapa?!" Tanya Raldin panik.
Gue menekan dada gue mengatur nafas, yang disalah artikan oleh teman gue yang satu itu. Raldin meraba kening gue, pipi gue, dan bahkan denyut nadi gue, memastikan kalau temannya satu itu tidak ayan atau sakaratul maut.
"Gue sehat, yailah!" Bentak gue seraya melepaskan cengkraman keras Raldin dipergelangan tangan gue.
Raldin bernapas lega dan memutar bole matanya. "Terus lo kenapa?" Tanyanya dengan nada orang frustasi.
"Adam minta gue jadi pacarnya."
Hening.
Sepi senyap.
Cuuuuuur..
Kecipak kecipak..
Byur.. Byur..
Ceklek
Brak.
"Ditembak?" Tanya Raldin.
Gue mengangguk, dan merasakan peningkatan suhu pada kedua pipi gue, dan tarikan syaraf pada kedua pipi agar bibir ini menyunggingkan senyum.
Raldin terbelalak, mengapitkan kedua telapak tangannya diwajah gue, lalu memeluk gue. "Penantian panjang gue berakhir, Lex. Akhirnya lo punya pacar. The world gotta know that you weren't a lesbian!" Ucapnya penuh semangat.
"Din.."
"Hm?"
"I ran away before giving any kind of answer."
Dahinya berkerut, memandang gue kesal, menarik nafas, dan gue bersiap mendengarkan semua spesies yang kebun binatang Ragunan punya.
Namun, Raldin malah keluar dari toilet, berjalan menuju kelas tanpa sekalipun menoleh ke gue lagi. Gue mengikuti langkah cepatnya, sembari berceloteh memberikan penjelasan.
"I was scared, surprised, and it was happened way too short like just a wind passing by. I don't know what to say, and my legs force me to run like a horse."
Tanpa keluar sepatah kata lagi dari mulut Raldin, beruang kutub itu ngambek.
Setelah bel pulang bunyi, gue meraih tas gue dan memacu langkah lebih cepat ke ruang ganti untuk mencari Felix. Tujuannya, gak lain dari membungkam dia soal tadi pagi sebelum dia nyerocos kayak bebek.
Dan ternyata, gue kalah cepat.
Seluruh tim ngumpul, dan gue dijadikan bahan olokan karena 'kabur pas ditembak'. Mereka gak ada hentinya menertawakan gue, seakan-akan menertawakan gue saat ini adalah hal yang paling benar untuk dilakukan.
Cuma butuh sekitar 30 menit sampai akhirnya mereka penat menertawakan gue yang tidak tertarik buat melawan, dan latihan bisa dimulai.
Felix mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di loker, sambil menatap nomor punggung kejayaannya yang tertempel.
Sembari mengikat tali sepatu, gue memandang sosok idola gue itu, dan terlarut suasana. "Gue tinggal ya, Lix?"
"Iya. Santai aja, abis ini gue langsung keluar kok." Jawabnya tanpa berpaling dari objeknya.
Gue mengangguk, kemudian meninggalkan sosok Felix dibelakang.
Sulit. Menjalani latihan tanpa Felix ternyata jauh berbeda rasanya. Seakan ada bagian dari gue yang hilang, dan bahkan nge-dribble bola aja terasa salah.
Gue mengodekan untuk istirahat ke Getto, dan duduk dipinggir lapangan. Adam baru keluar dari ruang ganti, dan handphonenya berdering. Berhenti ditempat ia berpijak, dan mengangkat teleponnya.
"Yes, Alexa?"
Raldin's POV
Gav, if i asked you to stay, would you care to do it?
Sent two hours ago.
Belum ada jawaban. Entah berapa lama yang gue butuhkan tadi hanya sekedar untuk menanyakan satu pertanyaan yang selalu gue khawatirkan itu.
Gue tahu, cyber relationship itu gak terasa benar. Tapi, ketika gue jatuh cinta, entah bualan atau fakta, semua yang dia bilang selalu gue percaya. Seperti meyakinkan diri sendiri, kalau gue harus percaya sesulit apapun caranya.
Sampai akhirnya gue sadar, suatu saat gue akan sakit.
If all you want from me is existency, i'm here, right here, right now. We'll meet soon, then you'll be the one who decide either you want to stay or leave. I'm into you already. Goodnight, peach.
Entah sakitnya sekarang atau nanti.
Author's Note :
I've been screaming out loud since monday, knowingly loads of people finally read my story and some of them giving those very sweet feedback.
Also, go follow me on Instagram.
Thank you! Literally, i can't thank you guys enough for made my day.
Thanks for being such a motivation.
I'll see you on Twenty Three❤️
Pragata Oragastra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rebound
Ficção AdolescenteNama gue Alexis. Gue suka banget basket. Dalam sehari, gue bisa latihan sampe tiga jam setelah pulang sekolah, kadang lebih. Itu gak termasuk tanding setiap istirahat sama senior. Kecintaan dan skill gue inilah yang meluluhkan hati kapten tim basket...
