Chapter Twenty Four

5.6K 462 30
                                        

"Aku ingin bertanya kepada kota Bandung. Mengapa kau bisa begitu indah, sampai milikku kau curi dan tak pernah kembali?"

Raldin's POV

Din, mau sampe kapan marah sama gue sih? –TheMostValuableThingInTheWorld

Jangan tanya sama gue itu siapa, karna gak lain dari Alex, pengirim sms yang sering memuji diri sendiri disetiap pesan singkatnya. Well, karena dia udah berhasil membuat gue tertawa hari ini, gue memutuskan untuk membalas pesan singkat teman bodoh gue satu itu.

Sampe besok. Kalo besok pagi gue liat lo masih tidur dikelas, kita musuhan. Sepatu running lo, headphone lo, dan semua barang-barang lo yang ada di gue jadi hak milik. –RaldinIsOnFire

Menutup handphone gue dan kembali memasukannya ke tas. Gue menghela nafas dan memandang ke seluruh penjuru coffee shop, tempat gue janjian ketemu sang stranger, Gav. Ya, setelah banyak pertimbangan, gue meyakinkan diri untuk bertatap muka. Entah bagaimana reaksinya kalo ketemu gue, konsekuensinya harus gue terima, seburuk apapun itu.

Gak lama, handphone gue kembali berdering, dan nama Gav tertera disana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gak lama, handphone gue kembali berdering, dan nama Gav tertera disana. Gue mengangkat telfonnya, dan meletakkannya di telinga.

"Hey, udah disana?" kata Gav dengan suara yang meluluhlantakan gue.

"Iya, dari lima belas menit yang lalu."

Gav bergumam, dan klakson mobil terdengan diujung telepon. "Kayaknya agak telat nih, macet banget. Tapi nanti kalo udah sampe langsung ngabarin kok."

"Alright, i'm wearing blue shirt. Duduk dipojok sebelah kanan." Kata gue mempermudahnya mengenali gue ketika sudah sampai di coffee shop.

Tertawa ringan, lalu menarik nafas. "I'm nervous," katanya.

Gue mengangguk lalu tersenyum. "Drive safe, i'll wait."

"See you soon, peach."

Memutuskan telfon, gue kembali menatap ke jendela besar tepat di sebelah kanan sembari menata rapih baju dan rambut gue. Entah sudah beberapa kali gue bercermin dengan gelisah memandang ke kanan dan ke kiri menunggu kedatangannya. Mengalihkan perhatian, gue membuka handphone dan membaca beberapa cerita di wattpad.

Sekitar lima belas menit kemudian, gue merasakan kehadiran seseorang berdiri tepat dihadapan meja menatap gue. Ketika mendongakkan kepala, teman gue dengan wajah bingungnya berdiri menunduk menatap gue.

Adam.

"Hai, Dam. Lo ngapain disini?" tanya gue kepada teman gue yang berdiri kaku dipinggir meja. Bukannya menjawab pertanyaan gue, dia malah mengalihkan pandangan ke seluruh penjuru coffee shop seperti mencari seseorang. "Lo janjian?" tanya gue lagi.

Adam menghela nafasnya, "gue boleh duduk disini?" tanyanya sembari menarik bangku dihadapan gue.

"Sebenernya gue lagi nunggu temen gue dateng, tapi kayaknya dia masih kejebak macet entah dimana. Duduk aja sekalian nemenin, gue bete." Jawab gue terkekeh disambut senyuman kecil Adam.

ReboundTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang