Chapter Twenty Five

5.1K 427 19
                                        

Rindu
Sebuah ungkapan yang terkesan kosong sukar diluapkan
Sebuah harapan temunya dua peradaban yang dilerai jarak
Bersinggung waktu
Memporak-porandakan hati
Begitu ucapku yang sedang merindu.
-------
Alexis's POV

"Itu kamera analog?"

Getto mengangguk menjawab pertanyaan awam gue mengenai kamera tua yang ada di pangkuannya. Kamera tua? Kamera jaman dimana kelahiran nyokap gue aja belum direncanakan. Atau bahkan jaman dimana nenek gue masih asik mandi disungai menunggu ranjau hajat kerbau yang melintasi sungai itu pula.

Memperhatikan kamera itu dengan seksama, lalu mulai terpikat. Ya, bentuknya sangat –amat—menarik, unik, dan fragile. Fragile bagaikan hati wanita. Fragile bagaikan perasaan ketika melihat ia berada dipelukannya. Ok, ini jijik, i need to stop this.

"Hasselblad?"

Getto mengangguk antusias. "Hasselblad 503CW," jawabnya seraya memandangi kamera itu pula. "Cantik ya, Lex?"

Gue mengerutkan dahi lalu menoleh ke wajah Getto yang sedang menatap gue—lalu memalingkan wajah kembali ke kamera. "Keren, mahal sih pasti."

"Kamera analog mahalnya gak sesadis kamera digital kok."

"Serius lo? Itu kamera berapaan?" tanya gue antusias.

"Kalo sekarang sih, sekitar tiga puluh juta kayaknya."

Refleks, gue menjitak kepalanya dengan penuh nafsu. "Mananya yang gak sadis, curut? Yang bener aja lo. Situ berak duit?"

Getto tertawa sambil mengusap kepalanya. "Dan satu roll film medium format ini isinya cuma 10 frame (which is cuma sekitar 10 foto), ngerogoh kocek perlu seratus ribuan."

"Jadi kalo diitung, kalo mau motret satu foto aja harus ngeluarin duit kira-kira..."

"Sepuluh ribu. Itu jaman sekarang. Makin lama makin mahal, dan makin susah dicari juga kalo gak ada yang mau mertahanin,"

Gue bergumam tidak jelas tanpa henti mengagumi kamera tersebut.

"Semacam sayang gitu lah, Lex. Kalo disia-siain lama-lama kan ilang juga," lanjut Getto.

Menoleh ke Getto, dan mendapatinya menjulurkan lidah meledek gue. "Ngomongin apaan sih lo, nyet?" Gerutu gue kesal.

Mengabaikan segala cacian, Getto berlari menghampiri teman-temannya yang melakukan 'bincang pagi'—alias gosip dibawah pohon rindang, dipinggir lapangan. Berdasarkan buku yang gue baca, dengan statement si penulis yang dengan tegas menyatakan bahwa, lelaki tidak bergosip. Mereka berdiskusi.

Buat gue, gak ada bedanya. Itu pembelaan. Jangan hanya karena bergosip dikategorikan sebagai kegiatan kaum hawa, sehingga para lelaki yang melakukan tindakan feminin tersebut disalah artikan. Mereka bergosip.

Mendengus sembari tertawa dalam hati melihat para kumpulan berandal ekskul cinematography yang kini tertawa bersama Getto disana. Mereka bergosip, batin gue.

Entah apa yang digosipkan. Mungkin, para cheerleaders yang sedang latihan dilain sudut lapangan dengan memamerkan seragam barunya. Berusaha mengabaikan, namun mata-mata keranjang itu kini diarahkan ke gue. Getto—disebrang sana—tidak tertawa, tidak juga dengan lelaki bergosip lainnya. Tatapan mereka sejenis—heran?

Sedetik kemudian, seseorang duduk disamping gue. Dikarenakan gue sedang menunduk, hal yang pertama gue lihat adalah sepatunya. Flat shoes.

Memutar bola mata, lalu mendongakkan kepala dan menatap orang tersebut.

Shit. Orang itu.

"Hai," sapanya memecah keheningan. Gue mengerutkan dahi, lalu dia mengulurkan tangannya. "Alexa."

Gue menjabat tangannya yang terlalu halus. Menatap kuku-kukunya yang berbentuk lonjong rapih—dilapisi cat kuku. Gue heran, berapa jam dia menghabiskan waktunya hanya untuk merawat kuku yang bisa patah ketika mendribble bola.

She's definitely not a basketball player.

"Gak perlu ngasih tau gue siapa nama lo. Alex, kan?"

Gue sehentak mengangguk dan mengalihkan pandangan dari kukunya—ke wajahnya.

Like I said before, gue seperti bercermin. Kecuali, bibir yang kemerahan, rambut yang disisir rapi, bulu mata yang panjang, alis yang berbentuk, dan—ya those earrings. Selebihnya, bisa dibilang kita mirip.

"Lo ternyata pendiem ya? Setau gue lo rame." Tungkasnya sambil melirik gue dan tersenyum.

Gue mengangkat bahu. "Tergantung mood, kayaknya."

Alexa menganggukan kepalanya lalu suasana menjadi canggung. Entah kenapa kepala gue kosong dari bahan obrolan. Banyak yang ingin gue tanyakan. Mayoritas mengenai Adam, tentu saja. Tapi tidak satupun pertanyaan terucap kali ini. Lidah terasa kelu.

"Lo gak mau nanya apa kek gitu ke gue? Gue udah bela-belain bolos sekolah cuma buat ngobrol sama lo, udah sampe sini masa dikacangin?!"

Gue membelalak—"Hm.." Memaksakan diri untuk bicara dan mendapatkan topik pembicaraan kali ini sama sekali bukan keahlian gue.

"Gak nyamperin Adam?"

Alexa menggeleng. "Gue gak mau main api sama lo."

"Kok main api?"

"Nyamperin pacar orang tanpa tujuan. Jujur, gue belum siap di jambak ditengah keramaian cuma gara-gara itu."

Kami berdua tertawa. Entah kenapa wanita bertengkar identik dengan menjambak rambut. Mungkin hanya itu keahlian bela diri yang menyakitkan tanpa harus memiliki teknik untuk meninju dan sebagainya. Teknik dasarnya hanya menarik—sekuat-kuatnya.

"Sebenarnya gue bukan pacar Adam, mungkin lo salah informasi atau salah mengartikan. Tapi hubungan kita tidak se-serius itu," jelas gue diiringi tawa Alexa.

"Lex, jangan lo pikir gue bego ya."

Gue mengerutkan dahi.

"Gak ada teman yang bersedia ngabarin setiap saat, care setiap saat, dan seakan mati kalo gak ngobrol bareng."

Care setiap saat? He didn't.

Ngabarin setiap saat? Bulshit.

Seakan mati kalo gak ngobrol bareng? Pasti ada yang salah..

"Mungkin..."

"Seriously, I'm fine. Gue sebagai teman baik Adam mendukung," katanya lalu menelan ludah. "Meskipun gue agak jealous sih."

Gue tertawa disusul senyuman dibibirnya yang berwarna pink muda. Alexa tidak sesuai ekspektasi gue. Mungkin gue terlalu cemburu, sehingga berpikir yang tidak-tidak. Tetapi, dia menyenangkan.

Gue tersenyum, "tapi, cemburu sama gue itu salah, Lex. Gue bukan orang yang bisa lo cemburuin mengenai Adam. Mungkin bukan gue."

"Terus siapa?"

Gue menggeleng seraya memandang sekeliling lapangan dan terhenti dilorong sekolah yang berjarak jauh sekali dari tempat dimana gue dan Alexa duduk.

Tapi, dibalik pilar ketiga nampak Raldin yang berjalan cepat menutup mulut dengan tangannya. Keadaan mulai terlihat buruk ketika matanya terlihat sembab. Dia terlihat kacau.

Sebelum memalingkan pandangan, sosok Adam muncul dari balik pilar tersebut dan berlari menyusul Raldin,

Dan memeluknya.

-------
Author's POV

Maaf atas keterlambatan meng-update chapter terbaru, dikarenakan tugas yang gak sanggup digantikan.
Enjoy this one.

5 chapter left :)

Follow my instagram: terselamatkan
Have a good day.

Pragata Oragastra

ReboundTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang