[DILARANG PLAGIAT]
[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
⚠️Mengandung kekerasan dan 18+ harap bijak dalam memilih cerita/bacaan
Loora, gadis cantik dan mungil. Dia adalah salah satu penghuni panti asuhan cahaya. Dia dikenal karena seorang murid yang bisa bersek...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♪Happy Reading♪
BAB. 4
Pemakaman Fellia akan dilaksanakan pagi ini, itulah kabar yang diucapkan Theo. Loora merasa bersalah dengan apa yang menimpa Fellia, ini semua karena dirinya.
"Rain," panggil Theo.
"Aku pembunuh, ya?" tanya Loora dengan air mata yang menetes membasahi kedua pipinya.
Theo menggeleng pelan, segera menghapus air mata Loora. "Kamu bukan pembunuh! Ini semua udah takdir, Rain!"
"Kalau aja dia gak nolong aku, pasti dia—"
"Hei! Percaya sama aku, ini bukan salah kamu! Kamu dan dia kecelakaan, itu semua musibah. Fellia meninggal karena itu sudah takdirnya."
Theo mencoba menenangkan Loora yang terus menangisi kepergian Fellia. Loora kembali teringat, dirinya berhenti di tengah jalan karena penyakit sialan itu. Andai saja dirinya tidak kambuh pasti semua tidak akan seperti ini.
Setelah cukup lama terdiam, Loora akhirnya kembali berkata, "Theo, kenapa kamu pergi?" Gadis itu masih terisak dipelukan Theo.
Lidah Theo terasa keluh sekarang. "Maaf, Rain," ucapnya.
"Aku terpaksa pergi, tapi itu bukan kemauan aku. Maaf."
"Tapi kenapa saat kamu kembali, seolah-olah kamu gak kenal aku? Kamu jauhin aku tanpa alasan apa pun, kamu nggak tahu rasanya kayak apa! Aku harus jalani hari-hari aku tanpa kamu, aku harus hadapi semua tanpa kamu. Kamu lupa? Kamu pernah janji gak akan ninggalin aku. Kamu janji akan selalu sama-sama dan kamu pernah janji akan selalu di samping aku apa pun keadaannya. Tapi apa? Kamu pergi ninggalin luka yang mendalam di hati aku, Theo!"
"KAMU LUPA SAMA JANJI KAMU! KAMU INGKARIN SEMUA JANJI KAMU!"
"Aku sakit, Theo—"
"Rain," panggil Theo.
Tes
Darah kental kembali keluar dari hidung Loora dengan cepat gadis itu menghapus darah itu menggunakan tangan kanannya.
Theo terbelalak melihat hidung Loora mimisan, cowok itu meraih tisu di nakas lalu membersihkan darah itu.
"Kamu kenapa?" tanya Theo khawatir.
"Aku panggil dokter dulu." Ketika akan berdiri Loora melarangnya. "Jangan! Aku nggakkenapa-napa," ucap Loora.
"Bohong!"
"Kamu kira ini kali pertama aku lihat kamu mimisan? Enggak, Rain! Bahkan aku sering lihat kamu mimisan di sekolah. Jadi aku mohon sekarang kamu jangan bohong ke aku," ucap Theo.
"Aku kecapean, Theo. Kamu tahu sendiri, kan, aku harus kerja sepulang sekolah. Aku capek!" ujar Loora dengan makna mendalam pada dua kata terakhirnya.
"Beneran?" tanya Theo tidak yakin dan tidak mengerti kata-kata yang diucapkan gadis di depannya ini.