[DILARANG PLAGIAT]
[FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
⚠️Mengandung kekerasan dan 18+ harap bijak dalam memilih cerita/bacaan
Loora, gadis cantik dan mungil. Dia adalah salah satu penghuni panti asuhan cahaya. Dia dikenal karena seorang murid yang bisa bersek...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote🦢
. . . .
"Logatau, seberapa hancurnya hidup orang yang hampir lo bunuh itu."
~Nendra Varendra~
🫧
♪Happy Reading♪
BAB. 15
Hari semakin siang, matahari yang semula muncul dari timur sekarang sudah bertengger tepat berada di atas kepala.
Keluhan hawa panas sudah keluar dari beberapa mulut murid kelas X-Ipa2 yang sedang mengikuti jam pelajaran olahraga. Suara Pak Diko, seorang guru olahraga mengintrupsi mereka untuk mengikuti gerakan pemanasan.
Alih-alih mendengar perintah Pak Diko, atensi seluruh murid kelas sepuluh itu teralihkan karena mendengar suara teriakan yang sangat menggema dari atas rooftop gedung Ipa.
Beberapa siswi melotot kaget melihat seorang gadis berdiri di atas tembok pembatas rooftop. Bahkan gadis itu merentangkan kedua tangannya seakan-akan ingin menjatuhkan diri.
"LOORA!!"
Teriakan itu terdengar setelah gadis di atas sana terhuyung ke belakang. Namun dengan cepat sebuah tangan menggapai tangan kanan gadis itu.
Sebagian murid kelas sepuluh berteriak histeris termasuk Pak Diko. Mereka juga lega karena gadis itu bisa diselamatkan sebelum terjatuh dari lantai tiga gedung itu.
Brukkk
"Arkhhh." Bibir Alano merintih karena tubuhnya terjatuh dan tertindi tubuh mungil Loora.
Jantungnya berdetak tak karuan bahkan napasnya kali ini berhembus dua kali lebih cepat. Tidak bisa ia bayangkan jika Loora benar-benar terjatuh. Bukan karena ia takut disalahkan, tapi tiba-tiba ia teringat pesan Fellia sebelum meninggal untuk menjaga Loora.
Dengan tangan gemetar, Alano memegang bahu Loora berharap gadis itu cepat bangun dari posisinya. Tak ada respon dari gadis itu ketika ia menyentuh bahunya. Bahkan Alano menggoyang-goyangkan bahu Loora pun namun tetap sama gadis itu diam saja.
"Ra," panggil Alano pelan, tetapi tidak direspon.
"Bangun, Loora!"
Alano masih menggoyangkan bahu Loora bahkan menepuk beberapa kali. Semakin lama Alano menyadari jika ada yang tidak beres dengan gadis itu.